Gombal Sinestesia

Hujan rintik membasahi aspal. Mereka akan melewati Jalan Surabaya di bilangan Menteng ketika lagu Efek Rumah Kaca memecah hening.

“Kamu tau gak apa arti Sinestesia?” Sheila memandang Raga sungguh-sungguh.

“Katanya sih album terakhirnya Efek Rumah Kaca.” ujar Raga tanpa ekspresi.

“Bukan itu konteksnya, Ga.”

“Terus, apa dong?”

“Ya apa dong?”

“Merah, Biru, Jingga, Hijau, Putih, Kuning?”

“Ah, kamu.”

“Kamu itu memenuhi semua kebutuhan panca inderaku. Itu Sinestesia versiku.”

Jalan Surabaya tiba tiba dipenuhi dengan daun gugur yang berjatuhan dari pohon jati pinggir jalan.

Bersama kita

Mencoba slalu temukan apa yang ingin kita cari
Dan tetap slalu bersama dalam berpikir dan menjalani
Semua cerita dalam setiap hidup takkan selamanya indah
Takkan selamanya buruk
Coba slalu hadapi

Disaat kau tak mampu hadapi semua
Dekapkan badanmu di dekat kita
Dan tak aka nada yang tak bisa kita hadapi

Mari bersama kita…
Hadapi dengan kita…

(Bersama Kita by Nosstress)

Terus sajalah.

Awalnya aku selalu memusingkan diri memikirkan kenapa masalah-masalah seperti ini selalu sama terjadi setiap hari, setiap minggu, setiap bulan sampai tidak terasa aku akan menginjak usia ke 26 tahun ini. Menangis? Jangan ditanya, mungkin aku sudah bisa membangun waduk air mataku sendiri.

Kalau mau bicara lelah dan kalau mereka gagal akan aku, akan kupilih kabur sebagai jalan keluar. Nyatanya? Terlintas pun tidak. Bagaimana bisa, sesungguhnya cinta ini tidak mengenal lelah. Hanya kali ini, aku tidak lagi punya air mata. Lantas itu pertanda apa?

Mulai terbiasa?
Bukankah itu hal yang perlu kamu kamu khawatirkan. Bagaimana jadinya kalau aku tidak lagi perduli dan memilih mengangguk saja ketimbang berbicara ataupun menangis? Bukankah kamu akan lebih puas apabila aku takut daripada aku tidak membalas pesanmu?

Tidak, aku hanya bercanda.
Dijamin tidak mungkin aku pergi. Aku tidak akan membiarkan diriku kehilangan sedetikpun aku memilikimu. Tak apalah kalau aku ikut gila, bukankah kamu bilang sendiri itu tidak enak dan sungguh tidak pantas kalau aku membayar segala tentangmu dengan langkah menjauh.

Teruslah lakukan yang ingin kamu lakukan, sampai nanti akhirnya kamu paham bahwa aku dan mereka adalah yang tidak akan pernah meninggalkanmu bahkan sampai kamu tidak sadar waktu akan segera habis menelan manusia.

Biasakan saja.

Menulis itu perkara kebiasaan, sama halnya dengan membiasakan diri untuk selalu rutin bangun pagi,
sama halnya dengan membiasakan diri untuk selalu merapikan tempat tidur,
sama halnya dengan membiasakan diri untuk selalu berdoa sebelum makan,
sama halnya dengan membiasakan diri untuk selalu mengucap “assalamualaikum” sebelum keluar rumah.

Menulis itu perkara menumpahkan isi hati.
Yang tersumbat harus dialirkan,
yang buntu harus dijebol paksa,
yang terlilit harus diurai,
yang terkunci harus diretaskan.

Menulis itu perkara semua yang kita tahu.
Bisa saja tentang jalan kolektor yang biasa dilewati saat kedua tangan sibuk bermain gitar melagu album Sheila On 7.
Bisa juga tentang Ketupat Tahu Magelang yang enak meskipun selalu kupesan tanpa tahu.
Atau mungkin tentang rindu yang entah datangnya darimana selalu memburu tidak pandang waktu.

Seorang bilang menulis itu bukan perkara tentang siapa.
Menulis itu tentang kamu dan dirimu sendiri.
Karena inspirasi tidak tunggal.
Usahlah ikuti hati.
Pasti lelah sendiri.

Menulislah.
Bunuh perasaan itu perlu.
Bunga-bunga perlu dijaga agar tidak merambat liar.

