Miracle In Cell Number 2020

Saya rasa semua setuju bahwa 2020 adalah tahun yang banyak memenjarakan kita. Banyak hal yang berjalan diluar rencana terhalang besi bernama Covid-19.

Awal tahun 2020 dibuka oleh hujan deras, banjir besar, pemadaman listrik di seputaran Jakarta menjadi firasat tidak menyenangkan yang menandai masih banyak lagi kejutan setelahnya. Bahkan tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Tuhan kasih 3 bulan saja untuk kita merasa bebas, Maret menjadi awal kehidupan berubah. Benar-benar berubah.

Tapi, dibalik penjara Covid-19 ini keajaiban di hidup saya juga tidak sudah-sudahnya. Apalagi miracle bernama Alula yang hadir di tahun ini. Saya rasa dialah satu-satunya highlight di tahun 2020, bahkan di sepanjang hidup saya nantinya.

Tahun ini banyak merubah saya. Harus dirunut lagi ke awal tahun, untuk mencegah lupa…

Ada Rakor dan Gathering kantor lagi,

Setelah 2 tahun, akhirnya APP sepakat mengadakan Rakor dan Gathering lagi sekaligus menyambut Ulang Tahun kantor yang ke-8. Wah gila sih, artinya sudah 6 tahun juga saya kerja disini. Yang menegangkan adalah perjalanan mengemas acara ini di tengah hamil tua. Terasa sekali bedanya bergerak tanpa/dengan beban bayi di perut tidak bisa se-ligat- biasanya. Sampai pada akhirnya harus rela tidak ikut puncak acara karena di kehamilan 34 minggu saat itu orangtua, suami dan dokter tidak mengijinkan saya pergi, riskan sekali. Akhirnya acara tetap berjalan dengan kordinasi jarak jauh, liat puncak acara via Instagram. Alhamdulillah punya temen/sahabat/EO yang luar biasa kompak dan mau membantu. Im so blessed.

Miracle in Cell Number 2020,

Hidup saya tiba-tiba berubah. Sebelumnya saya menghabiskan hari hanya dengan bekerja dan berumahtangga, namun saat ini ada peran besar, berat dan luar biasa menyenangkan yaitu menjadi Ibu. Rangkaian hamil, melahirkan, menyusui, begadang, nangis, overwhelmed, bingung, dan banyak hal lain sungguh membuat saya banyak belajar dan bersyukur tanpa henti. Tidak terbayangkan bahwa saya bisa melewati masa-masa 3 bulan tanpa bantuan, full handle anak wedhok-ku sendirian. Belum lagi semua kegiatan yang serba terbatas di masa pandemi membuat saya tidak bisa memperbanyak kegiatan bersama bayik. Hikmahnya, Covid-19 dan kegiatan Work From Home memberikan keuntungan sendiri, karena saya punya kesempatan besar untuk bisa berlama-lama dengan bayik selepas cuti melahirkan selesai. Ah kalau soal ini banyak sekali yang harus disyukuri. Terima kasih Alula, kamu sudah membuat Mama lebih kuat, berani, dan bersyukur sama hidup. Terima kasih sudah hadir di tahu 2020 ini ya Nak. Penjara ini menjadi hal kecil dibandingkan kehadiran kamu ❤️

Tanah,

Waktu yang lebih banyak di rumah bersama suami membuat kami lebih banyak berduskusi tentang masa depan. Tidak hanya diskusi, berantemnya juga banyak, hehe. Sampai akhirnya kami sepakat untuk bisa membeli rumah. Selanjutnya pencaharian dimulai. Googling tanya sana-sini dan kami menemukan sepetak tanah di daerah Bampu Apus. Gak pakai lama, langsung kami survey lokasi dannnn jatuh cinta kemudian. Asri, akses mudah, dan banyak hal menguntungkan lainnya. Singkatnya, pengorbanan demi pengorbanan dilakukan untuk mendapatkan tanah tersebut sampai kata deal dari kami dan developer. Wah, excited. Sangat excited. Tidak sabar chapter pindah rumah menjadi tulisan di blog ini lain kali.

Syalala (Salad Sayur Ala Malula),

Keisengan membawa berkah. Kebiasaan makan salad setiap hari menjadi pintu rejeki baru. Di akhir tahub melahirkan produk Syalala. Yang pesen baru teman-teman seputaran kantor tapi Alhamdulillah sekali. Senangnya bukan main bisa menularkan jajan tapi sehat dan tentunya Cuan Cuan Cuan. Semoga di tahun 2021 bisa membuat Syalala lebih serius. Caiyo!

