Terus sajalah.

Awalnya aku selalu memusingkan diri memikirkan kenapa masalah-masalah seperti ini selalu sama terjadi setiap hari, setiap minggu, setiap bulan sampai tidak terasa aku akan menginjak usia ke 26 tahun ini. Menangis? Jangan ditanya, mungkin aku sudah bisa membangun waduk air mataku sendiri.

Kalau mau bicara lelah dan kalau mereka gagal akan aku, akan kupilih kabur sebagai jalan keluar. Nyatanya? Terlintas pun tidak. Bagaimana bisa, sesungguhnya cinta ini tidak mengenal lelah. Hanya kali ini, aku tidak lagi punya air mata. Lantas itu pertanda apa?

Mulai terbiasa?
Bukankah itu hal yang perlu kamu kamu khawatirkan. Bagaimana jadinya kalau aku tidak lagi perduli dan memilih mengangguk saja ketimbang berbicara ataupun menangis? Bukankah kamu akan lebih puas apabila aku takut daripada aku tidak membalas pesanmu?

Tidak, aku hanya bercanda.
Dijamin tidak mungkin aku pergi. Aku tidak akan membiarkan diriku kehilangan sedetikpun aku memilikimu. Tak apalah kalau aku ikut gila, bukankah kamu bilang sendiri itu tidak enak dan sungguh tidak pantas kalau aku membayar segala tentangmu dengan langkah menjauh.

Teruslah lakukan yang ingin kamu lakukan, sampai nanti akhirnya kamu paham bahwa aku dan mereka adalah yang tidak akan pernah meninggalkanmu bahkan sampai kamu tidak sadar waktu akan segera habis menelan manusia.

Yang pertama kali

Beberapa hari lalu seorang teman mengupload foto dengan caption yang menarik sekali.

“Kapan terakhir kali kamu melakukan hal yang pertama kali?”

Sangat menggelisahkan, otak ini kemudian dipaksa untuk memikirkan jawaban dari pertanyaan tersebut. Susah sekali untuk dijawab. Gila, se-statis itu kah hidup belakangan ini?

Bangun, berangkat kerja, bertemu dengan teman-teman kantor, sesekali dipuji dan dimarahi bos, makan siang, kembali kerja, lembur, pulang, tidur dan begitu seterusnya. How come my life become so that boring?

Ini bukan berarti tidak bersyukur, cuma sepertinya sudah lama sekali badan ini tidak diajak berpetualang atau menikmati hal-hal yang belum pernah dilakukan sebelumnya, keluar dari zona itu-itu saja. Rasanya rindu sekali dengan masa pertukaran pelajar ketika petualangan tersebut menjadi serba pertama kali. Pertama kali aboard sendirian, pertama kali menginjak Eropa, pertama kali tersesat di Budapest, pertama kali datang dan amaze sama Auschwitz Birkenau, pertama kali perform tari Bali di depan puluhan pelajar asing dan pertama pertama kali yang lainnya. Sampe rasanya minder kalau harus menilik kembali foto-foto lama saat itu, entah kalau diulang apa iya masih berani.

Atau pengalaman pertama kali satu ruangan dengan banyak menteri di Indonesia, menjadi yang tampil untuk memberikan kenang-kenangan kepada Bapak Hatta Rajasa di depan media, keliling provinsi untuk meliput kegiatan menteri. Lumayan seru juga ternyata masa kerja di instansi pemerintahan.

Sampai lebih dari semester I tahun ini belum banyak pengalaman yang bisa dibanggakan atau menjadi point of the year. Banyak wishlist yang belum terwujud juga karena terlalu banyak pertimbangan yang akhirnya membuat banyak keinginan tertunda. Pengen skydive, bungee jumping, jalan ke Bromo, ke Malang dan tempat-tempat kece lainnya.

Tidak ada masalah sebenernya, tulisan ini hanya sebuah renungan yang datang dari kegelisahan. Harapannya sih bisa bikin jengah otak, hati dan pikiran untuk berpikir apalagi yang harus dilakukan agar bisa mencari pertama pertama yang lain. Jadi hidup tidak begitu-begitu saja.

Yang terlewati

Terlampau banyak momen yang lupa aku rekam dalam tulisan, tidak seperti biasanya. Terlalu malas, terlalu lelah, terlalu merasa sibuk dan diburu waktu sehingga enggan menyempatkan diri melakukan ritual menulis.

