Kerudung.

Genap seminggu kerudung menempel di kepala saya, menutupi rambut pendek yang selama ini (sedikit) saya banggakan. Saya sudah memutuskan dan tidak ada kata kembali mulai hari itu.

Bukan satu atau dua yang bilang kalau belum waktunya saya berkerudung. Sebagian dari mereka adalah teman-teman dekat, justru yang terdekat. Tentu saja bikin ragu. Kadang mengenal diri sendiri pun saya belum mampu. Ketergantungan akan pendapat orang lain seringkali membuat saya ragu dalam mengambil banyak keputusan, termasuk keputusan untuk akhirnya berkerudung.

Beberapa hari sebelum saya berkerudung, saya diberi kesempatan untuk menjalankan Ibadah Umroh. Sedikit banyak perjalanan hati tersebut menjadi pertimbangan terbesar untuk keputusan berkerudung. Setelah rangkaian ibadah yang saya jalankan, salah satu momen yang menggetarkan adalah ketika ustad pimpinan rombongan menunjukkan hamparan Padang Arafah di sebelah kiri saya waktu itu. Sebuah gurun pasir yang sangat luas. Disebutkan bahwa pemandangan itu adalah miniatur Padang Mahsyar. Saya bergelinang air mata.

Sedekat itukah kematian di depan saya?
Siapkah apabila Allah panggil saya?
Memang bekal apa yang bisa saya bawa?
Kebaikan apa yang bisa saya banggakan untuk akhirat?

Banyak yang menghantui pikiran saya setelah hari itu. Darimana saya harus memperbaiki diri? Bingung untuk memulainya. Kewajiban, mulailah dari menjalankan kewajiban.

Seminggu di tanah suci, membuat saya terbiasa berpakaian serba tertutup. Orangtua berkali kali menyarankan agar saya terus menggunakan kerudung, saya masih ragu namun bukan berarti acuh. Banyak teman yang saya tanyakan pendapatnya. Sebagian besar mendukung meskipun ada juga yang menyarankan agar saya terlebih dahulu memantapkan hati dan mempertimbangkan matang-matang. Sampai akhirnya saat pulang dari Ibadah Umroh saya mencoba untuk terus berkerudung. Panas juga ternyata. Hehe.

Seorang yang terdekat saat itu, Hazmi, memberi banyak saran agar saya melanjutkan untuk berkerudung. Sederhana sekali, dia mengingatkan bahwa tidak ada yang pernah tau kapan Allah panggil kita. Saya kekeh ingin menunda dengan alasan belum punya modal (baju panjang, kerudung dan pritilan lainnya). Lagi-lagi dia meyakinkan bahwa selalu ada jalan menuju kebaikan. Saya pikir panjang lagi setelah itu. Hari itu adalah tiga hari sebelum saya masuk kantor setelah cuti hampir dua minggu.

Pagi, tanggal 12 Maret 2018 saya terbangun lebih pagi dari biasanya. Hati ini rasanya gelisah dan bimbang karena melihat sehelai kerudung dan kemeja putih yang sudah saya siapkan sedari malam. Menimbang betul niat bulat untuk berkerudung sambil scrolling pendapat orang-orang terdekat di whatsapp saya.

“Semua kegalauan cuma ada sebelum dan di hari pertama lo berhijab aja, setelahnya lo akan terbiasa” – Putri Cita

“Pake hijab kan bukan masalah siap engga siap, tapi kewajban!” – Velika Ayu

“Sesuatu yang baik itu jangan ditunda-tunda, karena kita ngga tau kapan kematian menjemput. Kalau saat itu datang maka pintu taubat tertutup” – Icha Meiliza

Dengan segala macam pertimbangan yang mawut, akhirnya saya beranikan diri untuk mantap berkerudung pagi itu. Mantap sekali. Bismillah…

Pada akhirnya tidak ada yang harus saya sesali sama sekali. Semua ikut berbahagia dengan penampilan baru saya. Seperti pepatah Budha “when the student is ready, the teacher will appear”, ketakutan saya karena merasa belum punya modal kerudung terjawab cepat. Banyak dari teman-teman dekat yang ikut mendukung dengan menghadiahi saya kerudung. Subhanallah, rasa syukur yang tidak terkira rasanya. Semoga kebaikan kalian selalu menjadi amal baik yang berkelanjutan ya.