Covid-19 hit my family,

Gila, Corona tuh bikin saya gila sih. Yang tadinya cuma lihat kenaikan penderita di media mainstream maupun media sosial kemudian perlahan-lahan hadir di sekitar saya, mulai dari teman kantor sampai akhirnya keluarga sendiri. Awalnya Mbak Cita, terkonfirmasi positif pada akhir Oktober. Satu orang keluarga yang kena saja sudah bikin kami deg-degan. 3 minggu pemulihan Mbak Cita untuk kembali sembuh. Kemudian ngga lama, keluarga di rumah. 6 dari 13 orang yang ada di rumah positif Covid-19, termasuk Mbak Dian, mbak yang momong Alula. Wah stres banget, karena Alula jadi harus diswab juga. Walaupun sulit, kami harus bisa menaklukan dan melewati ini semua. Sampai hari ini, kami masih menunggu hasil dan kabar baik dari rumah. Semoga semua segera baik-baik saja.

Semua struggling, semua bertahan. Saya jauh harus lebih bersyukur karena Tuhan masih kasih saya keajaiban di tengah penjara beranamakan Covid-19 ini. Keluarga menjadi pawang untuk menenangkan hati. Suami menjadi satu-satunya pelukan untuk kembali merasakan nyaman kehidupan dan anak menjadi sumber kebahagiaan seutuhnya. Saya hanya berharap dunia cepat sembuh, agar kami dan terutama Alula bisa segera merasakan kembali kebaikan dunia.

Adaptasi

Salah satu kesamaan dari sekian buanyak perbedaan diantara kami adalah Tulus. Kami berdua sama-sama menyukai pelantun musik adem ini. Kemudian di masa-masa ini—-satu lagu tulus, Adaptasi mengartikan segala apa yang terjadi belakangan, 2 tahun kurang ini dengan atau tanpa pandemi.

Pernah, saya membayangkan apa jadinya tidak ada kamu, tidak ada anak saya. Membayangkannya saja sudah ngeri, yang tadinya ngambek langsung buru-buru meluruhkan emosi karena sebenarnya tidak ada yang lebih baik dari keadaan sekarang. Kamu, Alula dan proses serta adaptasi kita selama ini.

Ah, terlalu suka saya sama lirik dan lagunya. Sangat memanjakan hati.

Berdiam di dalam rumah ini denganmu
Dari malam hingga malam lagi

Terkungkung langkah ragu tak ke mana-mana
Dari Rabu hingga Rabu lagi

Semakin banyak waktu ‘tuk bicara
Semakin kupaham harapmu apa
Semakin banyak waktu ‘tuk bersama
Bersyukurku kau utuh jiwa raga’

Bila ini (belum ‘kan reda)
Tetap kita (saling menjaga)
Hari depan (tak ada yang tahu)
Hadirmu sangat berharga
Kuingin engkau tahu
Aku sayang kamu

Kita di bawah atap lindungan yang sama
Menunggu tenangnya langit pagi
Sadari indah kerut wajahmu yang baru
Tenteram setia mengawalmu

Semakin banyak waktu bersamamu
Semakin mahir kumenata rindu
Semakin banyak waktu di dekatmu
Semakin kupaham apa doamu

Alula dan Cerita Sunatnya

Akhirnya keputusan buat melakukan sunat untuk Alula tereksekusi juga dengan hati yang aman dan damai. Setelah 5 bulan mempertimbangkan ini dan mencari banyak literatur sana-sini, saya dan suami mantap untuk melakukan sunat untuk Alula. Saya ceritain ya…

Memang buanyak banget kontroversi soal perlu/engganya sunat yang dilakukan buat perempuan. Karena memang kebanyakan literatur tidak menyarankan dan tidak mendukung tindakan sunat untuk perempuan. Tapi kenapa Islam malah menganjurkan ya? Nah ada gap disini yang perlu kita cari tahu.