Biar aku ulas sedikit apa yang terjadi dari tulisan terakhirku di bulan Januari. Februari menjadi bulan yang penuh dengan kerjaan kantor. Spontan membuat acara ulang tahun kantor di luar dimana hal tersebut menjadi sejarah hasil sekongkol dengan bos yang kooperatif, menjadi penanggung jawab untuk Rakor dan Outbond tahunan yang melelahkan sekali, kemudian disusul dengan menghabiskan perjalanan dinas ke luar kota untuk peresmian sebuah proyek yang akhirnya selesai dan yang tidak kunjung selesai. I’m full. Selebihnya urusan kantor menjadi rutinitas biasa kecuali salah satu proyek yang sampai saat ini tidak jelas statusnya masih misteri…

Aku melewatkan ulang tahunku.

Usia ke 25 ini berlalu bersama teman-teman terkasih dan masih menjadi kasih. Biasanya aku tidak pernah absen untuk menuliskan apa yang terjadi di malam pergantian usiaku, kali ini aku luput. Singkatnya, aku adalah perempuan beruntung yang dikelilingi sahabat dan kasih terbaik, tidak pernah menyurutkan perhatian untukku.

Usia 25 entah akan menjadi awal seperti apa dan perjalanan seperti apa. Gusti Allah yang punya cerita, aku melakoninya saja dengan maksimal, yang jelas patah semangat bukan pilihan dan meratapi sedih bukan satu-satunya jalan. Banyak yang terjadi setelah pergantian usia itu datang, sepertinya akan kutulis perlahan…

Pelan saja…

Belajar dewasa sepanjang 2015

Kayaknya baru kemarin cerita ngalor ngidul tentang tahun 2014 yang membawa banyak kejutan, eh sekarang udah harus menceritakan kembali apa yang terjadi di tahun 2015 dan sangat terlambat memang. Ya, sebaiknya 2016 usahlah datang tapi apa daya aku juga bukan Bruce Almighty yang dikasih kekuasaan oleh Tuhan untuk seenaknya mengatur dunia.

Sebelumnya, kata maaf aku sampaikan untuk diri sendiri karena kali ini konsistensi menulis sebelum akhir tahun gak bisa dipenuhi, alhasil 12 hari setelah kembang api pergantian tahun jari-jari ini baru bisa diajak bersemangat untuk menulis. Here we go, mari putar ulang!

Tahun ini punya tema besar, yaitu belajar dewasa.

Dibalik status “karyawan”

Disini, di tempat kerja yang sekarang aku mulai memahami bahwa bekerja bukanlah tentang siapa yang pintar siapa yang bodoh, tapi tentang siapa yang mau belajar. Belajar bagaimana membedakan emosional dan profesionalisme, belajar menerapkan strategi komunikasi organisasi yang sebenar-benarnya, belajar mengubah keluh menjadi syukur, belajar mengendarai ambisi dengan imbang, belajar inisiatif, belajar mencintai sesuatu dengan sepenuh hati agar nantinya hati tidak dikecewakan ekspektasi, dan yang paling penting belajar bahwa bekerja gak melulu tentang rupiah. Kegalauan akan rupiah yang sepertinya gak kunjung menggunung bukannya gak pernah menjadi momok, tapi ternyata fokus kepada diri sendiri dan konsistensi dalam belajar lebih penting. Fokus dengan presentasi-presentasi direksi yang berulang-ulang minta direvisi, fokus dengan event-event kantor yang gak pernah diduga kapan, fokus dengan mengembangkan diri nekat jadi MC dadakan di beberapa event kantor, fokus dengan kesiapan diri bertemu dengan orang-orang baru di lingkungan kantor, fokus dan fokus. Akan selalu ada hasil dibalik sebuah kebaikan termasuk dibalik status “karyawan”.

c07cd-img_1266
Melaspas General Aviation Terminal di Bali, 10 Februari 2015  

Kehilangan teman,
Bukan makna yang sebenarnya, agak distorsi. Salah satu sahabat baik yang tadinya bekerja di lingkup kantor yang sama mulai menemukan titik terang, dia menemukan pekerjaan yang lama menjadi impiannya. Belum sepenuhnya menjawab cita-citanya, tapi paling gak dia sudah mulai berjalan maju. Jujur perasaan gak enak sempat menyelimuti, gelisah karena punya perasaan “ditinggal”. Tapi balik lagi kepada paham bahwa setiap insan di dunia ini gak satupun yang luput dari cerita yang sudah diciptakan Tuhan, punya jalan masing-masing. Begitu juga dengan aku nantinya. Aamiin.

