Bergulir pada dua hati.

Minggu pagi yang tidak akan pernah aku lupa. Suara tinggi di seberang telepon yang penuh amarah hingga tak satu kata pun mampu tercurah. Aku hanya bisa menjadi seperti biasa menangis penuh resah.

Kedua mata itu kemudian datang, menatapku lekat bersamaan dengan hangat kedua tangannya yang menggenggam erat seakan berkata tenang semua baik saja. Dia biarkan aku berurai tangis ketika kututup telepon genggamku. Memelukku sampai semuanya mereda.

Dia memberiku ruang. Ruang untuk menjadi diriku yang jauh sempurna.
Dia memberiku waktu. Waktu untuk menapak kembali pada nyata yang harus dihadapi.
Dia memberiku rasa. Rasa untuk percaya bahwa dia akan selalu ada.

Kusudahi sedu sedan itu dengan segera.
Kupeluk dia yang sedari tadi ada di depanku.

Setelah apa yang terjadi, hati ini telah berhenti berlabuh, kepada dia yang memberi yakin bahwa semua akan baik saja selama mata itu, tangan itu, dan hati itu selalu bersama dan tidak saling meninggalkan. Dunia akan selalu bergantian sesuka hati menjadi hitam dan putih, tak perdulilah kita tidak akan tertatih.

Selalu sama, doaku akan selalu sama. Segeralah dunia berporos pada kebaikan yang bergulir pada dua hati, yang tak mungkin kuat bila harus berdiri sendiri.

Advertisements

Kerudung.

Genap seminggu kerudung menempel di kepala saya, menutupi rambut pendek yang selama ini (sedikit) saya banggakan. Saya sudah memutuskan dan tidak ada kata kembali mulai hari itu.

Bukan satu atau dua yang bilang kalau belum waktunya saya berkerudung. Sebagian dari mereka adalah teman-teman dekat, justru yang terdekat. Tentu saja bikin ragu. Kadang mengenal diri sendiri pun saya belum mampu. Ketergantungan akan pendapat orang lain seringkali membuat saya ragu dalam mengambil banyak keputusan, termasuk keputusan untuk akhirnya berkerudung.

Beberapa hari sebelum saya berkerudung, saya diberi kesempatan untuk menjalankan Ibadah Umroh. Sedikit banyak perjalanan hati tersebut menjadi pertimbangan terbesar untuk keputusan berkerudung. Setelah rangkaian ibadah yang saya jalankan, salah satu momen yang menggetarkan adalah ketika ustad pimpinan rombongan menunjukkan hamparan Padang Arafah di sebelah kiri saya waktu itu. Sebuah gurun pasir yang sangat luas. Disebutkan bahwa pemandangan itu adalah miniatur Padang Mahsyar. Saya bergelinang air mata.

Sedekat itukah kematian di depan saya?
Siapkah apabila Allah panggil saya?
Memang bekal apa yang bisa saya bawa?
Kebaikan apa yang bisa saya banggakan untuk akhirat?

Banyak yang menghantui pikiran saya setelah hari itu. Darimana saya harus memperbaiki diri? Bingung untuk memulainya. Kewajiban, mulailah dari menjalankan kewajiban.

Seminggu di tanah suci, membuat saya terbiasa berpakaian serba tertutup. Orangtua berkali kali menyarankan agar saya terus menggunakan kerudung, saya masih ragu namun bukan berarti acuh. Banyak teman yang saya tanyakan pendapatnya. Sebagian besar mendukung meskipun ada juga yang menyarankan agar saya terlebih dahulu memantapkan hati dan mempertimbangkan matang-matang. Sampai akhirnya saat pulang dari Ibadah Umroh saya mencoba untuk terus berkerudung. Panas juga ternyata. Hehe.

Seorang yang terdekat saat itu, Hazmi, memberi banyak saran agar saya melanjutkan untuk berkerudung. Sederhana sekali, dia mengingatkan bahwa tidak ada yang pernah tau kapan Allah panggil kita. Saya kekeh ingin menunda dengan alasan belum punya modal (baju panjang, kerudung dan pritilan lainnya). Lagi-lagi dia meyakinkan bahwa selalu ada jalan menuju kebaikan. Saya pikir panjang lagi setelah itu. Hari itu adalah tiga hari sebelum saya masuk kantor setelah cuti hampir dua minggu.

