Konser lagi.

Dibilang musisi bukan apalagi pengamat musik. Tapi panggung musik buat saya istimewa, seperti ada rasa yang dialirkan dan sedemikian rupa bertransformasi menjadi energi untuk sukma. Hingar bingarnya, tepuk tangan penonton, teriakan para fans, gerakan tari, padu padan drum, bass, gitar, saxophone dan alat musik lainnya membaur satu. Lebih jauh lagi, saya menikmati betul barisan para music controller yang sibuk mengutak-atik sound di FOH, kameramen yang fokus mengambil sudut sempurna setiap performa, wira-wiri panitia dengan handie talkie di tangannya, sampai pedagang kaki lima yang biasanya menjual merchandise kw khas para artis panggung. Ah sebetulnya banyak lagi. Jadi bukan sekedar line-upnya, tapi setiap elemen yang melekat di dalamnya.

Kemarin, saya kembali menyambangi sebuah konser musik tahunan yang kali kedua hadir di Jakarta. Synchronize Fest. Rasanya haru biru, karena terakhir kali nonton konser musik hampir setahun lalu saat Coldplay tour ke Australia. Tidak berlebihan, mencari partner yang mau diajak berkeringat, berebut posisi, sing along dan joget saat musik bersautan itu sulit. Karena konser musik apalagi dengan konsep festival, sangat identik dengan ketidaknyamanan. Jadi seringkali keinginan untuk berkonser ditunda karena partner yang tidak tersedia. Tapi kemarin, sempurna.

IMG_4393[1]

Bersama seorang teman. Tadinya mau beramai-ramai. Cuma ya itu tadi, kemudian banyak yang mengurungkan niat di ujung waktu. Kami teramat sangat menikmati enam jam berkeringat di festival musik itu. Saya juga bukan penonton yang ngoyo harus berdiri di barisan terdepan. Prinsip saya, santai. Nikmati musiknya dengan hikmat meskipun dari jauh. Lagi-lagi. Bukan perkara siapa line-upnya tapi euforianya yang saya cari.

Bermodalkan rundown, kami mencari artis yang ingin kami nikmati. Akhirnya kami berdua memilih Endah n Rhesa, Payung Teduh, Naif, Basejam, Kla Project. Tidak puas kami juga bertandang ke panggung Koil dan Seringai.

Saya sangat terlarut. Dalam sekejap musik-musik yang bertebaran menarik jiwa ke alam senang. Pemandangan cinta ada dimana-mana. Sepasang kekasih yang bergandengan tangan, sekali saling tatap seakan setuju bahwa yang dinyanyikan adalah soundtrack kisah mereka. Belum lagi mereka yang mungkin tidak hafal dengan lirik lagunya sehingga tawa menjadi solusinya. Keluarga muda juga tidak ketinggalan, beberapa dari pengunjung membawa anak-anaknya seakan ingin memperkenalkan konser musik sejak dini. Nada-nada yang ramah di telinga memaksa badan untuk bergoyang mengikuti alunan. Suara pas-pasan bergaung keras di udara saat sang artis menyilakan penonton bernyanyi. Malam yang baik sekali.

Buat saya, konser dan festival musik adalah hal spiritual. Kontemplasi yang berisik. Momen dimana saya membantah kepercayaan Sujiwo Tejo yang mengatakan bahwa inspirasi didapat saat sepi. Disini saya merasa inspirasi beterbangan sampai bingung menangkapnya. Saya tidak tahu musik, bahkan untuk merasakan suara bass yang tipis dan mengikuti tempo drum juga keteteran, yang saya tahu dan pahami betul bahwa mereka yang di panggung dan semua di dalamnya memiliki kebahagiaan yang tidak terbantahkan. Ini masalah makna. Saya memaknai musik dan menghargai sepenuhnya.

Terima kasih bahagia, sudah mampir. Saya tahu kok ini juga sementara karena Senin akan datang seperti biasa. Lalu lalang manusia tidak lagi terhitung dalam tempo. Sebisa mungkin saya akan menjaga bahagia ini lama-lama.

Advertisements

Pulang kampung.

Bertahun yang lalu kamu pernah bilang, pulang kampung saatnya menabung silahturahim. Mengumpulkan pundi pundi restu dari mereka yang jauh setiap harinya. Menyambangi satu persatu teman, saudara dan memberikan waktu yang cukup untuk bertukar cerita dengan mereka, orangtua terutama.