2 kilometers a week,
Tahun 2015 adalah tahun rajin lari. Paling gak seminggu sekali diusahakan untuk lari sekedar mengejar 2 kilometer. Gak bikin kurus juga, tapi semoga bikin sehat.

Pengalaman (orang lain) adalah guru terbaik, 
Buku tulis Sinar Dunia mengenalkan kita dengan motto “Experience is the best teacher”, eh tapi bener loh. Banyak pengalaman yang aku petik dari peristiwa-peristiwa yang terjadi sepanjang tahun 2015, sedikit pahit banyak manisnya. Pengalaman yang membuatku belajar bahwa menerima itu tidak semudah menghapus air mata, belajar bahwa ekspektasi tinggi benar-benar dapat menjadi racun hati, belajar bahwa akhirnya yang terbaik yang bertahan di sisi. Tuhan sungguh menguji segalanya di tahun ini, kesabaran entah sudah dimana ujungnya dan menangis pun tidak mampu menerjemahkan sakitnya ulu hati.

Bukan cuma pengalaman pribadi, ternyata gak perlu mengalami sebuah peristiwa terlebih dahulu untuk belajar, pengalaman orang lain pun bisa menjadi guru dan bahan pelajaran yang baik. Bertemu kembali dengan beberapa teman di tahun 2015 memaksaku untuk belajar dari cerita pengalaman mereka di berbagai lini kehidupan mulai dari pekerjaan, pernikahan teman, hingga drama romantika percintaan. Aku membiarkan telingaku menjadi pendengar terbaik.Hingga pada akhirnya cerita-cerita mereka dapat kuubah menjadi inspirasi sekaligus pelajaran. Bahkan kisah drama romantika dua sahabat di kantor membuatku membuka mata untuk memperbaiki diri dalam bersikap, dalam memutuskan sesuatu. Terima kasih ya kalian yang sudah mau aku temui dan yang sudah wira wiri sebentar atau lama, semoga kita semua bahagia.

Reka Icha Reka Icha Reka Icha,

Dua nama yang gak pernah luput dari kehidupan sehari-hari, dua nama yang selalu bikin capek hati, dua nama yang sekaligus bikin hari-hari di kantor gak monoton, dua nama yang gak pernah capek dengerin kegalauan dan berlembar-lembar cerita keluh kesah hati, dua nama yang jago banget bikin skenario drama yang lebih dramatis dari kisah drama turki. For what we’ve been through, you guys are my best friends, Jepit Scorpion is one of my history. Selamat berbahagia buat kita semua ya gais!

a35cb-img_1092
Jepit Scorpion…

Akhtar lahir,
Menjadi tante adalah hal yang menyenangkan, ditambah kedatangan makhluk kecil satu lagi dari kakak perempuan kesayangan. Akhtar. Semoga sehat ya, Nak!

Overall,
Banyak hal yang membuatku berkesimpulan bahwa 2015 adalah salah satu tahun yang memaksaku belajar dewasa yang erat hubungannya dengan menerima dan bersyukur. Yakinlah, kebaikan gak pernah kenal ujung pasti akan mengalir seperti yang pasti akan terjadi di tahun 2016. Aamiin!

Dua orang itu

“Sebutkan berapa orang sahabatmu di dunia ini?”
“hmmm, lima”
“yakin?”
“eh, empat deh”
“bener?”
“bentar, bentar. tiga deh kayaknya”
“iya tiga. Dini, Icha, dan Reka”

Sebuah pertanyaan dari diriku sendiri melayang-layang di atas kepala. Tepat lima menit lalu pukul 21.25 malam di meja kantor sembari menunggu attachments yang belum juga selesai diupload.

Mungkin bisa saja aku salah dan terlalu cepat menyimpulkannya, tapi aku rasa mereka bertigalah yang benar-benar aku sayangi dan beri perhatian. Sebagai perempuan yang tidak suka memiliki banyak teman, aku lebih memilih dekat dengan satu dua dan tiga orang yang mau mengerti dan saling mengenal lebih dalam daripada hanya sekedar bertegur sapa, kumpul, lalu… no moments left behind.