Jadi, kenapa sunat itu dilarang? Kita cari tahu dulu yuk definisi sunat. Menurut KBBI sunat memilili arti berpotong kulup; khitan; yang bisa diartikan sebagai tindakan memotong sebagian dari alat kelamin (pria) untuk tujuan kesehatan. Jadi ini dia yang mungkin disalahartikan oleh kita semua ketika sunat diberlakukan untuk perempuan. Ketika mendengar sunat perempuan kita pasti langsung relate ke tindakan memotong/menghilangkan dari alat kelamin perempuan. Duh! Apanya coba yang mau dipotong kan…

Memang benar, praktik sunat pada wanita dilakukan di sebagian negara seperti di Afrika. Disana, perempuan wajib disunat yaitu dengan memotong klitoris bahkan bagian lainnya hingga habis sehingga mengakibatkan wanita tidak akan dapat merasakan sensasi seksual apapun dan alat kelamin hanya berfungsi sebagai alat buang air kecil, menstruansi dan melahirkan. Hal ini dikenal dengan FGM atau Female Genital Mutilation. Wah ngeri ya. Nah pengertian sunat inilah yang dilarang oleh WHO dan berbagai institusi kesehatan lainnya seperti Kementerian Kesehatan di Indonesia.

Sedangkan sunat yang disunahkan dan dianjurkan oleh Islam adalah hanya dengan menggores kulit yang menutupi bagian depan klitoris tanpa melukai klitoris itu sendiri. Jadi teknisnya, dokter/bidan akan menggunakan jarum kecil steril sekali pakai untuk menggores bagian tersebut.

Kapan waktu yang tepat? Paling tepat sunat perempuan dilakukan saat masih bayi. Kenapa? Karena pada usia kurang dari 5 tahun anatomi klitoris masih sangat tipis dan belum banyak dilalui pembuluh darah serta saraf jadinya meminimalisir rasa sakit dan pendarahan. Dan perlu diingat bahwa tindakan sunat ini tidak akan mengubah apapun baik dari segi bentuk maupun fungsi, semuanya normal dan aman.

Terus kalau ada pertanyaan, jadi tujuan sunat perempuan apa? Buat apa kalau ternyata ngga memberikan manfaat apapun? Nah, ini bener-bener kembali ke keyakinan buibu semua. Secara pribadi saya dan suami percaya bahwa tidak ada yang tidak bermanfaat dari sunah yang dianjurkan oleh Islam apalagi sunat perempuan ini merupakan sunah mukrammah atau tindakan yang dimuliakan.

Alula sendiri sunat di rumah sakit. Berhubung memang ada kekhawatiran dari saya dan suami kalau sembarang sunat,  jadi kami memilih rumah sakit untuk sunat Alula dengan pertimbangan keamanan dan kebersihan. Selama Covid-19 kami memang selalu vaksin untuk Alula di RSIA Bunda Menteng karena concern sama protokoler kesehatannya yang baik dengan memisahkan poli anak sehat/sakit dan rutin konsultasi dengan dr. Yuli Yafri Razak, SpA. Waktu Alula vaksin di usia 4 bulan saya iseng tanya ke Opa (panggilan untuk pak dokter) terkait sunat perempuan, eh ndilala entah jodoh atau apa, bagai gayung bersambut Opa cerita bahwa beliau menerima sunat dan salah satu dari sedikit dokter yang masih menerima sunat perempuan. Saat itu Opa langsung menawarkan diri, tapi karena masih takut jadi saya tunda saat Alula datang untuk vaksin berikutnya di usia 5 bulan.

Jadi hari ini tadi, saya dan suami mantap melakukan sunat untuk Alula. Takut banget saya ngga tega kalau Alula sakit/nangis. Tapi ternyata memang bener-bener aman dan ngga menyeramkan sama sekali seperti yang saya pikir. Alula hanya diberi kasa betadine kemudian dokter menoreh bagian klitoris sedikit dengan jarum steril. Duh paling cuma 10 detik dan Alula ngga nangis sama sekali.

Sampai di rumah sekitar 1-2 jam dari proses sunat saya ganti pampers dan melihat bahwa tidak ada perubahan dan juga tidak ada pendarahan yang berarti. Hanya sedikit saja dan Alula tidak memberikan reaksi sakit atau rewel. Alhamdulillah. Lega rasanya…

Jadi buibu, saya garis bawahi lagi ya bahwa sunat perempuan yang disunahkan secara Islam melalui teknik menggores dengan sunat FGM melalui teknik memotong yang dilarang oleh WHO dan juga Kementerian Kesehatan sangat berbeda. Jadi sangat sah sah dan yang terpenting aman untuk dilakukan. Kenapa saya pede? karena saya juga generasi sunat dan alhamdulillah tidak memberikan efek apa-apa sampai saya dewasa. Tapi semua kembali lagi ke pilihan buibu semua ya, it’s your call.

Oh iya untuk meyakinkan buibu semua selain penjelasan dokter, berikut ini literatur yang saya jadikan dasar keputusan untuk menyunat Alula https://muslim.or.id/11314-polemik-khitan-wanita.html. Semoga berguna ya!

