Terbiasa

Kebiasaan, ya namanya juga kebiasaan pasti janggal kalau kemudian tidak dilakukan. Seperti ketika bangun tidur ada orang yang harus menegak air mineral atau mungkin ada yang “ngulet” dulu sebelum berangkat ke kamar mandi dan melanjutkan ritual paginya. Sehingga apabila ada satu kegiatan yang tidak dilakukan wajar jika dirasa kurang.

Secara psikologis dibutuhkan 21 hari untuk membentuk kebiasaan baru. Berarti sebaliknya juga, dibutuhan waktu yang sama untuk mengubah suatu kebiasaan. Dan menurut saya, lebih sulit mengubah daripada membentuk meskipun keduanya berujung pada suatu kebiasaan baru. Ya simpelnya, tidak ada orang yang bisa begitu saja legowo dengan yang namanya kehilangan.

Tulisan ini bukan tentang kehilangan, hanya saja kebiasaan lama terbesit dirindukan. Ada kalanya saya rindu dengan kebiasaan dua tahun lalu ketika setiap hari saya harus bangun pagi untuk mengejar kereta. Jalan kaki di sepanjang rel kereta, menikmati suara langkah kaki para pencari nafkah. Atau tiga tahun lalu ketika setiap hari harus terlebih dulu jalan kaki untuk naik angkot ke kantor. Kebiasaan itu lambat laun berubah.

Seperti tulisan saya yang sebelumnya, perubahan adalah satu hal yang tidak bisa dielakkan. Semua telah berubah tentu saja kebiasaan lama harus ditinggalkan agar segalanya menjadi lebih baik. Bahkan 21 hari pun hilang begitu saja terhapus waktu dan mulai membiasa.

Saya ingin memeluk waktu, mendendangkannya dengan nada-nada sumbang, pergi dan kemudian pulang lagi ke pelukannya. Memutar waktu sesuka hati sampai akhirnya lupa bahwa saya sudah ada di masa depan.

Terbesit, hanya sesekali saja. Sepatutnya tidak ada kebiasaan yang terus mengakar, hanya saja saya manusia yang masih terlalu takut untuk tegap melangkah maju. Mungkin karena belum terbiasa.

Kembali Mencoba.

Banyak yang ditinggalkan, bukan karena lupa tapi semata karena perubahan adalah hal yang pasti dan tidak dapat dielakkan. Seperti halnya menulis. Mustahil rasanya kalau saya bosan berimajinasi dan menerjemahkannya dalam jahitan kalimat tapi itu nyata sekarang. Bingung mau menulis apa, berimajinasi apa, mengumpat apa. Apa iya memang saya yang sudah berubah?

Seperti yang saya bilang tadi, perubahan adalah hal yang pasti dan tidak dapat dielakkan. Dulu saya pernah bilang, saya benci sekali perubahan. Bahkan untuk hanya sekedar percaya bahwa teman di cubicle sebelah saya harus pindah tempat (bukan pindah kantor lho!) saja rasanya engga terima. Lebih parah lagi, memutuskan untuk merubah posisi bantex yang biasa saya letakkan di pojok meja sebelah kanan ke pojok sebelah kiri saja butuh waktu yang lama. Ya, sebesar itu rasa benci saya dengan perubahan. Padahal mantan dirut saya yang dulu pernah bilang, hanya perubahan yang abadi.

Kontemplasi.
Banyak hal baru yang coba saya selami saat ini, salah satunya sebuah hubungan. Menyadari bahwa Hirarki Maslow akan kebutuhan cinta saja tidak cukup, lebih kompleks lagi aktualisasi diri akan sebuah penerimaan adalah hal yang lebih dibutuhkan oleh manusia, juga saya. Ya, perlu perubahan yang besar untuk menerima bahwa drama sudah harus ditinggalkan, saatnya menapak bumi.

Setahun yang lalu dan sekarang adalah waktu yang singkat, namun 365 hari yang kita jalani setiap hari terus mendorong kita ke sebuah perubahan, semoga perubahan yang baik. Mungkin ada yang tahun lalu bermimpi untuk melanjutkan S2 terwujud tahun ini atau juga ada yang tahun lalu masih berstatus sebagai staf sudah sudah bisa jadi manajer. Ada yang akhirnya berani memutuskan diri pindah kantor setelah bergumul melawan comfort zone-nya bertahun-tahun. Saya? Mungkin masih belum nyata, tapi paling engga tahun ini menangis bukan jadi pilihan utama untuk melarikan diri. Overthinking perlahan pudar, tidak baik terlalu mengikuti rasa. Yang paling mengejutkan, tes 6 sifat dasar manusia menunjukkan bahwa sekarang saya berubah dari pribadi yang awalnya mengedepankan feeling menjadi seorang yang mulai berpikir logis. Kok bisa ya?

Semuanya bergerak, tidak boleh diam. Kalau mau berhenti, ya jalan di tempat saja lah. Semua harus dicoba, mau dan kembali mencoba.