Dini, sudah sangat tidak asing. Entah berapa kali aku menyebutkan namanya di beberapa tulisan. Ya, jelas sekali dia teman terbaik selama ini.

Icha dan Reka.

Mereka berdua adalah teman yang belum lama hadir di hidupku, kalau benar mungkin aku mengenal mereka sekitar enam belas bulan, tapi terasa seperti sudah lama sekali, ya mungkin karena kami sekantor dan bertemu hampir setiap hari melebihi intensitas pertemuan aku dengan orangtua.

Terlebih dari drama romantika yang aku saksikan, rasa sayang ini terlalu besar. Ya, aku memang sangat mudah terlarut emosi.

Menjadi sahabat keduanya (semoga mereka juga menganggap aku sama) adalah hal indah sekaligus memuakkan. Berdiri di tengah dua manusia yang tidak pernah berhenti bertengkar setiap saat, keras kepala dan saling menyalahkan adalah sebagian kecil warna dari rantai pertemanan ini. Selebihnya, aku tidak pernah sekalipun keberatan untuk menjadi penonton setia.

Entah menuju kemana tulisan ini,

Aku hanya ingin mengutarakan perasaaan sayang kepada mereka. Betapa bersyukurnya aku bisa bekerja sekaligus memiliki teman sebaik kedua orang di atas. Yang tidak pernah berhenti mengingatkan ketika kesalahan menjemput dan juga tidak lupa memberi sanjungan ketika badanku mulai terlihat kurus. Meskipun memang gak pernah juga sih.

Akan aku tuliskan beberapa kenangan bodoh bersama dua orang ini yang pasti akan aku rindukan entah kapan.

Kami pernah makan malam bersama di Taman Menteng di hari ulang tahunku. Sangat sederhana. Namun nyamannya berada di antara dua orang yang menghargai keberadaanmu adalah anugerah.

Reka pernah bilang aku gendut. Terus aku berlari menangis ke pantry. Bersumpah tidak mau makan sampai berat badan turun. Icha datang untuk membujuk. Ikutan sebel juga sama dia karena aku melihatnya tertawa saat Reka bilang aku gendut.

Kami beberapa kali menghabiskan waktu olahraga bersama. Jogging, badminton, stretching ala-ala di gym.

Part yang paling aku suka, memergoki kesalahan Icha yang selalu – hampir – sering salah dalam menyebutkan banyak hal. Seperti exhaust – hexos, basarnas – bazarnas, OXL – OLX, Marugame – Magurame, dan sangat banyak lainnya…

Kami sering sekali hampir setiap hari makan siang bertiga. Adung, Aming, Warung Pojok, Bebek Ganio dan hampir seluruh warteg di sekitaran Kemayoran. Oh iya, jangan lupa Ciganea. Yang bikin aku miskin dalam hitungan kurang dari satu jam.

Dua-duanya pernah menangis di depan aku, untuk beberapa drama percintaan yang tidak kunjung berakhir. Gak punya pilihan pura-pura gak denger. Kadang terpaksa…

Mereka berdua suka sekali bersikap manis. Mulai dari nraktir Yakult, beliin makan kalo aku sedang lembur, dibantuin bikin presentasi (ini Reka, Icha megangin proyektor) dan mempersilahkan aku untuk makan makanan mereka. Baik ya.
Terlalu banyak kenangan baik bareng mereka.

Aku cuma takut satu hal.

Aku takut ini semua hanya sementara. Karena rasa sayang ini ingin sekali aku jaga selamanya. Sampai masing-masing dari kami menemukan bahagianya. Semoga Tuhan selalu baik dan tidak kejam untuk memisahkan persahabatan aku dengan mereka.

Attachments sudah rampung.

Mari kita pulang…

 

Tulisan yang terlambat untuk usia Dua Puluh Empat.

Lagi. Ulang tahun lagi.
Kali ini yang ke dua puluh empat tahun.
Selalu ada cerita di balik pergantian usia, kali ini masih sama indahnya dengan usia-usia sebelumnya dimana keluarga, teman, sahabat dan orang orang terkasih terus memberikan doa-doa manis yang bertaburan.