Pagi, tanggal 12 Maret 2018 saya terbangun lebih pagi dari biasanya. Hati ini rasanya gelisah dan bimbang karena melihat sehelai kerudung dan kemeja putih yang sudah saya siapkan sedari malam. Menimbang betul niat bulat untuk berkerudung sambil scrolling pendapat orang-orang terdekat di whatsapp saya.

“Semua kegalauan cuma ada sebelum dan di hari pertama lo berhijab aja, setelahnya lo akan terbiasa” – Putri Cita

“Pake hijab kan bukan masalah siap engga siap, tapi kewajban!” – Velika Ayu

“Sesuatu yang baik itu jangan ditunda-tunda, karena kita ngga tau kapan kematian menjemput. Kalau saat itu datang maka pintu taubat tertutup” – Icha Meiliza

Dengan segala macam pertimbangan yang mawut, akhirnya saya beranikan diri untuk mantap berkerudung pagi itu. Mantap sekali. Bismillah…

Pada akhirnya tidak ada yang harus saya sesali sama sekali. Semua ikut berbahagia dengan penampilan baru saya. Seperti pepatah Budha “when the student is ready, the teacher will appear”, ketakutan saya karena merasa belum punya modal kerudung terjawab cepat. Banyak dari teman-teman dekat yang ikut mendukung dengan menghadiahi saya kerudung. Subhanallah, rasa syukur yang tidak terkira rasanya. Semoga kebaikan kalian selalu menjadi amal baik yang berkelanjutan ya.

No turning back. Inshallah saya mantap dan kerudung ini akan terus menutup kepala saya. Menjadi pengingat untuk menjadi manusia yang lebih baik, membantu saya untuk terus memantaskan diri, melindungi saya dan untuk meringankan langkah kedua orangtua saya. Aamiin…

Bunga Tidur – sebuah lagu di akhir Januari

Bekas gincu di sudut bibir kiri
Di depan cermin sabtu pagi
Aku tak tahu ini punya siapa

Cukup jauh dari mabuk rasanya
Untuk tak bermimpi entahlah
Ini pertanda apa

Sering malu karna sujud
Hanya bila tertekan duhai pria
Yang mengaku-ngaku dewasa

Kurun kebal membeku
Dididihkan pun tak mampu
Ini dia si jago pemalu

Bila kau pikir aku sekuat itu
Dua empat tujuh aku bahagia

Kau salah kawan,
Ku dilindungi dendangan.
Ini musikku dia pagar jarak pandangmu

Mustahil tak bercelah
Di depan cermin sabtu pagi
Aku bicara dengan pantulanku

Bunga tidur bisa membawamu terkubur
Jauh dari sekedar angka hantui pikiran

Kadang aku jatuh cinta
Kadang naik si pitam
Kadang gelap malam
Kadang semua tuli

Selama ku lihat engkau senang
Yang lainnya ku simpan sendiri

PS : kami berkendara di parkiran mall, tidak dinyana menjadi akhir.

Tahun 2017 yang sederhana.

Sederhana, buat saya tahun ini adalah sepanjang tahun yang sederhana bahkan terlalu mengalir. Saya pun dipaksa untuk mengalir mengikuti arus kemana tahun ini membawa.

Masih di Angkasa Pura Property.
Saya salah satu yang setia soal kerjaan apalagi kalau lingkungan sosial sudah mendukung, kadang zona nyaman jadi tantangan. Masih disini, tahun ketiga menjadi corporate communication. Awal tahun merencanakan gathering untuk ratusan karyawan, lumayan melelahkan. Kami juga pindah kantor. Ah iya, saya dan Yegar Adishakti menerbitkan APPDATE! Baru dua kali terbit sih, semoga akan selalu konsisten sebelumnya. How my job will be without you Mas Ye! Ada kesedihan juga ketika beberapa temen resign. Selalu begitu ada yang datang dan ada yang pergi bergiliran, Mas Anom, Mas Andi, Indah dan yang akan datang di awal Januari adalah kehilangan si Ompong Osi Febryan. But we deserve happiness. Kita lihat apa saya masih akan menulis judul yang sama di tahun depan?