Menulislah.
Cuma itu yang kamu bisa.
Biasakan saja.

Mungkin salah mungkin gagal.

Lentera menunda pekerjaan yang harusnya diselesaikan minggu lalu. Sengaja, Lentera tau malam ini akan menjadi malam yang menyulitkannya tidur, malam yang melarikan pikirannya ke dua hari yang lalu, malam yang mengajak hatinya memutar kalimat-kalimat ketidakpastian, malam yang memaksanya kembali pada percakapan di perjalanan pulang setelah menegak 1 grande cappucino. Sehingga daripada gila, ia sibukkan malam ini dengan menghabiskan tuntas tumpukan proposal dan rangkaian business plan yang ia benci.

Seperti biasa, Lentera ditemani Mas Adi yang juga sibuk menyusun RAB residensial yang akan running dalam waktu dekat, jenis pekerjaan yang akan sangat dijauhi Lentera karena bermusuhan dengan angka adalah komitmennya. Mereka berdua memacari laptopnya masing-masing ditemani playlist merana sepanjang malam. Ditengah itu, Lentera melempar sebuah pertanyaan.

“Aku harus berhenti atau tetap jalan dengan kesalahan?”
“Hmmm, kesalahan? Salah atau gagal maksudmu?”
“Mungkin salah mungkin juga gagal.”
“Kalau itu sebuah kesalahan kamu harus berhenti, apalagi kalau kesalahan itu udah terjadi lebih dari 2 kali. Tapi kalau kamu tau itu benar meskipun punya kemungkinan gagal kamu harus terus coba.”
“Gitu ya?”

Berselang sepuluh detik, Lentera kembali menyelami laptopnya. Entah kenapa, Lentera selalu bisa fokus saat dikejar deadline, pekerjaan yang ditundanya berminggu-minggu lalu sudah hampir selesai, begitu cepat.

“Mas, bersaing sama masa lalu itu kan susah banget ya?”
“Tapi almost is never enough, kan?”
“Haha, Ariana Grande banget referensimu?”
“Biar kamu ketawa aja, terus?”
“Iya, jadi aku harus nunggu sampe clean and clear atau?”
“Hormati keputusannya, gak perlu mundur ataupun memaksa maju”
“Aku capek, Mas”
“Yowes pulang sana kalo capek, jangan nangis lho aku lagi males denger kamu nangis.”

Tetap saja Lentera menangis. Tidak ada yang bisa melarang racauan tangisnya meledak dari dalam dadanya, sejadi-jadinya. Sambil mengambil kopi di atas meja, Lentera pamit pulang.

“Nduk, udah malem. Jangan nyetir kalau air matamu masih ngambang”

Lentera beranjak dari kursinya, menempelkan ibu jarinya di mesin fingerprint, mesin absen yang menentukan ada tidaknya tambahan uang snack di akhir bulan. Sebelum benar-benar meninggalkan ruangan kantor, Lentera pulang mengintip jam tangannya.

“Ah! Masih jam 11”

Dijeda usia

Sementara Rendra duduk di seberang meja aku mengamatinya di sela suapan bubur Kwangtung malam itu. Sesekali dia membuka percakapan yang dijedakan usia. 

Tidak ada yang spesial dan juga tidak pernah membosankan. Topik pembicaraan selalu seputar dunia kerja, kegiatan sepanjang minggu yang dirangkum menjadi satu prosa pendek kemudian dibacakan oleh masing-masing dari kami.

Buburnya masih banyak, topik apa lagi yang bisa dijadikan teman makan bubur? 

Aneh, pertemuan ini terjadi berulang kali. Aku bersedia bercerita panjang lebar, Rendra pun sama. 

Jeda usia menjadi menarik. Aku sadar Rendra telah mengalami apa yang sedang aku jalankan saat ini, sekitar 7 tahun yang lalu. Paling tidak dia pernah merasakan menjadi remaja tua usia 25 tahun yang hidupnya didominasi oleh semangat bara yang naik turun tanpa tujuan. Sedangkan aku tidak tahu dan tidak bisa membayangkan apa yang sedang Rendra alami saat ini. Pola pikirnya, kehidupan sosialnya, pekerjaannya, rencana hidupnya dan bahkan arti dari raut mukanya. Alhasil aku tidak menebak apapun, toh pertemanan tidak mengenal usia. 

Bubur kwangtung telah habis. Mataku juga sudah layu sehingga pulang menjadi pilihan terjitu. 