Cerita dikit ah…

Ternyata semakin bertambahnya usia, ekspektasi akan adanya berbagai surprise sudah mulai berkurang. Jadi gak ada lagi tuh yang namanya berharap bakal ada yang dateng tengah malem bawain kue atau kejadian – kejadian ekstrem lainnya kayak kuliah dulu. Well then…

Tepat di tanggal 7 April pukul 00.00 ada tiga manusia gak diundang dateng ke kosan sambil membawa bunga dan chocolate cake. Ketawa-ketawa sambil sibuk ngidupin lilin yang belum sempet disulut api. Mereka adalah Made Bhela Sanji Buana, Dini Arista Mardiani dan Mbak Icha Meiliza. Kehadiran ketiganya menjadi awal sempurna dari usia baruku. Ya, mereka yang berusaha mengarungi macet dan hiruk pikuk ibukota dari tiga tempat berbeda. Made Bhela yang rela macet-macetan jalan dari Jakarta Selatan, Dini yang juga ikutan sibuk menempuh jalan dari Gatot Subroto dan si rempong Mbak Icha yang gesit melejit dari Bandara Soekarno Hatta harus rela makin capek buat nyiapin surprise sederhana ini. 


—- ada doa dari sudut hati untuk mereka yang lebih dari baik selama ini —-


Bunga, Chocolate Cake dan satu kotak hadiah. Semuanya disusun rapi oleh mereka, terspesial yang di inisiasi oleh Made Bhela. Aku gak pernah menyangka kalau akhirnya impian untuk dikasih surprise kecil kayak gini masih akan terjadi di usia dewasa ini. Terima kasih ya, kamu! Terima kasih dan hanya doa yang bisa layangkan untuk ketulusanmu…

Di kantor,
Ucapan datang bertubi-tubi dari teman-teman yang harus terpaksa ingat dengan ulang tahunku, semoga doanya juga bukan paksaan hehehe. Oh iya, siapa sangka Direktur Utama yang baik hati Pak Mangku kasih rejeki uang Rp 500.000,- yang akhirnya berubah jadi empat loyang pizza untuk dimakan bareng temen-temen kantor. Alhamdulillah!

Ah, ada yang lucu dan juga gak terduga.
Salah satu senior di kantor Pak Helmy yang biasa kami panggil ustad karena wibawa dan aksen arabnya itu tiba-tiba mengeluarkan kertas berisikan doa untuk ulang tahunku.

Inshallah doanya bisa saya wujudkan ya, Pak!


To be truth, ulang tahun selalu identik sekali dengan pergantian usia yang kemudian dikorelasikan dengan kedewasaan. Sejujurnya tidak juga bisa kuelakkan, akupun berdoa dan meminta juga berharap pada diriku sendiri semoga di usia yang semakin matang ini aku bisa selalu berguna bagi mereka yang selalu baik. 

Doa lain yang juga ingin sekali aku wujudkan di balik usia dua puluh empat ini. Cinta dan cita yang ingin sekali aku gapai. Doa ini selalu bertebaran di beberapa usia usiaku sebelumnya, namun kali ini aku ingin meraih keduanya. Cinta yang aku harap selalu memercikan keindahannya dan cita yang semakin terang di depan nanti.

Terima kasih, Tuhan untuk usia baru ini 🙂

Dikunjungi Teman

Beberapa hari yang lalu teman lama sekaligus teman baru datang ke Jakarta untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang harus diselesaikan, katanya. Tiga teman ini adalah mereka para entrepreneur muda di Jogja. Ah berkali kali harus salut sama perjuangan mereka yang aku yakini gak semulus para pencari kerja *tunjuk diri sendiri*

Sebagai orang yang sebenernya males banget diajakin ketemuan apalagi ketika tenaga udah exhausted karena lembur malam itu, rugi rasanya kalau kesempatan ngobrol sama tamu tamu Jogja ini dibiarkan lewat begitu aja. Jadilah kami bertemu di McD Salemba.

Mas Arief, Mas Manda dan Mas Genta.
It’s been long time setelah pertemuan yang gak sengaja di Bandung sekitar bulan Juni 2014 lalu, ternyata banyak banget hal yang berubah dari banyak aspek, mulai dari kehidupan ya tentu aja cinta juga hihihihi. well but that’s not the focus.