Angkasa Pura Property Gathering 3 Maret 2017. Exhausted yet fun!
Masih bergumul dengan Exhibition

Satu negara baru lagi.
Semenjak tahun 2016 saya punya mimpi kecil-kecilan yaitu minimal bisa membawa saya diri sendiri ke negara baru di dunia. Akhir tahun lalu saya pergi ke Australia, tahun ini saya menginjakkan kaki di Korea Selatan, Seoul. Terasa sangat mudah karena Mbak Cita kerja disana jadi we just live like local. Mengunjungi dua keponakan saya yang banyak saya lewati pertumbuhannya. Andai-andai untuk sering main dan beli mainan sering tertunda karena jarak. Soal Seoul, saya tidak pernah merencanakan untuk jatuh cinta sama negara ini, namun realitanya saya dibikin cinta. Kali pertama melihat sakura. Indah sekali! Tahun depan, akan ada rencana untuk ke negara lain, bismillah semoga semua dilancarkan.

Workshop Gratis.
Malas adalah nama tengah saya. Seringkali cuma punya asa tanpa usaha. Jadilah saya cari cari kegiatan yang paling tidak bisa terkesan akademik di feed instagram saya. Ada dua seminar berkesan yang saya ikuti di tahun ini yaitu Creativepreuner dan CIFP 2017 (Conference on Indonesian Foreign Policy). Kalau ikut acara seminar seperti itu seringkali saya merasa kosong dan belum menghasilkan apa-apa. Itulah gunanya, untuk memotivasi, menjadikan hebat pada jalannya masing-masing tentu saja. Kalau kata Soekarno “Jangan tanyakan apa yang negara berikan padamu, tapi apa yang sudah kamu berikan untuk Negara?” Cukup bergelorakah? 😅

Creativepreuneur -lupa kapan-

Ngeduren dan Tantikashop.
Gak bisa dibohongi kalau saya suka sekali berniaga. Mulai bosan dengan kerja di kantor, saya mencoba kembali untuk berjualan Ngeduren dan membuka lini baru yaitu Tantikashop. Semuanya menyenangkan. Semoga bisa terus membuat saya hidup di tengah kehidupan ini ya.

Muhammad Kemal Pasha.
Yang terdekat belakangan. Semoga kebiasaan ngumpat kita berkurang di tahun depan ya, cause we deserve a happy life!

New Year Eve 2018

Personal Life.
Masih disuruh belajar. Ada yang datang kemudian pergi. Belajar memahami, meluaskan sabar, melebarkan ikhlas dan tulus, mendengar lebih banyak. Everythings depends on yourself. Semuanya bisa menjadi guru sekaligus murid. Fokus sama diri sendiri bukan juga egois, karena betul sekali tidak ada yang akan memikirkan kita kecuali kita sendiri.

Selamat tinggal 2017. 2018 should be better and happiness project will going through the year, i promise.

PS : ditulis saat menunggu sushi mentai di Bar Sushi Tei Lotte Kuningan. Considering about talk with stranger, right beside me 😂

Konser lagi.

Dibilang musisi bukan apalagi pengamat musik. Tapi panggung musik buat saya istimewa, seperti ada rasa yang dialirkan dan sedemikian rupa bertransformasi menjadi energi untuk sukma. Hingar bingarnya, tepuk tangan penonton, teriakan para fans, gerakan tari, padu padan drum, bass, gitar, saxophone dan alat musik lainnya membaur satu. Lebih jauh lagi, saya menikmati betul barisan para music controller yang sibuk mengutak-atik sound di FOH, kameramen yang fokus mengambil sudut sempurna setiap performa, wira-wiri panitia dengan handie talkie di tangannya, sampai pedagang kaki lima yang biasanya menjual merchandise kw khas para artis panggung. Ah sebetulnya banyak lagi. Jadi bukan sekedar line-upnya, tapi setiap elemen yang melekat di dalamnya.

Kemarin, saya kembali menyambangi sebuah konser musik tahunan yang kali kedua hadir di Jakarta. Synchronize Fest. Rasanya haru biru, karena terakhir kali nonton konser musik hampir setahun lalu saat Coldplay tour ke Australia. Tidak berlebihan, mencari partner yang mau diajak berkeringat, berebut posisi, sing along dan joget saat musik bersautan itu sulit. Karena konser musik apalagi dengan konsep festival, sangat identik dengan ketidaknyamanan. Jadi seringkali keinginan untuk berkonser ditunda karena partner yang tidak tersedia. Tapi kemarin, sempurna.