You can’t stop me

You can’t stop me writing about you.
Every little things about you.

About how you talk.
About how you explain the world.
About how you breath.

About how you laugh.
About how you always make me staring at you.
About how you always make me kiss your arm.

About the fear.
About the change.
About the limit.

About the dream.
About the hope.
About the failure.

You can’t stop me writing about you.
Cause you’re the only reason why i still put my fingers on this paper.

Gombal Sinestesia

Hujan rintik membasahi aspal. Mereka akan melewati Jalan Surabaya di bilangan Menteng ketika lagu Efek Rumah Kaca memecah hening.

“Kamu tau gak apa arti Sinestesia?” Sheila memandang Raga sungguh-sungguh.

“Katanya sih album terakhirnya Efek Rumah Kaca.” ujar Raga tanpa ekspresi.

“Bukan itu konteksnya, Ga.”

“Terus, apa dong?”

“Ya apa dong?”

“Merah, Biru, Jingga, Hijau, Putih, Kuning?”

“Ah, kamu.”

“Kamu itu memenuhi semua kebutuhan panca inderaku. Itu Sinestesia versiku.”

Jalan Surabaya tiba tiba dipenuhi dengan daun gugur yang berjatuhan dari pohon jati pinggir jalan.

Bersama kita

Mencoba slalu temukan apa yang ingin kita cari
Dan tetap slalu bersama dalam berpikir dan menjalani
Semua cerita dalam setiap hidup takkan selamanya indah
Takkan selamanya buruk
Coba slalu hadapi

Disaat kau tak mampu hadapi semua
Dekapkan badanmu di dekat kita
Dan tak aka nada yang tak bisa kita hadapi

Mari bersama kita…
Hadapi dengan kita…

(Bersama Kita by Nosstress)

Terus sajalah.

Awalnya aku selalu memusingkan diri memikirkan kenapa masalah-masalah seperti ini selalu sama terjadi setiap hari, setiap minggu, setiap bulan sampai tidak terasa aku akan menginjak usia ke 26 tahun ini. Menangis? Jangan ditanya, mungkin aku sudah bisa membangun waduk air mataku sendiri.

Kalau mau bicara lelah dan kalau mereka gagal akan aku, akan kupilih kabur sebagai jalan keluar. Nyatanya? Terlintas pun tidak. Bagaimana bisa, sesungguhnya cinta ini tidak mengenal lelah. Hanya kali ini, aku tidak lagi punya air mata. Lantas itu pertanda apa?

Mulai terbiasa?
Bukankah itu hal yang perlu kamu kamu khawatirkan. Bagaimana jadinya kalau aku tidak lagi perduli dan memilih mengangguk saja ketimbang berbicara ataupun menangis? Bukankah kamu akan lebih puas apabila aku takut daripada aku tidak membalas pesanmu?

Tidak, aku hanya bercanda.
Dijamin tidak mungkin aku pergi. Aku tidak akan membiarkan diriku kehilangan sedetikpun aku memilikimu. Tak apalah kalau aku ikut gila, bukankah kamu bilang sendiri itu tidak enak dan sungguh tidak pantas kalau aku membayar segala tentangmu dengan langkah menjauh.

Teruslah lakukan yang ingin kamu lakukan, sampai nanti akhirnya kamu paham bahwa aku dan mereka adalah yang tidak akan pernah meninggalkanmu bahkan sampai kamu tidak sadar waktu akan segera habis menelan manusia.

Biasakan saja.

Menulis itu perkara kebiasaan, sama halnya dengan membiasakan diri untuk selalu rutin bangun pagi,
sama halnya dengan membiasakan diri untuk selalu merapikan tempat tidur,
sama halnya dengan membiasakan diri untuk selalu berdoa sebelum makan,
sama halnya dengan membiasakan diri untuk selalu mengucap “assalamualaikum” sebelum keluar rumah.

Menulis itu perkara menumpahkan isi hati.
Yang tersumbat harus dialirkan,
yang buntu harus dijebol paksa,
yang terlilit harus diurai,
yang terkunci harus diretaskan.

Menulis itu perkara semua yang kita tahu.
Bisa saja tentang jalan kolektor yang biasa dilewati saat kedua tangan sibuk bermain gitar melagu album Sheila On 7.
Bisa juga tentang Ketupat Tahu Magelang yang enak meskipun selalu kupesan tanpa tahu.
Atau mungkin tentang rindu yang entah datangnya darimana selalu memburu tidak pandang waktu.

Seorang bilang menulis itu bukan perkara tentang siapa.
Menulis itu tentang kamu dan dirimu sendiri.
Karena inspirasi tidak tunggal.
Usahlah ikuti hati.
Pasti lelah sendiri.

Menulislah.
Bunuh perasaan itu perlu.
Bunga-bunga perlu dijaga agar tidak merambat liar.

Menulislah.
Cuma itu yang kamu bisa.
Biasakan saja.