Mungkin salah mungkin gagal.

Lentera menunda pekerjaan yang harusnya diselesaikan minggu lalu. Sengaja, Lentera tau malam ini akan menjadi malam yang menyulitkannya tidur, malam yang melarikan pikirannya ke dua hari yang lalu, malam yang mengajak hatinya memutar kalimat-kalimat ketidakpastian, malam yang memaksanya kembali pada percakapan di perjalanan pulang setelah menegak 1 grande cappucino. Sehingga daripada gila, ia sibukkan malam ini dengan menghabiskan tuntas tumpukan proposal dan rangkaian business plan yang ia benci.

Seperti biasa, Lentera ditemani Mas Adi yang juga sibuk menyusun RAB residensial yang akan running dalam waktu dekat, jenis pekerjaan yang akan sangat dijauhi Lentera karena bermusuhan dengan angka adalah komitmennya. Mereka berdua memacari laptopnya masing-masing ditemani playlist merana sepanjang malam. Ditengah itu, Lentera melempar sebuah pertanyaan.

“Aku harus berhenti atau tetap jalan dengan kesalahan?”
“Hmmm, kesalahan? Salah atau gagal maksudmu?”
“Mungkin salah mungkin juga gagal.”
“Kalau itu sebuah kesalahan kamu harus berhenti, apalagi kalau kesalahan itu udah terjadi lebih dari 2 kali. Tapi kalau kamu tau itu benar meskipun punya kemungkinan gagal kamu harus terus coba.”
“Gitu ya?”

Berselang sepuluh detik, Lentera kembali menyelami laptopnya. Entah kenapa, Lentera selalu bisa fokus saat dikejar deadline, pekerjaan yang ditundanya berminggu-minggu lalu sudah hampir selesai, begitu cepat.

“Mas, bersaing sama masa lalu itu kan susah banget ya?”
“Tapi almost is never enough, kan?”
“Haha, Ariana Grande banget referensimu?”
“Biar kamu ketawa aja, terus?”
“Iya, jadi aku harus nunggu sampe clean and clear atau?”
“Hormati keputusannya, gak perlu mundur ataupun memaksa maju”
“Aku capek, Mas”
“Yowes pulang sana kalo capek, jangan nangis lho aku lagi males denger kamu nangis.”

Tetap saja Lentera menangis. Tidak ada yang bisa melarang racauan tangisnya meledak dari dalam dadanya, sejadi-jadinya. Sambil mengambil kopi di atas meja, Lentera pamit pulang.

“Nduk, udah malem. Jangan nyetir kalau air matamu masih ngambang”

Lentera beranjak dari kursinya, menempelkan ibu jarinya di mesin fingerprint, mesin absen yang menentukan ada tidaknya tambahan uang snack di akhir bulan. Sebelum benar-benar meninggalkan ruangan kantor, Lentera pulang mengintip jam tangannya.

“Ah! Masih jam 11”

Dijeda usia

Sementara Rendra duduk di seberang meja aku mengamatinya di sela suapan bubur Kwangtung malam itu. Sesekali dia membuka percakapan yang dijedakan usia. 

Tidak ada yang spesial dan juga tidak pernah membosankan. Topik pembicaraan selalu seputar dunia kerja, kegiatan sepanjang minggu yang dirangkum menjadi satu prosa pendek kemudian dibacakan oleh masing-masing dari kami.

Buburnya masih banyak, topik apa lagi yang bisa dijadikan teman makan bubur? 

Aneh, pertemuan ini terjadi berulang kali. Aku bersedia bercerita panjang lebar, Rendra pun sama. 