Hmm. Terima kasih.

Menginjak Benua Australia – Coldplay A Head Full of Dreams Concert

Setelah selesai berbelanja sepuasnya untuk keperluan oleh-oleh di Paddy’s Market, kami pulang ke hostel untuk taruh belanjaan. Jadi ada yang bikin sedih, kemarin malam Keka kasih kabar kalau hari ini akan datang hujan dari jam 20.00 – 24.00. Mayan shock, dan makin shock ketika liat luar jendela saat kami mau berangkat, ternyata memang mendung. Okelah, nasib sih kalo ini.

Akhirnya aku dan Marina berangkat. Wicak dan Keka yang kebetulan juga beda jurusan (mereka beli gold seat sedangkan aku dan Marina beli tiket standing silver) masih mau kulineran dulu, jadi kami berangkat ke Allianz Stadium masing-masing. Aku dan Marina memutuskan untuk jalan kaki dari Kings Cross menuju Allianz Stadium, Google maps sih bilang jaraknya sekitar 2,4 km, ah masa bodo lah karena dolar udah tipis mau naik taksi mahal juga. Eh bener, sepanjang jalan gerimis. Patah hati rasanya, masa hujan sih. Gak sanggup menerima dan menghadapi kenyataan, lari-lari kecil dan sesekali berteduh di store pinggir jalan kami terus berjalan menuju lokasi dan kebingungan sama arah jalan. Sampe akhirnya kami bertemu sama sepasang papah mamah muda yang lagi asik selfie (menurut riset kami, cuma orang Indo yang selalu selfie dimanapun bahkan ketika di trotoar). Akhirnya kami bertegur sapa dan benar sekali mereka dari Indonesia juga. Ngobrol dan akhirnya jalan bareng ke Allianz Stadium.

Okay, kami sampai.
Okay, sebentar lagi.
Okay, excited.
Banget.

Sesampainya disana, euforia sangat terasa mulai dari pedestrian walk menuju Allianz. Gak jauh beda sama hari sebelumnya, store official merchandise dipenuhi para fans Coldplay yang antre. Kami foto foto di depan Allianz Stadium kemudian lari ke gate sesuai tiket standing silver kami. Saat itu sekitar pukul 16.30, antrian belum terlalu panjang. Kami diminta antri dengan tertib dan menunggu sampai gate dibuka pada pukul 17.30.

img_4427
ALLIANZ STADIUM, we’re here!
img_4436
Bersama Mas Rendra dan Mbak Wina yang baik mau tethering wifi 🙂

Oh iya, ada yang menarik disini. Entah kenapa terasa sekali panitia atau promotor dari konser Coldplay ini sangat menghargai kami. Seakan mereka tahu bahwa kami datang dari jauh dan banyak perjuangan yang harus dibayar untuk datang ke konser ini. Terlihat jelas dari bagaimana panitia memberikan treatment dan berbicara dengan sangat sopan dan humble kepada kami. Menawarkan sunscreen, menawarkan minum dan hal-hal simpel lainnya, jadi seakan terasa antre tidak lagi menjadi hal yang membosankan. Menarik.

Menunggu selama kurang lebih 1,5 jam akhirnya gate dibuka. Kami antri dengan tertib dan masuk menggunakan automatic machine sehingga proses masuk tidak memakan waktu terlalu lama. Sampai di dalam gate, panitia memberikan kami wristband yang nantinya akan menyala selama konser berjalan.

Kami lari.

Akhirnya, ada rasa percaya gak percaya juga ketika kami masuk di dalam Allianz Stadium bersama ribuan penonton lainnya. Buatku dan Marina, ini bukan sekedar nonton konser, ada mimpi yang terkabul di balik perjalanan ini. Agak sentimentil sih bagian ini, tapi ya memang itu adanya. Ah rasanya gak sabar.

img_4515
Inside the stadium
img_4481
The magic wristband, i choose the yellow one

Sebelum Coldplay naik panggung, kami dihibur oleh 2 artis pembuka. Jujur lupa namanya karena yang di otak cuma harapan ketemu Mas Chris Martin aja. Eh tiba-tiba di sela penampilan band pembuka, Mas Chris nongol, mengucapkan selamat datang dan memberitahukan bahwa mereka akan “manggung” pukul 21.00, masih dua jam lagi. Sekitar 5 menit, Mas Chris masuk lagi deh. Jadi makin gak sabar saudara-saudara. Selama 2 jam nunggu, hujan belum juga berhenti. Kami setengah basah kuyup dan kelaperan sampe akhirnya Marina nekat buat keluar dari kerumunan beli makan. Sempet deg-degan karena ini bocah sempet susah balik ke lokasi kami, but God is good, ada yang nolongin Marina buat teriak teriak manggil namaku.