 

 

Anakku, Alula.

Sebulan lalu lebih dari rasa bahagia yang pernah ada di dunia. Saya berhasil telah melahirkan satu jiwa.

Menuju persalinan banyak ceritanya. Keinginan sangat tinggi untuk melahirkan normal tidak bisa diwujudkan karena usia kehamiln yang tergolong melebihi hari perkiraan lahir yaitu 41 minggu. Awalnya saya masih kekeh ingin induksi, apapun itu harus normal.

Dari usia 39 minggu, segala cara menuju persalinan normal sudah dijalani. Mulai dari jalan kaki hampir 2-3 km/hari, main gymball, jalan jongkok, induksi alami dan apapun itu, tapi belum juga ada tanda-tanda Alula ngajak ketemu. Tiap malam kerjaannya cuma gelisah, harapannya pengen ngerasain gelombang cinta tapi yang mampir cuma kontraksi palsu. Terulang sampai di usia 40 minggu dan lewat dari Hari Perkiraan Lahir (HPL).

Akhirnya minta saran sama dr. Nelson, dokter yang super baik, ramah, dan ngga bikin parno karena tiap ada keluhan ngga melulu nyuruh periksa ini itu tapi juga bukan dokter yang anggap enteng kesehatan. Beliau selalu memberi pandangan yang buat saya mudah diterima. Beliau memberikan opsi untuk menunggu kontraksi alami sampai tenggang waktu 41 minggu, atau induksi sebelumnya. Berhubung saat itu saya sangat optimis jadinya saya masih akan sabar menunggu sampai 41 minggu.

Memang sepertinya ini semua sudah jadi rencana-Nya. Alula masih betah di perut sampai usia 41 minggu. Karena tidak ada tanda persalinan sama sekali akhirnya dengan ikhlas dan lapang dada saya harus rela untuk ambil tindakan operasi caesar. Jujur, belum sepenuhnya ikhlas saat itu. Malam sebelum operasi saya nangis sambil sambil dihibur suami semua ini yang baik untuk Alula. Itu aja yang saya inget inget sampai hari operasi datang.

Tanggal 2 Maret 2020, tepat di usia kehamilan 41 minggu saya, Kemal dan Mama berangkat ke RS Columbia Asia. Rumah sakit ini jadi pilihan kami karena dr. Nelson praktek disana dan harganya yang memang sangat bersahabat juga hehe. Sebelumnya saya bikin appointment dulu sama dr. Nelson jadi saat datang ke UGD langsung dibawa ke ruang transit operasi. Deg-degan bukan main karena this is my very 1st experience dioperasi, bahkan diinfus. Saya menunggu di ruang transit sekitar 2-3 jam sampai akhirnya jam 13.30 saya dipanggil untuk dilakukan tindakan.

Tentu saja permintaan maaf dan mohon restu agar rangkaian operasi berjalan lancar saya pintakan ke orangtua, mertua dan tentu saja suami. Wah, gini rasanya mau operasi bener bener kaya di film itu (norak!). Ah, pasrah sajalah.

Masih ingat jelas dinginnya ruang operasi dan rasa sakitnya jarum yang ditusuk dokter anastesi sampai akhirnya kaki tidak terasa sama sekali. Kemudian suara dr. Nelson terdengar menyapa saya dan memastikan semua keadaan hingga operasi dimulai. Cepat sekali, para dokter menjelaskan bahwa proses pembedahan sedang dilakukan dan suara itu. Suara tangis kecil itu. Mashallah…

Apa ya rasanya, yang jelas sudah masa bodo dengan normal maupun caesar. Suara itu sudah terdengar, lebih dari cukup. Pertama kali yang saya ucapkan “sempurnakah dokter?” dan lega ketika dokter menghantarkan jiwa mungil itu ke dada saya sambil mengatakan bahwa semuanya sempurna tepat pukul 15.00. Ya ampun jiwa ini yang ada di kandungan selama 41 minggu, yang hanya kubayanngkan wajahnya tapi sekarang nyata. Cantik sekali, Alulaku.

Tidak lama, dokter membawa Alula ke ruang bayi untuk juga diperlihatkan kepada keluarga yang saya tahu benar menunggu dengan sabar di luar ruang operasi. Jam 17.00 saya keluar ruang operasi dan melihat wajah-wajah bahagia keluarga saya yang luar biasa kompak dan full support. Meskipun Alula bukan cucu pertama di kedua keluarga namun cintanya sama. Dua keluarga yang kasih dan perhatiannya tidak ada beda. Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah.