Jeda usia menjadi menarik. Aku sadar Rendra telah mengalami apa yang sedang aku jalankan saat ini, sekitar 7 tahun yang lalu. Paling tidak dia pernah merasakan menjadi remaja tua usia 25 tahun yang hidupnya didominasi oleh semangat bara yang naik turun tanpa tujuan. Sedangkan aku tidak tahu dan tidak bisa membayangkan apa yang sedang Rendra alami saat ini. Pola pikirnya, kehidupan sosialnya, pekerjaannya, rencana hidupnya dan bahkan arti dari raut mukanya. Alhasil aku tidak menebak apapun, toh pertemanan tidak mengenal usia. 

Bubur kwangtung telah habis. Mataku juga sudah layu sehingga pulang menjadi pilihan terjitu. 

Hmm. Terima kasih.

Menginjak Benua Australia – Coldplay A Head Full of Dreams Concert

Setelah selesai berbelanja sepuasnya untuk keperluan oleh-oleh di Paddy’s Market, kami pulang ke hostel untuk taruh belanjaan. Jadi ada yang bikin sedih, kemarin malam Keka kasih kabar kalau hari ini akan datang hujan dari jam 20.00 – 24.00. Mayan shock, dan makin shock ketika liat luar jendela saat kami mau berangkat, ternyata memang mendung. Okelah, nasib sih kalo ini.

Akhirnya aku dan Marina berangkat. Wicak dan Keka yang kebetulan juga beda jurusan (mereka beli gold seat sedangkan aku dan Marina beli tiket standing silver) masih mau kulineran dulu, jadi kami berangkat ke Allianz Stadium masing-masing. Aku dan Marina memutuskan untuk jalan kaki dari Kings Cross menuju Allianz Stadium, Google maps sih bilang jaraknya sekitar 2,4 km, ah masa bodo lah karena dolar udah tipis mau naik taksi mahal juga. Eh bener, sepanjang jalan gerimis. Patah hati rasanya, masa hujan sih. Gak sanggup menerima dan menghadapi kenyataan, lari-lari kecil dan sesekali berteduh di store pinggir jalan kami terus berjalan menuju lokasi dan kebingungan sama arah jalan. Sampe akhirnya kami bertemu sama sepasang papah mamah muda yang lagi asik selfie (menurut riset kami, cuma orang Indo yang selalu selfie dimanapun bahkan ketika di trotoar). Akhirnya kami bertegur sapa dan benar sekali mereka dari Indonesia juga. Ngobrol dan akhirnya jalan bareng ke Allianz Stadium.

Okay, kami sampai.
Okay, sebentar lagi.
Okay, excited.
Banget.

Sesampainya disana, euforia sangat terasa mulai dari pedestrian walk menuju Allianz. Gak jauh beda sama hari sebelumnya, store official merchandise dipenuhi para fans Coldplay yang antre. Kami foto foto di depan Allianz Stadium kemudian lari ke gate sesuai tiket standing silver kami. Saat itu sekitar pukul 16.30, antrian belum terlalu panjang. Kami diminta antri dengan tertib dan menunggu sampai gate dibuka pada pukul 17.30.

img_4427
ALLIANZ STADIUM, we’re here!
img_4436
Bersama Mas Rendra dan Mbak Wina yang baik mau tethering wifi 🙂

Oh iya, ada yang menarik disini. Entah kenapa terasa sekali panitia atau promotor dari konser Coldplay ini sangat menghargai kami. Seakan mereka tahu bahwa kami datang dari jauh dan banyak perjuangan yang harus dibayar untuk datang ke konser ini. Terlihat jelas dari bagaimana panitia memberikan treatment dan berbicara dengan sangat sopan dan humble kepada kami. Menawarkan sunscreen, menawarkan minum dan hal-hal simpel lainnya, jadi seakan terasa antre tidak lagi menjadi hal yang membosankan. Menarik.

Menunggu selama kurang lebih 1,5 jam akhirnya gate dibuka. Kami antri dengan tertib dan masuk menggunakan automatic machine sehingga proses masuk tidak memakan waktu terlalu lama. Sampai di dalam gate, panitia memberikan kami wristband yang nantinya akan menyala selama konser berjalan.