No turning back. Inshallah saya mantap dan kerudung ini akan terus menutup kepala saya. Menjadi pengingat untuk menjadi manusia yang lebih baik, membantu saya untuk terus memantaskan diri, melindungi saya dan untuk meringankan langkah kedua orangtua saya. Aamiin…

Advertisements

Tahun 2017 yang sederhana.

Sederhana, buat saya tahun ini adalah sepanjang tahun yang sederhana bahkan terlalu mengalir. Saya pun dipaksa untuk mengalir mengikuti arus kemana tahun ini membawa.

Masih di Angkasa Pura Property.
Saya salah satu yang setia soal kerjaan apalagi kalau lingkungan sosial sudah mendukung, kadang zona nyaman jadi tantangan. Masih disini, tahun ketiga menjadi corporate communication. Awal tahun merencanakan gathering untuk ratusan karyawan, lumayan melelahkan. Kami juga pindah kantor. Ah iya, saya dan Yegar Adishakti menerbitkan APPDATE! Baru dua kali terbit sih, semoga akan selalu konsisten sebelumnya. How my job will be without you Mas Ye! Ada kesedihan juga ketika beberapa temen resign. Selalu begitu ada yang datang dan ada yang pergi bergiliran, Mas Anom, Mas Andi, Indah dan yang akan datang di awal Januari adalah kehilangan si Ompong Osi Febryan. But we deserve happiness. Kita lihat apa saya masih akan menulis judul yang sama di tahun depan?

Angkasa Pura Property Gathering 3 Maret 2017. Exhausted yet fun!
Masih bergumul dengan Exhibition

Satu negara baru lagi.
Semenjak tahun 2016 saya punya mimpi kecil-kecilan yaitu minimal bisa membawa saya diri sendiri ke negara baru di dunia. Akhir tahun lalu saya pergi ke Australia, tahun ini saya menginjakkan kaki di Korea Selatan, Seoul. Terasa sangat mudah karena Mbak Cita kerja disana jadi we just live like local. Mengunjungi dua keponakan saya yang banyak saya lewati pertumbuhannya. Andai-andai untuk sering main dan beli mainan sering tertunda karena jarak. Soal Seoul, saya tidak pernah merencanakan untuk jatuh cinta sama negara ini, namun realitanya saya dibikin cinta. Kali pertama melihat sakura. Indah sekali! Tahun depan, akan ada rencana untuk ke negara lain, bismillah semoga semua dilancarkan.

Workshop Gratis.
Malas adalah nama tengah saya. Seringkali cuma punya asa tanpa usaha. Jadilah saya cari cari kegiatan yang paling tidak bisa terkesan akademik di feed instagram saya. Ada dua seminar berkesan yang saya ikuti di tahun ini yaitu Creativepreuner dan CIFP 2017 (Conference on Indonesian Foreign Policy). Kalau ikut acara seminar seperti itu seringkali saya merasa kosong dan belum menghasilkan apa-apa. Itulah gunanya, untuk memotivasi, menjadikan hebat pada jalannya masing-masing tentu saja. Kalau kata Soekarno “Jangan tanyakan apa yang negara berikan padamu, tapi apa yang sudah kamu berikan untuk Negara?” Cukup bergelorakah? 😅

Creativepreuneur -lupa kapan-

Ngeduren dan Tantikashop.
Gak bisa dibohongi kalau saya suka sekali berniaga. Mulai bosan dengan kerja di kantor, saya mencoba kembali untuk berjualan Ngeduren dan membuka lini baru yaitu Tantikashop. Semuanya menyenangkan. Semoga bisa terus membuat saya hidup di tengah kehidupan ini ya.

Muhammad Kemal Pasha.
Yang terdekat belakangan. Semoga kebiasaan ngumpat kita berkurang di tahun depan ya, cause we deserve a happy life!