Satu yang paling manis, ketika semuanya sudah mulai kembali ke rumah lalu hanya ada saya dan Kemal. Dia menghampiri saya, mencium saya dan mengucapkan terima kasih “terima kasih ya udah ngelahirin Alula, aku seneng banget anakku cantik banget” katanya. Sederhana sekali untuk membuat seorang Ibu sangat bahagia. Terima kasih juga untuk kamu karena selama pasca operasi you’re my hero. Dukungan suami bener-bener sangat membantu saat post partum.

Hari ini, Alula menginjak usia 1 bulan. Masih panjang sekali perjalananmu nanti. Sesuai nama yang Mama dan Daddy kasih, Alula Inshirah Pasha. Anak perempuan pertama kami yang memberikan kebahagiaan, kamu pun harus bahagia.

Tidak hanya perjalananmu yang panjang, kamipun begitu. Perjuangan kami menjadi orangtua juga masih sangat panjang. Tentu saja kami ingin menjadi orangtua yang bisa mendidik Alula untuk jadi anak yang lebih baik dari kami. Pasti berat, jadi sama-sama belajar ya, seperti satu bulan ini kamu mengajarkan Mama untuk banyak banyak bersabar di tiap waktu begadang haha. Bahagia ya Anakku, Alula!

Tahun penuh “pertama kali”!

Momen ini sungguh dipersembahkan oleh keadaan bumil yang sulit tidur karena begah di usia kehamilan 32 minggu dan hujan lebat yang mengguyur sejak sore. Sedari tadi mengumpulkan energi untuk menulis ritual akhir tahun 2019 gagal malah karena ngantuk berat eh malah sekarang punya melek di waktu tidak terduga. Memang semua hal tidak bisa dipaksakan, salah satu yang menjadi pelajaran besar di tahun 2019 memang. So, let’s rewind my mind through 2019 and write it down…

Highlight di tahun ini adalah semua tentang perubahan besar-besaran dalam hidup yang menjadi titik awal dari kehidupan baru. Seperti judulnya, banyak sekali hal pertama di tahun ini.

Petualangan menuju kehidupan Rumah Tangga;

Lamaran, 19 Januari 2019 
Sungguh 2019 semua tentang penyatuan dua hati oleh Allah SWT. Diawali lamaran pada 19 Januari 2019 saat keluarga besar Kemal Pasha mengunjungi kampung halaman di Lampung. Luar biasa deg-degan karena selama ini hanya menjadi penonton di feed instagram saat teman maupun banyak orang yang menyajikan momen lamarannya, eh sekarang momen tersebut dialami di diri sendiri.

Dengan nuansa biru yang sangat lembut, Kemal Pasha datang dengan rombongan keluarga yang lumayan bikin kaget karena banyak sekali yang ikut merayakan niat baik penyatuan keluarga kami. Di nulla momen hangat tersebut Kemal Pasha menyatakan keinginannya untuk menikah di depan keluarga besar dan tentu saja disambut baik oleh kami. Menyenangkan sejadi-jadinya melihat keluarga besar kami kumpul dan saling mengenal. Momen ini menjadi awal dari silaturahim yang inshallah akan terus terjalin hingga nanti.

Pengajian, 17 Februari 2019
Satu minggu menuju pernikahan, keluarga di Lampung mengadakan acara pengajian. Sebuah momen dimana anak perempuan pamit dari keluarga terutama kedua orangtua untuk hidup mandiri bersama suami. Momen paling “males” karena sudah dapat dipastikan akan penuh tangis haru disini.


Di saat itu, harus sepenuhnya sadar bahwa nanti setelah akad nikah secara agama saya bukanlah lagi menjadi tanggung jawab Papa, tapi suami. Istilahnya Papa, terjadi pertukaran tongkat estafet. Tangis haru tentu saja pecah, paham sekali Papa dan Mama harus rela melepas anak gadisnya hidup sendiri menjadi istri dan ibu kelak. Perasaan campur aduk yang harus dilewati orangtua. Alhamdulillah acara berjalan lancar meskipun Papa gagal ngomong karena suaranya udah mulai bergetar akhirnya diserahkan ke Mama, hehe

Akad Nikah dan Resepsi, 24 Februari 2019
Akhirnya hari ini datang juga. Setelah melalui rangkaian prosesi dan perjuangan karena sesungguhnya menyatukan dua keluarga bukanlah hal praktis dan mudah untuk dilakukan. Untuk sampai di hari ini ada air mata, resah, gelisah, takut, panik dan hal lainnya yang sangat mendewasakan dan menguji kewarasan. Mulai dari perdebatan warna seragam, pemilihan kebaya, drama gedung dan katering, konfirmasi kehadiran keluarga, pengurusan akta nikah, rapat panitia dan sampai drama make-up H-1 jam acara dan semha hal yang butuh tenaga ekstra dan emosi yang naik turun. Sehingga cinta menjadi satu-satunya ramuan jitu untuk melumerkan semua rasa.