Kami lari.

Akhirnya, ada rasa percaya gak percaya juga ketika kami masuk di dalam Allianz Stadium bersama ribuan penonton lainnya. Buatku dan Marina, ini bukan sekedar nonton konser, ada mimpi yang terkabul di balik perjalanan ini. Agak sentimentil sih bagian ini, tapi ya memang itu adanya. Ah rasanya gak sabar.

img_4515
Inside the stadium
img_4481
The magic wristband, i choose the yellow one

Sebelum Coldplay naik panggung, kami dihibur oleh 2 artis pembuka. Jujur lupa namanya karena yang di otak cuma harapan ketemu Mas Chris Martin aja. Eh tiba-tiba di sela penampilan band pembuka, Mas Chris nongol, mengucapkan selamat datang dan memberitahukan bahwa mereka akan “manggung” pukul 21.00, masih dua jam lagi. Sekitar 5 menit, Mas Chris masuk lagi deh. Jadi makin gak sabar saudara-saudara. Selama 2 jam nunggu, hujan belum juga berhenti. Kami setengah basah kuyup dan kelaperan sampe akhirnya Marina nekat buat keluar dari kerumunan beli makan. Sempet deg-degan karena ini bocah sempet susah balik ke lokasi kami, but God is good, ada yang nolongin Marina buat teriak teriak manggil namaku.

Foto diantara kaki kaki bule dan hujan yang berjatuhan
Foto diantara kaki kaki bule dan hujan yang berjatuhan

Dua jam kemudian.

Tiba-tiba Allianz Stadium gelap gulita. Bener-bener gelap sampai akhirnya ada narasi pembuka yang dibarengi oleh wristband kami yang merah menyala. Semua penonton berteriak, sama sepertiku yang gak sabar menunggu performance Coldplay, band yang membuatku menginjak benua Australia.

Ya, akhirnya Coldplay muncul dengan membawakan lagu A Head Full of Dreams berbarengan dengan nyala terang kembang api sesuai dengan irama lagunya. Ah gila sih ini out of expected, ini konser terbaik. Setiap lagu selalu punya konsep dan warna yang berbeda, terlihat jelas dari wristband yang kami pakai. I uploaded one video, sorry for bad quality, but who cares?

Di konser ini mereka membawakan beberapa lagu antara lain Charlie Brown, Yellow, Fix You, The Scientist, In My Place, Viva La Vida, Every Teardrops is Waterfall, Hymn for The Weekend, Magic, Paradise, Sky Full of Stars, Birds, Clocks, Up and Up dan beberapa lagu lainnya lagi.

Semuanya sempurna. Lighting, sound, euforianya, performance dan konsepnya. Ah ada yang terlintas, ada satu orang yang harusnya bisa berbahagia juga bersamaku disini, pasti akan terlewat sempurna sih jadinya… Aduh, selebihnya bener-bener gak bisa lagi gambarin gimana perasaan dan kerennya konser yang aku liat di depan mata ini. Ini konser gila. Niat. Total. Terbayar sudah semua. Terbayar lunas. Disamping kegelisahan memiliki badan yang gempal dan tenggelam di antara ribuan penonton bule berbadan bongsor lainnya, ini tetap konser terbaik.

Coldplay sing Magic.
Coldplay sing Magic.
img_4649
He’s so~
img_4608
in the middle of sky full of stars

Mungkin ini adalah dua jam tercepat dalam hidupku, ah lebay sedikit boleh ya. Lagi-lagi ini bukan sekedar konser Coldplay, lebih dari itu tidak mudah untukku bisa sampai travelling ke Australia untuk nonton konser ini. Banyak orang bilang hedon dan berlebihan, tidak sama sekali. Banyak perjuangan dan pengorbanan untuk mimpi yang terwujud ini. Bahagia banget sih.