New Year Eve 2018

Personal Life.
Masih disuruh belajar. Ada yang datang kemudian pergi. Belajar memahami, meluaskan sabar, melebarkan ikhlas dan tulus, mendengar lebih banyak. Everythings depends on yourself. Semuanya bisa menjadi guru sekaligus murid. Fokus sama diri sendiri bukan juga egois, karena betul sekali tidak ada yang akan memikirkan kita kecuali kita sendiri.

Selamat tinggal 2017. 2018 should be better and happiness project will going through the year, i promise.

PS : ditulis saat menunggu sushi mentai di Bar Sushi Tei Lotte Kuningan. Considering about talk with stranger, right beside me 😂

Konser lagi.

Dibilang musisi bukan apalagi pengamat musik. Tapi panggung musik buat saya istimewa, seperti ada rasa yang dialirkan dan sedemikian rupa bertransformasi menjadi energi untuk sukma. Hingar bingarnya, tepuk tangan penonton, teriakan para fans, gerakan tari, padu padan drum, bass, gitar, saxophone dan alat musik lainnya membaur satu. Lebih jauh lagi, saya menikmati betul barisan para music controller yang sibuk mengutak-atik sound di FOH, kameramen yang fokus mengambil sudut sempurna setiap performa, wira-wiri panitia dengan handie talkie di tangannya, sampai pedagang kaki lima yang biasanya menjual merchandise kw khas para artis panggung. Ah sebetulnya banyak lagi. Jadi bukan sekedar line-upnya, tapi setiap elemen yang melekat di dalamnya.

Kemarin, saya kembali menyambangi sebuah konser musik tahunan yang kali kedua hadir di Jakarta. Synchronize Fest. Rasanya haru biru, karena terakhir kali nonton konser musik hampir setahun lalu saat Coldplay tour ke Australia. Tidak berlebihan, mencari partner yang mau diajak berkeringat, berebut posisi, sing along dan joget saat musik bersautan itu sulit. Karena konser musik apalagi dengan konsep festival, sangat identik dengan ketidaknyamanan. Jadi seringkali keinginan untuk berkonser ditunda karena partner yang tidak tersedia. Tapi kemarin, sempurna.

IMG_4393[1]

Bersama seorang teman. Tadinya mau beramai-ramai. Cuma ya itu tadi, kemudian banyak yang mengurungkan niat di ujung waktu. Kami teramat sangat menikmati enam jam berkeringat di festival musik itu. Saya juga bukan penonton yang ngoyo harus berdiri di barisan terdepan. Prinsip saya, santai. Nikmati musiknya dengan hikmat meskipun dari jauh. Lagi-lagi. Bukan perkara siapa line-upnya tapi euforianya yang saya cari.

Bermodalkan rundown, kami mencari artis yang ingin kami nikmati. Akhirnya kami berdua memilih Endah n Rhesa, Payung Teduh, Naif, Basejam, Kla Project. Tidak puas kami juga bertandang ke panggung Koil dan Seringai.

Saya sangat terlarut. Dalam sekejap musik-musik yang bertebaran menarik jiwa ke alam senang. Pemandangan cinta ada dimana-mana. Sepasang kekasih yang bergandengan tangan, sekali saling tatap seakan setuju bahwa yang dinyanyikan adalah soundtrack kisah mereka. Belum lagi mereka yang mungkin tidak hafal dengan lirik lagunya sehingga tawa menjadi solusinya. Keluarga muda juga tidak ketinggalan, beberapa dari pengunjung membawa anak-anaknya seakan ingin memperkenalkan konser musik sejak dini. Nada-nada yang ramah di telinga memaksa badan untuk bergoyang mengikuti alunan. Suara pas-pasan bergaung keras di udara saat sang artis menyilakan penonton bernyanyi. Malam yang baik sekali.

Buat saya, konser dan festival musik adalah hal spiritual. Kontemplasi yang berisik. Momen dimana saya membantah kepercayaan Sujiwo Tejo yang mengatakan bahwa inspirasi didapat saat sepi. Disini saya merasa inspirasi beterbangan sampai bingung menangkapnya. Saya tidak tahu musik, bahkan untuk merasakan suara bass yang tipis dan mengikuti tempo drum juga keteteran, yang saya tahu dan pahami betul bahwa mereka yang di panggung dan semua di dalamnya memiliki kebahagiaan yang tidak terbantahkan. Ini masalah makna. Saya memaknai musik dan menghargai sepenuhnya.