Sampailah kami di acara paling sakral dimana Allah SWT pun menghadirkan para malaikatNya untuk menjadi saksi atas pengucapan Ijab Kabul antara Kemal dan Papa. Subhanallah, duduk di meja akad menjadi momen yang tidak akan pernah terlupakan. Bersanding di sebelah Kemal Pasha, calon suami dan teman hidup. Menjadi perasaan campur aduk yang sulit digambarkan. Hingga akhirnya ijab kabul diucapkan dan semua yang hadir bersama mengucapkan hamdalah. Detik itu jugalah yang menjadi titik pergantian estafet atas diri saya dari Papa ke Kemal. Dari anak gadis ke istri seorang pria. Alhamdulillah…

DSC00257.jpgDSC00383

Di hari yang sama kami juga melangsungkan Resepsi Pernikahan dengan adat Palembang. Menarik, karena banyak hal yang baru. Saya sangat excited dengan adat Palembang karena mempela wanita diberi panggung untuk menari. Tarian itu disebut Tari Pagar Pengantin dimana secara simbois mempelai wanita berpamitan untuk kepada kedua orangtuanya untuk mengabdi kepada suami. Seru, banyak lupanya tapi biarlah yakin tidak ada yang tau, hehe

DSC00482

DSC00603.jpg

Alhamdulillah banyak sekali teman/saudara yang hadir bahkan melebihi ekspektasi kami. Oh begini rasanya berdiri salaman di pelaminan berjam-jam ditambah lagi harus selalu senyum tanpa henti. Apapun itu, bersyukur sekali udah ada di tahap ini, berdiri disini, mengenang perjalanan panjang menuju pelaminan yang penuh cerita dan mengakhirinya di sini. Resmilah 24 Februari 2019 saya menjadi seorang istri dari Kemal Pasha. Kadang masih suka ngga percaya sampai saat ini. Bismillah, kita mulai petualangan rumah tangga ini…

Masih konsisten, 1 tahun 1 negara!
Seperti tahun-tahun sebelumnya dimana punya cita-cita untuk bisa mengunjungi satu negara baru tiap tahun Alhamdulillah tahun ini juga terealisasi. Berkesempatan travelling ke Jepang untuk honeymoon sama suami (cie…) Lucu rasanya kali pertama pergi berduaan, semua serba berdua dan menyadari bahwa dialah yang akan menjadi apapun dalam hidup nanti.

Bukan tidak ada konflik, mulai dari pilih tempat untuk stay, tujuan lokasi sudah mulai jadi perdebatan. Tim Airbnb vs Hotel, hahaha. Hal-hal seperti inilah yang menjadi awal mula dimana kami harus lebih sering mengerti satu sama lain menekan ego dan mementingkan kepentingan cinta, hahaha…


Selama di Jepang kami menghabiskan waktu hanya di seputaran Osaka dan Kyoto. Saya juga menurunkan ekspektasi untuk tidak ngoyo dan santai. Afirmasi diri bahwa ini honeymoon bukan buka jastip atau travelling yang harus ke dateng ke semua destinasi. Tapi kayaknya harus balik lagi, gak afdol karena belum dateng ke Tokyo

5 Tahun di Angkasa Pura Property!
Masih setia bersama kantor yang menjadi sumber rejeki dan tempat belajar tanpa henti. Sama juga, masih di seputar kehumasan namun ada yang beda kali ini hadir atasan baru yang juga cepat sekali menghilang tepat di akhir tahun ini, Pak Juris Tobing. Lumayan banyak yang baru di tahun ini seperti akhirnya humas bisa melahirkan Portal Online, konsisten bikin konten Instagram, handel Survey Kepuasan Pelanggan dan hal-hal lainnya. Semoga tahun berikutnya masih bisa kasih banyak hal untuk kantor ini  ️

IMG_6117.jpg

Littlebird :3
Well, this is the most breathtaking moment for us. Empat bulan setelah menikah akhirnya Allah SWT memberikan hadiah yang luar biasa, kemunculan littlebird. Banyak cerita selama empat bulan menanti si penyebab perut buncit ini. Luar bisa salut sama kesabaran Kemal Pasha, si penyabar.