img_4556

Up&up menjadi penutup dari konser spektakuler ini, sekan digantungkan oleh Mas Chris Martin setelah statement terakhirnya, stadium pun kembali terang. Ribuan penonton memanggil agar Coldplay melanjutkan performance-nya pun terasa percuma. Ya, konsernya sudah selesai, sudah rampung. Aku pulang dengan perasaan puas. Aku dan Marina bertemu dengan Wicak dan Keka di luar stadium, kami berpelukan. Lebay lagi ya, tapi seneng banget. Bener-bener seneng. Ya kami berempat bisa bertemu, jalan-jalan, ketawa bareng, sakit kaki bareng, kehilangan duit bayar taksi yang mahal bareng, semuanya karena disatukan niat nonton Coldplay ini.

img_4694
WE MADE IT, MARINA!

Kami kembali ke hostel dengan bahagia, jalan kaki tentu saja. Masih dengan euforia serba Coldplay, pasti. Pamer di sosial media, yaiyalah. Kenorakan kami harus dibagikan soalnya, kayak Wicak yang intagram storiesnya full of konser Coldplay live. Akhirnya dia nyesel karena terlalu banyak recording, haha.

Processed with VSCO with a6 preset
I LOVE YOU, GENGS!

Okay, akhirnya kami harus berpisah karena sesampainya di hostel sekitar pukul 00.00, aku dan Marina bersiap ke bandara untuk melanjutkan trip kami ke Melbourne and catch the flight jam 6.30, daripada ketiduran akhirnya kami pilih langsung berangkat ke bandara. In this post, personally terima kasih ya Mar, Cak, Keka, you guys are the best. Thanks for made this trip as one of my history, you guys more than so loveable!

Menginjak Benua Australia – Halo, Sydney!

It’s been four years since last time went to Europe, aku kembali memberanikan diri untuk menjelajah benua lain lagi, kali ini Australia. Perjalanan ke Australia ini diawali dari official statement salah satu band kesayangan, Coldplay, yang akan menggelar concert-tour A Head Full of Dreams-nya ke Melbourne dan Sydney pada pertengahan Desember 2016. Mengingat Coldplay adalah band yang memiliki idealisme tinggi terhadap environment maka sepertinya untuk mengharap kehadirannya di Indonesia sulit terealisasi.

Persiapan dilakukan sejak bulan Agustus 2016, mulai dari membentuk geng, urus paspor dan visa, menyusun itinerary, membeli tiket dan survey hotel online dan tentunya beli tiket Coldplay! Aku akan share persiapan dua dokumen penting siapatau berguna:

Perpanjang Paspor. Sebagai penduduk Jakarta palsu alias cuma numpang kerja karena KTP masih beralamatkan kota kelahiran yaitu Bandar Lampung, tidak perlu bersedih dan susah-susah urus paspor. Cukup datang ke Kantor Imigrasi terdekat, kebetulan karena kantorku tetanggaan sama Kantor Imigrasi Jakarta Pusat jadi urus disana dengan membawa beberapa syarat antara lain KK (asli+FC), KTP (asli+FC), Paspor Lama (asli+FC), Akta Kelahiran (Asli+FC). Voila antri sekitar 2 jam langsung foto dan paspor baru ada di tangan setelah 3 hari dengan biaya Rp 355.000. Gampang banget!

Pengurusan Visa. Karena jam kerja kantor yang lumayan padat yaitu 8 to 5 every Monday untul Friday jadi urusan visa aku percayakan menggunakan jasa travel, Dwidayatour. Biaya yang diperlukan Rp 1.750.000 dengan memberikan beberapa dokumen yaitu : Paspor Baru dan Lama (asli +FC), Pas Foto Background Putih, Surat Sponsor dari Kantor, KK (asli+FC), KTP (asli+FC), FC Buku Tabungan (diatas 50 juta, tapi tabunganku kurang dari itu sih fine aja kok). Setelah menyerahkan dokumen akan dilakukan verifikasi oleh pihak travel dan kemudian visa keluar dalam hitungan 10 hari kerja. Lancar!