Terima kasih bahagia, sudah mampir. Saya tahu kok ini juga sementara karena Senin akan datang seperti biasa. Lalu lalang manusia tidak lagi terhitung dalam tempo. Sebisa mungkin saya akan menjaga bahagia ini lama-lama.

Terus sajalah.

Awalnya aku selalu memusingkan diri memikirkan kenapa masalah-masalah seperti ini selalu sama terjadi setiap hari, setiap minggu, setiap bulan sampai tidak terasa aku akan menginjak usia ke 26 tahun ini. Menangis? Jangan ditanya, mungkin aku sudah bisa membangun waduk air mataku sendiri.

Kalau mau bicara lelah dan kalau mereka gagal akan aku, akan kupilih kabur sebagai jalan keluar. Nyatanya? Terlintas pun tidak. Bagaimana bisa, sesungguhnya cinta ini tidak mengenal lelah. Hanya kali ini, aku tidak lagi punya air mata. Lantas itu pertanda apa?

Mulai terbiasa?
Bukankah itu hal yang perlu kamu kamu khawatirkan. Bagaimana jadinya kalau aku tidak lagi perduli dan memilih mengangguk saja ketimbang berbicara ataupun menangis? Bukankah kamu akan lebih puas apabila aku takut daripada aku tidak membalas pesanmu?

Tidak, aku hanya bercanda.
Dijamin tidak mungkin aku pergi. Aku tidak akan membiarkan diriku kehilangan sedetikpun aku memilikimu. Tak apalah kalau aku ikut gila, bukankah kamu bilang sendiri itu tidak enak dan sungguh tidak pantas kalau aku membayar segala tentangmu dengan langkah menjauh.

Teruslah lakukan yang ingin kamu lakukan, sampai nanti akhirnya kamu paham bahwa aku dan mereka adalah yang tidak akan pernah meninggalkanmu bahkan sampai kamu tidak sadar waktu akan segera habis menelan manusia.

Yang pertama kali

Beberapa hari lalu seorang teman mengupload foto dengan caption yang menarik sekali.

“Kapan terakhir kali kamu melakukan hal yang pertama kali?”

Sangat menggelisahkan, otak ini kemudian dipaksa untuk memikirkan jawaban dari pertanyaan tersebut. Susah sekali untuk dijawab. Gila, se-statis itu kah hidup belakangan ini?

Bangun, berangkat kerja, bertemu dengan teman-teman kantor, sesekali dipuji dan dimarahi bos, makan siang, kembali kerja, lembur, pulang, tidur dan begitu seterusnya. How come my life become so that boring?

Ini bukan berarti tidak bersyukur, cuma sepertinya sudah lama sekali badan ini tidak diajak berpetualang atau menikmati hal-hal yang belum pernah dilakukan sebelumnya, keluar dari zona itu-itu saja. Rasanya rindu sekali dengan masa pertukaran pelajar ketika petualangan tersebut menjadi serba pertama kali. Pertama kali aboard sendirian, pertama kali menginjak Eropa, pertama kali tersesat di Budapest, pertama kali datang dan amaze sama Auschwitz Birkenau, pertama kali perform tari Bali di depan puluhan pelajar asing dan pertama pertama kali yang lainnya. Sampe rasanya minder kalau harus menilik kembali foto-foto lama saat itu, entah kalau diulang apa iya masih berani.

Atau pengalaman pertama kali satu ruangan dengan banyak menteri di Indonesia, menjadi yang tampil untuk memberikan kenang-kenangan kepada Bapak Hatta Rajasa di depan media, keliling provinsi untuk meliput kegiatan menteri. Lumayan seru juga ternyata masa kerja di instansi pemerintahan.

Sampai lebih dari semester I tahun ini belum banyak pengalaman yang bisa dibanggakan atau menjadi point of the year. Banyak wishlist yang belum terwujud juga karena terlalu banyak pertimbangan yang akhirnya membuat banyak keinginan tertunda. Pengen skydive, bungee jumping, jalan ke Bromo, ke Malang dan tempat-tempat kece lainnya.