Dulu, saya selalu beranggapan kalau orang yang tersinggung ketika ditanya “Belum isi?” “Udah hamil belum?” “Makanya jangan keseringan olahraga” dan hal-hal lainnya adalah suatu hal yang berlebihan sampe akhirnya mengalami sendiri betapa sensitifnya kalau udah ada yang nanya soal kapan hamil. Akhirnya, stress deh! Marah-marah terus sama Kemal Pasha, bawel soal makanan mulai dari ngelarang Kemal banyak ngopilah, marah kalau dia makan chiki lah, ngambek kalau dia pulang malem lah dan drama kumbara lainnya. Maafin aku ya sayang hehe. Sampai akhirnya maksa untuk cek ke dokter Irham di RS Bunda Menteng. Si dokter cuma bilang semua baik aja kecuali pikiran negatif yang bikin kepikiran dan ngga rileks. Mulai saat itulah saya belajar bahwa semua ini hal yang tidak bisa saya kontrol. Percuma mau marah sama suami kalau memang belum dikasih ya pasti belum karena Allah paling tahu waktu yang tepat.

Sampai akhirnya pada tanggal 28 Juni 2019 ada perasaan aneh. Memang sih cuma telat 3 hari, tapi karena kepo banget akhirnya berani untuk beli testpack. Alhamdulillah ada dua garis meskipun masih tampak samar. Saat ini Kemal lagi dinas keluar kota, sengaja disimpen dulu kabar bahagianya sampai dia pulang. Saya tidak akan pernah lupa bagaimana ekspresinya ketika pulang dan melihat ada hasil testpack di meja kamar. Si penyabar dan penyayang ini lompat kegirangan. Lagi lagi, begini rasanya dapet hadiah terindah dari Allah.

WhatsApp Image 2020-01-02 at 16.03.36

Chapter kehamilan akan punya bab sendiri di blog ini. Tepat 32 minggu saat saya menulis ini. Alhamdulillah semua berjalan lancar tinggal menunggu hari kelahiran littlebird dan menyiapkan mental dan niat yang kuat untuk prosesi normal yang dicita-citakan. Semoga Allah tidak berhenti memberikan kebaikan untuk kami…

Apalagi?
Kiranya tahun ini memang semua tentang rumah tangga baru. Satu yang tidak pernah lupa untuk disyukuri adalah kehadiran Kemal Pasha. Pria yang tidak pernah diduga. Saat pacaran, sikap cuek, acuh, dingin menjadi hal yang takut saya hadapi. Berulang kali membatin “bisa ngga nanti berdamai dengan sikapnya itu?”

Namun pria ini memang luar biasa. Semua berbanding terbalik dengan dugaan setelah saya menikah. Tidak lepas dari kekurangan pastinya namun kesabarannya, kelembutan hatinya, kasihnya, perhatiannya meruntuhkan ekspektasi negatif yang selama ini saya buat sendiri. Saya percaya dalam rumah tangga tidak ada yang lebih dari yang lainnya, semua saling melengkapi. punya kekurangan, kelemahan, ketidaksempurnaan begitu juga dengan kami yang jauh dari sempurna.

DSC01158.JPG

Tahun pertama pernikahan bukan melulu serba tawa, banyak adaptasi yang disesuaikan setiap harinya. Kembali lagi, kami disatukan dengan restu orangtua, izin Allah SWT maka sebaik-baiknya pernikahan adalah kita yang selalu memperbaiki hubungan dengan Allah, memperbaiki diri sampai nanti ibadah ini akan mempertemukan kami lagi inshallah sampai di surgaNya…

Terima kasih sayang untuk tahun 2019 yang penuh dengan kamu. Jangan pernah menyerah untuk kita, untuk Littlebird, jangan absen peluk dan cium aku meskipun aku ambekin ya terus menerus di tahun berikutnya hingga semua berhenti…

Sudah Januari 2020. Semoga tahun ini menjadi tahun yang tidak kalah baiknya dengan tahun sebelumnya. Semoga kita semua selalu diberikan perlindungan, dihindarkan dari keburukan. Aamiin…

 

Postingan ini adalah postingan paling terlambat dari sejarah permenungan tiap akhir tahun, semua karena banjir jakarta yang mengakibatkan mati lampu 13 jam, no internet, signal susah. Well apapun itu, konsisten adalah koentji!