Awalnya aku merasa terlalu berlebih. Bukankah pulang kampung menjadi saat yang tepat untuk kita berleha-leha. Istirahat dari hiruk pikuk sibuknya pekerjaan yang kita emban setiap hari, di Jakarta lagi. Pulang kampung artinya kita yang minta pelayanan dari orangtua, kapan lagi dimanja? 

Setelah bertahun yang lewat, mungkin aku baru menyadarinya sekarang. Ketika aku melihat betapa pentingnya waktu bersama mereka. Teman, saudara dan orangtua yang kutinggalkan saat merantau. Mereka yang membentuk masa laluku sedemikian indah dan sedikit banyak menyelipkan doa agar kepergianku merantau baik baik saja. Apalah salahnya mengorbankan waktu tidur, waktu bersantai untuk menyambangi mereka, bersenda gurau, bertukar cerita dan saling mendoakan. Tidak ada alasan malas menghabiskan waktu pulang kampung untuk itu semua.

Akhirnya, tiga hari yang ada kubagi rata untuk mereka. Mendatangi satu persatu, mendoakan mereka yang pernah satu-satunya ada pada masanya. Masa sulit yang perlahan telah berubah, termasuk mereka yang juga berubah, menjadi lebih baik tentu saja. Ya siapatau, doa dari orang orang baik akan menjadikanku sama baiknya. 

Cukup singkat.

Andara melepas jaket dan meletakkannya di pangkuan sambil mengemas barang-barang yang dibawanya. Tidak lama Bima muncul di hadapannya, duduk tetap mengenakan jaketnya.

“Nda, mau cari makan dulu nggak? Delay nih” Bima bertanya dengan wajah bersungut-sungut.
“Yah sesuai dugaan seperti biasa. Hhh…” Andara menegaskan kekesalan Bima.
“Kalau kamu nggak mau, aku cari makan dulu. Aku tinggal ya?”
“Hmmm…”
“Gimana?”
“Hmmmmmmmm…”
“Aku cari makan dulu deh ya, kamu tunggu sini.”

Bima kemudian meninggalkan Andara yang masih belum selesai memberikan jawaban. Andara berniat kesal dengan keputusan Bima meninggalkan dirinya sendirian di tengah puluhan penumpang yang berwajah lelah menunggu keberangkatan pesawat yang terlambat. Andara menghela nafas sambil meraih telepon genggamnya, menekan sepuluh deret angka yang ia hafal diluar kepala.

“Halo?” Suara yang selalu dirindukan Andara di seberang sana.
“Kamu udah denger lagu barunya Payung Teduh yang judulnya Akad belum?” Andara berbinar
“Udah dong”
“Aku lagi ketagihan, tiap hari ulang-ulang lagunya terus nih”
“Iya”
“Delay. Satu jam kayaknya”
“Masih kere, dinikmati aja kalau udah kaya naik Garuda terus ya”
“Aamiin..”
“Kali ini kenapa, Nda?”
“Nggak ada apa-apa. Cuma pengen didengerin aja.”
“Gitu ya?”
“Dam, udah ya. Take care”
“Iya, Nda. Kamu juga.”

Andara menutup pembicaraannya sambil melempar pandangan ke jendela kaca dan menyaksikan pesawat yang silih berganti berharap dapat menukar rasa kesalnya . Tidak lama Bima datang lagi ke hadapannya. Andara meluruhkan kesalnya mengganti dengan senyuman. Berpindah ke sebelah Bima, Andara meraih tangan Bima, namun bagi Bima telepon genggam lebih menarik dari tangan Andara.

Tahan Tertahan.

Susah ya jadi orang yang fakir diskusi. Segalanya terasa penting untuk dibicarakan, untuk didiskusikan, untuk menilik segalanya dari beragam perspektif. Akhirnya salah salah dianggap berlebihan dan dianggap kurang kerjaan ketika berbagai pertanyaan terlontar dari mulut saya untuk minta direspon atau tanggapan. Susah memang, diam jadi senjata terakhir menyiasati rasa ini.

Bukan salah siapa, memang saya saja yang ribet. Gimana enggak, rasanya pertanyaan -kenapa merah artinya berhenti, kuning artinya berhati-hati dan hijau artinya jalan- pun ingin saya tanyakan. Seringkali bukan mencari pembenaran, hanya saja diskusi itu asyik karena ternyata apa yang dipirkan orang itu sangat beragam, itu saja yang saya sukai.