Sebenarnya mungkin ini pertemuan biasa untuk mereka, tapi entah buatku ini kayak recharge energi positif dalam diri. Sejujurnya bekerja di ibukota hampir menguras pikiran-pikiran postif yang harusnya dikembangbiakkan. Ya, kami banyak sekali bercerita, yang paling aku suka adalah racauan tentang usaha dan bisnis yang mereka jalani,

Siapa yang nyangka kalau ternyata hobi yang selama ini Mas Arief lakukan bisa berujung jadi bisnis yang menyenangkan. Awalnya cuma sering iseng upload berbagai kuliner di Jogja akhirnya sekarang akun instagramnya bisa menjadi “7 akun Instagram Kuliner Populer di Indonesia” versi techinasia. Seru ya.

Instagram @kulineryogya


Nah sebelumnya dan sampai saat ini Mas Arief memang udah punya bisnis yang sama di bidang kuliner yaitu Buryam Djuragan bareng sahabatnya Mas Mampul. Ya kayaknya gampang, cuma bubur ayam kan kesannya, tapi ternyata dengerin prosesnya selama ini juga gak gampang. Makanya kenapa aku sendiri harus mengaku salut sama mereka. 

Another story, Mas Genta.
It was my first time met him, karena sebelumnya belum pernah kenal di Jogja. Mungkin karena umur terlalu jauh kali ya *ampun*
So glad to knew him as entrepreuner too. Mas Genta ternyata punya konsultan bisnis “Eureka Consultant” yang udah lumayan punya pengalaman di Jogja. Dan baru sadar kalau ternyata teman-teman kuliah seangkatan komunikasi UGM banyak yang ikut gabung untuk develop Eureka termasuk Mas Arief dan Mas Manda sebagai trainer di Eureka. Selain jadi konsultan bisnis, Eureka juga sering sharing di bidang komunikasi, leadership dan career development. 

eureka-consultant.com

Mas Genta merintis Eureka mulai 2010 dan tentunya pilihan menjadi konsultan adalah keputusan yang jauh dari kata mudah. Berani memilih untuk memulai bisnis daripada menjadi pekerja profesional adalah keberanian yang tidak biasa buatku. Banyak diskusi, pertimbangan, kerja keras dan tentunya doa di balik itu semua. 

The point are, they’re good people.
Berjam-jam lebih obrolan di McD Salemba, kemudian Ragusa dan beberapa tempat lainnya bikin aku membuka mata kalau ternyata banyak hal yang bisa dilakukan di luar sana untuk kebaikan tentu dengan caranya masing-masing. Another thing yang lumayan nampar adalah, they do job cause they loved to. Hobinya, kesukaan mereka bisa menghasilkan uang. Bukan berarti kemudian membuat pekerjaan mereka tidak jenuh, tapi paling tidak mereka hidup di alurnya, on their path with happiness of course ya. Keberanian mereka untuk menjalani usaha yang tentunya sangat berlawanan dengan alur para pencari kerja yang kemudian menjadi pegawai. 

That’s why i write this karena sadar atau tidak mereka banyak kasih inspirasi. Banyak hal yang bikin iri, tapi Mas Arief bilang kalau mereka pun juga sering iri sama pegawai. What a life ya. Berarti tandanya kita memang harus bersyukur sama apa yang udah kita dapat dan harus jalanin semuanya sebaik mungkin diiringi doa.

Pertanyaan lain yang juga bikin tertampar malam itu ketika Mas Genta melemparkan satu pertanyaan “apa mimpi kamu ke depan, Tik”

Ya mungkin dunia tahu banget aku pengen banget punya bisnis sendiri sama kaya mereka, tapi gatau mau mulainya dari mana, apa, sama siapa, rencananya apa dan hal-hal menakutkan lainnya. Tiga kata yang jadi jawaban dari kegelisahanku malam itu dari Mas Genta, As startup, lakukan usaha yang mudah, murah dan mahir. ya ya yaaaaa~

Setelah berjam-jam lamanya, ngobrol ngalur ngidul sayangnya kami harus dipisahkan malam, padahal masih banyak sekali yang ingin aku tahu dari mereka. Aku sangat menunggu pertemuan-pertemuan berikutnya. Kembali mengisi energi positif dan semangat belajar yang selama ini tertimbun di polusi Jakarta.



Well, thank you guys for sharing everythings ya mas mas Jogja 🙂