Dua dokumen penting sudah di tangan, akhirnya setelah semuanya rampung kami membeli tiket untuk berangkat, ke Australia negeri wool! Oh iya, untuk tiket hostel dan kosmetik perjalanan lainnya alhamdulillah aku dibantu sama seorang teman baik hati yang punya jasa travel kece. MAS ANDI I LAFF YOU!

Nah, perjalanan ini terdiri dari 4 personil memesona, yaitu aku, Marina, Wicak dan Keka. They were my babies that made this trip beyond amazing, yuk aku kenalin :

img_4031
Keka – Wicak – Marina – Tika
Siltami Ledi Marina (Marina)
Pertama kali ketemu Marina di tahun 2012, kami tergabung dalam organisasi AIESEC dan mengikuti program Edison Project di Republik Ceko. Kami berdua ditemukan oleh Benua Eropa dan akhirnya kembali bertemu karena sama-sama kerja di Jakarta. Marina itu, berkali kali lipat hobi foto dibanding aku kapanpun dan dimanapun dan gak pernah makan. Siap-siap kalo jadi partner travellingnya bakal kesel liat nih anak gak pernah makan.

Yanuar Wicaksono (Wicak)
Sebelumnya pernah trip bareng Wicak and the gengs we called The Cukers tahun 2010 ke Singapore. Nyambung banget karena anaknya spontan dan easy going parah. Dadakan ngajakin ke Oz buat nonton Coldplay langsung mau, yaudah kami bertemu kembali.

Putri Sekar Ningtyas (Keka)
Anak manis adik kandung Wicak yang manis banget. Udah sih intinya anaknya manis banget dan member termuda di antara kami berempat.

Yak, bersama merekalah trip to Oz ini akan berjalan seminggu ke depan, so let’s start the trip full of dreams!

10 Desember 2016,
Penerbangan kami dijadwalkan pukul 15.10 WIB dari Bandara Soekarno Hatta untuk transit di Kuala Lumpur International Airport sebelum ke Sydney dengan menggunakan Air Asia. Waktu terbang menuju KLIA adalah sekitar 2 jam, lalu sekitar pukul 19.00 waktu Malaysia kami harus berganti pesawat yang dijadwalkan berangkat pada pukul 23.45. Selama di KLIA kami berdua mengisi perut dengan menu yang aku cari, Nasi Lemak. Marina? Dia makan “sampah” salad Popeye yang isinya sayur-sayuran kering gak jelas, enak sih tapi tetep aja sampah. After, kita datang ke gate 11 then we die for 8 hours sleep on plane heading to Sydney! Can’t wait to landed!

img_3365
8 hours on plan heading to Sydney from KLIA
11 Desember 2016,
Landed safely sekitar pukul 11.00 siang waktu Sydney! Ah, seneng banget rasanya setelah 8 jam di dalam pesawat akhirnya bisa menyentuh daratan dengan rasa bahagia dan syukur karena petualangan seminggu ke depan segera dimulai. Turun dari pesawat kami langsung ambil kamera dan mengabadikan beberapa moment dalam beberapa jepretan sebelum masuk zona imigrasi. Mengantri di imigrasi sampai mendapat giliran selama 1 jam, setelah semuanya selesai sambil menunggu bagasi kami kembali mengambil beberapa foto sampai akhirnya ada seorang petugas imigrasi mendatangi dan “memarahi” kami. Salah apa, pikirku. Ternyata dia mengingatkan kami secara tegas untuk tidak mengambil foto di area dalam bandara. Sial, dia hapus semua foto kami. Hadeh, yasudahlah…