Saya pun tidak bisa menebak atau mengerti apa mau saya sendiri ketika lawan bicara saya tidak merespon rasa penasaran saya terhadap sesuatu, ada rasa tidak terima. Tapi ini benar-benar bukan salah dia dan mereka. Kembali pada statement awal saya bahwa respon atau pemikiran setiap orang kan berbeda, termasuk yang menganggap rasa penasran saya itu adalah bodoh, tidak penting dan mungkin hanya menghabiskan waktu saja.

Bukan sekali, saya memilih bertanya dan berbicara pada diri sendiri dalam perjalanan. Menerawang ke lalu lalang jalan raya ketimbang mengutarakan isi hati saya. Gemas rasanya. Tidak berlebihan, saya hanya takut rasa ini terbunuh karena perasaan ini adalah yang saya miliki dan resapi sedari dulu hidup dan menyenangkan sejadi-jadinya. Tapi sepertinya memang saya harus mengerti bahwa saya tidak bisa memaksa kesukaan orang lain akan apa yang terjadi pada diri saya. Ini masalah saya dengan diri sendiri, dia dan mereka tidak sepatutnya ikut andil.

Banyak sekali cerita yang tertahan. Banyak sekali hasrat yang belum teralirkan. Ribuan kata yang terhenti di kerongkongan. Mungkin semua itu kalah dengan notifikasi whatsapp, feed instagram, berita online di detik.com, dan kesibukan maya lainnya. Ya mungkin memang cerita, pertanyaan ataupun rasa penasaran saya tidak semenarik itu untuk dia dan mereka. Bukan tema yang penting untuk dibicarakan dan dijadikan bahan lawakan maupun keintiman antar insan.

Boleh kan berandai-andai kalau saja tahan tertahan saya ini dapat dialirkan bersamaan saat tangan ini tergenggam, saat mata ini bersinar saling tatap, kepala ini bersandar di pundak, berjalan dalam gelak tawa saat menyusuri jalan, duduk berhadapan menyeruput dua cangkir kopi. Tanpa telepon genggam hanya tatap itu, senyum itu, rasa sayang itu. Agar saya bisa merasa bahwa cinta tidak melulu harus buta namun akan tumbuh seiring cerita.

Terbiasa

Kebiasaan, ya namanya juga kebiasaan pasti janggal kalau kemudian tidak dilakukan. Seperti ketika bangun tidur ada orang yang harus menegak air mineral atau mungkin ada yang “ngulet” dulu sebelum berangkat ke kamar mandi dan melanjutkan ritual paginya. Sehingga apabila ada satu kegiatan yang tidak dilakukan wajar jika dirasa kurang.

Secara psikologis dibutuhkan 21 hari untuk membentuk kebiasaan baru. Berarti sebaliknya juga, dibutuhan waktu yang sama untuk mengubah suatu kebiasaan. Dan menurut saya, lebih sulit mengubah daripada membentuk meskipun keduanya berujung pada suatu kebiasaan baru. Ya simpelnya, tidak ada orang yang bisa begitu saja legowo dengan yang namanya kehilangan.

Tulisan ini bukan tentang kehilangan, hanya saja kebiasaan lama terbesit dirindukan. Ada kalanya saya rindu dengan kebiasaan dua tahun lalu ketika setiap hari saya harus bangun pagi untuk mengejar kereta. Jalan kaki di sepanjang rel kereta, menikmati suara langkah kaki para pencari nafkah. Atau tiga tahun lalu ketika setiap hari harus terlebih dulu jalan kaki untuk naik angkot ke kantor. Kebiasaan itu lambat laun berubah.

Seperti tulisan saya yang sebelumnya, perubahan adalah satu hal yang tidak bisa dielakkan. Semua telah berubah tentu saja kebiasaan lama harus ditinggalkan agar segalanya menjadi lebih baik. Bahkan 21 hari pun hilang begitu saja terhapus waktu dan mulai membiasa.

Saya ingin memeluk waktu, mendendangkannya dengan nada-nada sumbang, pergi dan kemudian pulang lagi ke pelukannya. Memutar waktu sesuka hati sampai akhirnya lupa bahwa saya sudah ada di masa depan.

Terbesit, hanya sesekali saja. Sepatutnya tidak ada kebiasaan yang terus mengakar, hanya saja saya manusia yang masih terlalu takut untuk tegap melangkah maju. Mungkin karena belum terbiasa.