Nada

Untuk pagi penuh abu abu yang diselimuti biru
selalu ada rangkaian nada yang melekat pada sebuah rasa,

Masa,
peristiwa,
cerita,
tawa,
air mata,
jiwa-jiwa bernyawa.
asa yang hilang entah kemana,

selalu ada-ada saja nada nada kelu.
tidak juga pernah berhenti suara-suara merdu yang membawa kabur emosi.
entah nanti membawa lelap, senyap atau mengeruak hasrat yang ria.

Secukupnya

Kapan terakhir kali kamu dapat tertidur tenang? ~ renggang
Tak perlu memikirkan tentang apa yang akan datang
Di esok hari

Tubuh yang berpatah hati
Bergantung pada gaji
Berlomba jadi asri
Mengais validasi

Dan aku pun terhadir
Seakan paling mahir
Menenangkan dirimu
Yang merasa terpinggirkan dunia
Tak pernah adil
Kita semua gagal
Angkat minumanmu
Bersedih bersama-sama

Sia-sia ~ pada akhirnya
Putus asa ~ terekam pedih semua
Masalahnya ~ lebih dari yang
Secukupnya

Rekam gambar dirimu yang terabadikan bertahun silam

Putra-putri sakit hati
Ayah-ibu sendiri
Komitmen lama mati
Hubungan yang menyepi

Wisata masa lalu
Kau hanya merindu
Mencari pelarian
Dari pengabdian yang terbakar sirna
Mengapur berdebu
Kita semua gagal
Ambil s’dikit tisu
Bersedihlah secukupnya

Secukupnya ~ kan masih ada
Penggantinya ~ belum waktunya kau bisa
Menjawabnya
Secukupnya

mulai tadi malam hingga pagi ini,
tidak ada yang lebih bisa menggambarkan apa yang dirasa hati daripada
kumpulan kata dari lagu ini

Repetisi Biru

Biru ini sering datang tanpa tau waktu
Tiba-tiba saja, bisa disaat pagi dalam perjalanan menuju kantor
Bisa disaat malam sebelum tubuh bertemu lelap
Bisa disaat pekerjaan menumpuk
Dan saat-saat lainnya…

Kali ini dia datang lagi, menyerang kegelisahan atas capaian-capaian saya sampai detik ini. Yang menurut saya belum ada apa-apanya.
Menyentuh batas minimal saja tidakk
Tapi kalau kembali ke postingan di awal tahun, malu rasanya.

Kemudian saya menenggelamkan diri dalam lamunan tak berkesudahan. Merundungi diri sendiri. Dibuat lupa dengan bentuk mungil yang ada di perut saya. Huhu nangis jadinya.

Hey Baby,
Ngapain aja di dalem, Nak?

Maaf ya kadang mama suka galau sendirian, bingung, takut. Mungkin karena mama sekarang akan punya kamu, makin jadi deh perasaan ini. Siapkah mama? Ah dan pertanyaan random lainnya yang kadang bikin mama drowning to hesitation. But i know its ok, it will be okay.

4 bulan sudah kamu tinggal di perut mama. Doa mama cuma 1, sehat dan bahagialah kamu kelak. Kita hadapi bersama ya, Nak! Jangan biarkan Biru membentuk repetisi di tubuh kita 🤰🏻

Malas menulis harus dibayar tuntas!

Malunya setengah mati melihat wordpress kosong melompong dan komitmen yang dibiarkan bengong. Saya tidak boleh larut terus dalam keengganan untuk putar otak dan kembali mengulik kata, menyusun tutur dan membiarkan drama memainkan peran di panggung yang tepat.

Cukup, bahkan banyak momen penting yang belum saya abadikan dalam barisan paragraf yang seharusnya saya lakukan. Dimana hampir satu semester ini dunia saya setengah berubah drastis mulai dari status, alamat antar jemput Go-Jek, ruangan kantor dan sepasang mata yang menjadi pemandangan baru setiap pagi.

Satu satu,
perlahan pasti akan saya tuntaskan.

Kemarin dan kemarinnya lagi,
hati masih maju mundur mencari posisi yang tepat.

Harusnya saya malu (lagi) dengan status bio di instagram saya yang dengan, katakanlah jumawa, berani-beraninya merepresentasikan diri sebagai Happines Chaser. Khawatir terus, kapan bahagianya?

Teruntuk Suami, Kemal Pasha.
Tikanya akan kembali menulis,
kembali bernyanyi,
terus sabar dalam menanamkan cinta ya sampai akhirnya bahagia bukan sebatas kata, Quran jaminannya.