Keluar dari bandara, kami berdua mencari shuttle bus menuju Kings Cross, kebingungan sudah pasti. Sampai akhirnya ada seorang Bapak baik hati menyapa kami dengan Bahasa Indonesia, ia mengaku sebagai pekerja kebersihan bandara berasal dari Flores. Sudah menetap di Sydney selama kurang lebih 20 tahun. Luar biasa pikirku. Dengan ramah beliau menunjukkan kemana kami harus mencari bus shuttle. Bersyukur masih ditemukan orang baik. Meskipun setelah diberi arah, kami tetap bingung sih!

img_3382
Si Bapak baik hati, Flores Indonesian who help us to find shuttle bus.
Menunggu sekitar 2 jam lebih, karena menurut info kami tidak harus membayar uang untuk menggunakan shuttle bus, karena transportasi menuju hostel sudah merupakan fasilitas gratis dari tempat kami menginap, yaitu Jolly Swagman Backpackers Hostel. Tapi nyatanya semua shuttle bus meminta biaya $15/person, mau gimana lagi dong. Akhirnya kami memilih shutlle bus “Airbus” menuju Kings Cross kurang lebih 45 menit.

Driver mengantarkan kami sampai depan Jolly Swagmann Backpackers Hostel di daerah Kingscross. Hostelnya lucu penuh warna. Kami memilih hostel dengan type one shared room with 6 bed. Hostel merupakan pilihan yang tepat untuk traveller yang hanya numpang tidur, karena memang akan gak nyaman kalau harus banyak menghabiskan waktu di dalam kamar secara kita harus shared room dengan orang asing. Tapi menariknya kita bisa ngobrol sama “stranger” yang kadang bisa tukar cerita dan info berguna terkait tempat wisata. Oh iya di hostel ini kami dikenakan charge sebesar $30-35/person/night sudah termasuk sarapan (roti doang ya sarapannya).

img_3842
The Jolly Swagman Backpackers Hostel
img_3393

img_3394

Setelah check-in aku dan Marina langsung bersiap untuk mulai sightseeing the city. Excited sekali. Marina sudah menyusun itinerary selama di Sydney yang harus kami kunjungi selagi menunggu Wicak dan Keka yang baru landing malam hari. Here we go:

Karena stamina masih full maka kami memutuskan untuk keliling kota berjalan kaki, selain itu untuk hemat juga sih karena memang biaya transportasi di Sydney terbilang mahal, hehe. Maklum kami anak “murahan”, kalo bisa yang murah dan paling murah deh.

Hyde Park. Salah satu taman yang cukup terkenal di Sydney. Ada apa disana? Ya taman, selayaknya taman, hehe. Di sekitarnya ada sebuah gereja besar yang cukup dijadikan icon Sydney yaitu St. Mary’s Cathedral. Setelah masuk dan puas berfoto, kami melanjutkan untuk berkeliling ke berbagai sudut Hyde Park. Ambience-nya asik banget, bersih dan sebagai pecinta public space, taman ini benar-benar menjadi titik istirahat sebuah kota karena berada di pusat kota yang dikelilingi gedung tinggi.

img_3458
St. Mary’s Cathedral

img_3485
Hyde Park
Bosan, akhirnya kami kembali berjalan menuju Art Gallery of New South Wales. Sayangnya niat kami untuk berkunjung masuk ke dalam gagal karena museumnya sudah tutup. Selanjutnya kami hanya berjalan di sekitarnya menuju ke Parliament Building. Sepanjang perjalanan, kami gak pernah berhenti ketawa, menertawai tingkah norak kami berdua yang selalu foto dimanapun. Di jalan raya, depan patung, depan toko, trotoar. Bersyukur sih punya partner travel yang norak, bahkan kalo soal foto lebih norak dia (Maaf ya, Mar. Ini ungkapan jujur seorang instagram best friend. Haha). Nah sampai akhirnya adegan kelebihan tawa harus terhenti. Dompet Tika hilang. Hilang.