Foto diantara kaki kaki bule dan hujan yang berjatuhan
Foto diantara kaki kaki bule dan hujan yang berjatuhan

Dua jam kemudian.

Tiba-tiba Allianz Stadium gelap gulita. Bener-bener gelap sampai akhirnya ada narasi pembuka yang dibarengi oleh wristband kami yang merah menyala. Semua penonton berteriak, sama sepertiku yang gak sabar menunggu performance Coldplay, band yang membuatku menginjak benua Australia.

Ya, akhirnya Coldplay muncul dengan membawakan lagu A Head Full of Dreams berbarengan dengan nyala terang kembang api sesuai dengan irama lagunya. Ah gila sih ini out of expected, ini konser terbaik. Setiap lagu selalu punya konsep dan warna yang berbeda, terlihat jelas dari wristband yang kami pakai. I uploaded one video, sorry for bad quality, but who cares?

Di konser ini mereka membawakan beberapa lagu antara lain Charlie Brown, Yellow, Fix You, The Scientist, In My Place, Viva La Vida, Every Teardrops is Waterfall, Hymn for The Weekend, Magic, Paradise, Sky Full of Stars, Birds, Clocks, Up and Up dan beberapa lagu lainnya lagi.

Semuanya sempurna. Lighting, sound, euforianya, performance dan konsepnya. Ah ada yang terlintas, ada satu orang yang harusnya bisa berbahagia juga bersamaku disini, pasti akan terlewat sempurna sih jadinya… Aduh, selebihnya bener-bener gak bisa lagi gambarin gimana perasaan dan kerennya konser yang aku liat di depan mata ini. Ini konser gila. Niat. Total. Terbayar sudah semua. Terbayar lunas. Disamping kegelisahan memiliki badan yang gempal dan tenggelam di antara ribuan penonton bule berbadan bongsor lainnya, ini tetap konser terbaik.

Coldplay sing Magic.
Coldplay sing Magic.
img_4649
He’s so~
img_4608
in the middle of sky full of stars

Mungkin ini adalah dua jam tercepat dalam hidupku, ah lebay sedikit boleh ya. Lagi-lagi ini bukan sekedar konser Coldplay, lebih dari itu tidak mudah untukku bisa sampai travelling ke Australia untuk nonton konser ini. Banyak orang bilang hedon dan berlebihan, tidak sama sekali. Banyak perjuangan dan pengorbanan untuk mimpi yang terwujud ini. Bahagia banget sih.

img_4556

Up&up menjadi penutup dari konser spektakuler ini, sekan digantungkan oleh Mas Chris Martin setelah statement terakhirnya, stadium pun kembali terang. Ribuan penonton memanggil agar Coldplay melanjutkan performance-nya pun terasa percuma. Ya, konsernya sudah selesai, sudah rampung. Aku pulang dengan perasaan puas. Aku dan Marina bertemu dengan Wicak dan Keka di luar stadium, kami berpelukan. Lebay lagi ya, tapi seneng banget. Bener-bener seneng. Ya kami berempat bisa bertemu, jalan-jalan, ketawa bareng, sakit kaki bareng, kehilangan duit bayar taksi yang mahal bareng, semuanya karena disatukan niat nonton Coldplay ini.

img_4694
WE MADE IT, MARINA!

Kami kembali ke hostel dengan bahagia, jalan kaki tentu saja. Masih dengan euforia serba Coldplay, pasti. Pamer di sosial media, yaiyalah. Kenorakan kami harus dibagikan soalnya, kayak Wicak yang intagram storiesnya full of konser Coldplay live. Akhirnya dia nyesel karena terlalu banyak recording, haha.

Processed with VSCO with a6 preset
I LOVE YOU, GENGS!

Okay, akhirnya kami harus berpisah karena sesampainya di hostel sekitar pukul 00.00, aku dan Marina bersiap ke bandara untuk melanjutkan trip kami ke Melbourne and catch the flight jam 6.30, daripada ketiduran akhirnya kami pilih langsung berangkat ke bandara. In this post, personally terima kasih ya Mar, Cak, Keka, you guys are the best. Thanks for made this trip as one of my history, you guys more than so loveable!