IMG_4393[1]

Bersama seorang teman. Tadinya mau beramai-ramai. Cuma ya itu tadi, kemudian banyak yang mengurungkan niat di ujung waktu. Kami teramat sangat menikmati enam jam berkeringat di festival musik itu. Saya juga bukan penonton yang ngoyo harus berdiri di barisan terdepan. Prinsip saya, santai. Nikmati musiknya dengan hikmat meskipun dari jauh. Lagi-lagi. Bukan perkara siapa line-upnya tapi euforianya yang saya cari.

Bermodalkan rundown, kami mencari artis yang ingin kami nikmati. Akhirnya kami berdua memilih Endah n Rhesa, Payung Teduh, Naif, Basejam, Kla Project. Tidak puas kami juga bertandang ke panggung Koil dan Seringai.

Saya sangat terlarut. Dalam sekejap musik-musik yang bertebaran menarik jiwa ke alam senang. Pemandangan cinta ada dimana-mana. Sepasang kekasih yang bergandengan tangan, sekali saling tatap seakan setuju bahwa yang dinyanyikan adalah soundtrack kisah mereka. Belum lagi mereka yang mungkin tidak hafal dengan lirik lagunya sehingga tawa menjadi solusinya. Keluarga muda juga tidak ketinggalan, beberapa dari pengunjung membawa anak-anaknya seakan ingin memperkenalkan konser musik sejak dini. Nada-nada yang ramah di telinga memaksa badan untuk bergoyang mengikuti alunan. Suara pas-pasan bergaung keras di udara saat sang artis menyilakan penonton bernyanyi. Malam yang baik sekali.

Buat saya, konser dan festival musik adalah hal spiritual. Kontemplasi yang berisik. Momen dimana saya membantah kepercayaan Sujiwo Tejo yang mengatakan bahwa inspirasi didapat saat sepi. Disini saya merasa inspirasi beterbangan sampai bingung menangkapnya. Saya tidak tahu musik, bahkan untuk merasakan suara bass yang tipis dan mengikuti tempo drum juga keteteran, yang saya tahu dan pahami betul bahwa mereka yang di panggung dan semua di dalamnya memiliki kebahagiaan yang tidak terbantahkan. Ini masalah makna. Saya memaknai musik dan menghargai sepenuhnya.

Terima kasih bahagia, sudah mampir. Saya tahu kok ini juga sementara karena Senin akan datang seperti biasa. Lalu lalang manusia tidak lagi terhitung dalam tempo. Sebisa mungkin saya akan menjaga bahagia ini lama-lama.

Pulang kampung.

Bertahun yang lalu kamu pernah bilang, pulang kampung saatnya menabung silahturahim. Mengumpulkan pundi pundi restu dari mereka yang jauh setiap harinya. Menyambangi satu persatu teman, saudara dan memberikan waktu yang cukup untuk bertukar cerita dengan mereka, orangtua terutama.

Awalnya aku merasa terlalu berlebih. Bukankah pulang kampung menjadi saat yang tepat untuk kita berleha-leha. Istirahat dari hiruk pikuk sibuknya pekerjaan yang kita emban setiap hari, di Jakarta lagi. Pulang kampung artinya kita yang minta pelayanan dari orangtua, kapan lagi dimanja? 

Setelah bertahun yang lewat, mungkin aku baru menyadarinya sekarang. Ketika aku melihat betapa pentingnya waktu bersama mereka. Teman, saudara dan orangtua yang kutinggalkan saat merantau. Mereka yang membentuk masa laluku sedemikian indah dan sedikit banyak menyelipkan doa agar kepergianku merantau baik baik saja. Apalah salahnya mengorbankan waktu tidur, waktu bersantai untuk menyambangi mereka, bersenda gurau, bertukar cerita dan saling mendoakan. Tidak ada alasan malas menghabiskan waktu pulang kampung untuk itu semua.

Akhirnya, tiga hari yang ada kubagi rata untuk mereka. Mendatangi satu persatu, mendoakan mereka yang pernah satu-satunya ada pada masanya. Masa sulit yang perlahan telah berubah, termasuk mereka yang juga berubah, menjadi lebih baik tentu saja. Ya siapatau, doa dari orang orang baik akan menjadikanku sama baiknya.