Tidak ada masalah sebenernya, tulisan ini hanya sebuah renungan yang datang dari kegelisahan. Harapannya sih bisa bikin jengah otak, hati dan pikiran untuk berpikir apalagi yang harus dilakukan agar bisa mencari pertama pertama yang lain. Jadi hidup tidak begitu-begitu saja.

Yang terlewati

Terlampau banyak momen yang lupa aku rekam dalam tulisan, tidak seperti biasanya. Terlalu malas, terlalu lelah, terlalu merasa sibuk dan diburu waktu sehingga enggan menyempatkan diri melakukan ritual menulis.

Biar aku ulas sedikit apa yang terjadi dari tulisan terakhirku di bulan Januari. Februari menjadi bulan yang penuh dengan kerjaan kantor. Spontan membuat acara ulang tahun kantor di luar dimana hal tersebut menjadi sejarah hasil sekongkol dengan bos yang kooperatif, menjadi penanggung jawab untuk Rakor dan Outbond tahunan yang melelahkan sekali, kemudian disusul dengan menghabiskan perjalanan dinas ke luar kota untuk peresmian sebuah proyek yang akhirnya selesai dan yang tidak kunjung selesai. I’m full. Selebihnya urusan kantor menjadi rutinitas biasa kecuali salah satu proyek yang sampai saat ini tidak jelas statusnya masih misteri…

Aku melewatkan ulang tahunku.

Usia ke 25 ini berlalu bersama teman-teman terkasih dan masih menjadi kasih. Biasanya aku tidak pernah absen untuk menuliskan apa yang terjadi di malam pergantian usiaku, kali ini aku luput. Singkatnya, aku adalah perempuan beruntung yang dikelilingi sahabat dan kasih terbaik, tidak pernah menyurutkan perhatian untukku.

Usia 25 entah akan menjadi awal seperti apa dan perjalanan seperti apa. Gusti Allah yang punya cerita, aku melakoninya saja dengan maksimal, yang jelas patah semangat bukan pilihan dan meratapi sedih bukan satu-satunya jalan. Banyak yang terjadi setelah pergantian usia itu datang, sepertinya akan kutulis perlahan…

Pelan saja…

Belajar dewasa sepanjang 2015

Kayaknya baru kemarin cerita ngalor ngidul tentang tahun 2014 yang membawa banyak kejutan, eh sekarang udah harus menceritakan kembali apa yang terjadi di tahun 2015 dan sangat terlambat memang. Ya, sebaiknya 2016 usahlah datang tapi apa daya aku juga bukan Bruce Almighty yang dikasih kekuasaan oleh Tuhan untuk seenaknya mengatur dunia.

Sebelumnya, kata maaf aku sampaikan untuk diri sendiri karena kali ini konsistensi menulis sebelum akhir tahun gak bisa dipenuhi, alhasil 12 hari setelah kembang api pergantian tahun jari-jari ini baru bisa diajak bersemangat untuk menulis. Here we go, mari putar ulang!

Tahun ini punya tema besar, yaitu belajar dewasa.

Dibalik status “karyawan”

Disini, di tempat kerja yang sekarang aku mulai memahami bahwa bekerja bukanlah tentang siapa yang pintar siapa yang bodoh, tapi tentang siapa yang mau belajar. Belajar bagaimana membedakan emosional dan profesionalisme, belajar menerapkan strategi komunikasi organisasi yang sebenar-benarnya, belajar mengubah keluh menjadi syukur, belajar mengendarai ambisi dengan imbang, belajar inisiatif, belajar mencintai sesuatu dengan sepenuh hati agar nantinya hati tidak dikecewakan ekspektasi, dan yang paling penting belajar bahwa bekerja gak melulu tentang rupiah. Kegalauan akan rupiah yang sepertinya gak kunjung menggunung bukannya gak pernah menjadi momok, tapi ternyata fokus kepada diri sendiri dan konsistensi dalam belajar lebih penting. Fokus dengan presentasi-presentasi direksi yang berulang-ulang minta direvisi, fokus dengan event-event kantor yang gak pernah diduga kapan, fokus dengan mengembangkan diri nekat jadi MC dadakan di beberapa event kantor, fokus dengan kesiapan diri bertemu dengan orang-orang baru di lingkungan kantor, fokus dan fokus. Akan selalu ada hasil dibalik sebuah kebaikan termasuk dibalik status “karyawan”.

c07cd-img_1266
Melaspas General Aviation Terminal di Bali, 10 Februari 2015  

Kehilangan teman,
Bukan makna yang sebenarnya, agak distorsi. Salah satu sahabat baik yang tadinya bekerja di lingkup kantor yang sama mulai menemukan titik terang, dia menemukan pekerjaan yang lama menjadi impiannya. Belum sepenuhnya menjawab cita-citanya, tapi paling gak dia sudah mulai berjalan maju. Jujur perasaan gak enak sempat menyelimuti, gelisah karena punya perasaan “ditinggal”. Tapi balik lagi kepada paham bahwa setiap insan di dunia ini gak satupun yang luput dari cerita yang sudah diciptakan Tuhan, punya jalan masing-masing. Begitu juga dengan aku nantinya. Aamiin.

2 kilometers a week,
Tahun 2015 adalah tahun rajin lari. Paling gak seminggu sekali diusahakan untuk lari sekedar mengejar 2 kilometer. Gak bikin kurus juga, tapi semoga bikin sehat.

Pengalaman (orang lain) adalah guru terbaik, 
Buku tulis Sinar Dunia mengenalkan kita dengan motto “Experience is the best teacher”, eh tapi bener loh. Banyak pengalaman yang aku petik dari peristiwa-peristiwa yang terjadi sepanjang tahun 2015, sedikit pahit banyak manisnya. Pengalaman yang membuatku belajar bahwa menerima itu tidak semudah menghapus air mata, belajar bahwa ekspektasi tinggi benar-benar dapat menjadi racun hati, belajar bahwa akhirnya yang terbaik yang bertahan di sisi. Tuhan sungguh menguji segalanya di tahun ini, kesabaran entah sudah dimana ujungnya dan menangis pun tidak mampu menerjemahkan sakitnya ulu hati.

Bukan cuma pengalaman pribadi, ternyata gak perlu mengalami sebuah peristiwa terlebih dahulu untuk belajar, pengalaman orang lain pun bisa menjadi guru dan bahan pelajaran yang baik. Bertemu kembali dengan beberapa teman di tahun 2015 memaksaku untuk belajar dari cerita pengalaman mereka di berbagai lini kehidupan mulai dari pekerjaan, pernikahan teman, hingga drama romantika percintaan. Aku membiarkan telingaku menjadi pendengar terbaik.Hingga pada akhirnya cerita-cerita mereka dapat kuubah menjadi inspirasi sekaligus pelajaran. Bahkan kisah drama romantika dua sahabat di kantor membuatku membuka mata untuk memperbaiki diri dalam bersikap, dalam memutuskan sesuatu. Terima kasih ya kalian yang sudah mau aku temui dan yang sudah wira wiri sebentar atau lama, semoga kita semua bahagia.

Reka Icha Reka Icha Reka Icha,

Dua nama yang gak pernah luput dari kehidupan sehari-hari, dua nama yang selalu bikin capek hati, dua nama yang sekaligus bikin hari-hari di kantor gak monoton, dua nama yang gak pernah capek dengerin kegalauan dan berlembar-lembar cerita keluh kesah hati, dua nama yang jago banget bikin skenario drama yang lebih dramatis dari kisah drama turki. For what we’ve been through, you guys are my best friends, Jepit Scorpion is one of my history. Selamat berbahagia buat kita semua ya gais!

a35cb-img_1092
Jepit Scorpion…

Akhtar lahir,
Menjadi tante adalah hal yang menyenangkan, ditambah kedatangan makhluk kecil satu lagi dari kakak perempuan kesayangan. Akhtar. Semoga sehat ya, Nak!

Overall,
Banyak hal yang membuatku berkesimpulan bahwa 2015 adalah salah satu tahun yang memaksaku belajar dewasa yang erat hubungannya dengan menerima dan bersyukur. Yakinlah, kebaikan gak pernah kenal ujung pasti akan mengalir seperti yang pasti akan terjadi di tahun 2016. Aamiin!