img_3585
New South Wales Art Gallery
Ya, hilang. Panik. Bukan Tika kalo gak panik. Ya iyalah panik, semua uang untuk hidup 7 hari ke depan ada di dompet, kartu kredit, kartu debet dan kartu lainnya ada disana. Nangis, ya seperti biasa Tika cuma bisa nangis. Akhirnya aku dan Marina bertekad mencari kantor polisi terdekat dengan bertanya kepada orang sekitar. Syukurlah ada seorang pria (asalnya dari Hongkong, ganteng, badannya atletis) yang menunjukkan kami kantor polisi terdekat dan letaknya bersebrangan dengan Sydney Opera House. Kami berjalan cepat dan pasrah melihat keindahan Sydney Opera House dan Harbour Bridge tapi belum bisa mampir karena harus ke kantor polisi. Sampai di kantor polisi mereka cukup membantu. Aku diminta mengisi formulir keterangan kehilangan gitu, udah gak konsentrasi sih gelisah banget sebenernya. Setelah itu kami memutuskan kembali ke tempat pertama kali aku membuka dompet, yaitu di Subway daerah Kings Cross by train. Pinjam uang Marina tentunya (Makasih yaMar, i love you lah pokoknya). Setibanya di Subway, mas mas kasir memberitahu bahwa ada pria yang menemukan dompetku dan meninggalkan nomor hp untuk dihubungi. Gila, rasanya udah gak mungkin tapi ini beneran nyata. Andrew, seorang pekerja Incident Response yang lewat di depan subway sore tadi dan melihat dompetku di trotoar. Udah gak ngerti lagi. Tuhan baik banget. Marina baik banget. Andrew baik banget. Abang kasirnya baik banget. Bersyukur. Kalo seandainya dompet gak ketemu, mungkin hasrat jalan-jalan udah terkubur dalam kali.

img_3695
Andrew, pria baik hati yang nemuin dompetku :”)
The day was over, we back to the hostel and found Wicak and Keka inside! Welcome to Sydney guys!

12 Desember 2016
Pagi jam 07.30 aku dipaksa ikut Marina lari pagi. Gila apa ya. Tapi gak punya pilihan, terlanjur temen jadi harus mau. Wicak dan Keka? Mereka memilih tidur. Envy you guys! Berlari menuju Sydney Opera House through Royal Botanical Garden, take photos and enjoy the view. Ini kota cantik banget sih, tamannya bagus bersih dan berlari sepanjang 3 km gak kerasa. Ngos-ngosan, sampai akhirnya melihat Harbour Bridge dan Sydney Opera House di depan mata! Uwooooo, biasanya cuma bisa liat di papan monopoli, sekarang bisa liat nyata dan langsung. Thanks Mar for wake me up, no regret kok!

img_3723
Royal Botanical Garden

img_3797
In front of Sydney Opera House and Harbour Bridge

Processed with VSCO with a6 preset
Around Circulay Quay
Kembali ke hostel untuk mandi dan bersiap sekaligus menjmeput Wicak dan Keka menuju destinasi hari ini ke Bondi Beach. Sebelumnya kami mengisi perut di Subway. So far, Subway is the most recomended place, harganya murah dan porsinya besar plus cookies-nya enak banget, already miss it! Baru akhirnya kami menuju train station dan membeli Opal Card yang digunakan untuk naik berbagai transportasi selama di Sydney seharga $20, mahal ya~

img_3924
Subway always right

img_3929
I loved the train, at least bisa istirahat dari kekejaman jalan kaki
Dari Kings Cross kami naik train menuju Bondi Junction untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Bondi Beach dengan bus. Perjalanan memakan waktu 30 menit dan akhirnya kami sampai! Wohooo, panas terik dan indah sekali! Birunya langit, bersihnya pantai dan lembutnya pasir jadi pemandangan yang mahal. Setelah puas berfoto, kami melanjutkan perjalanan menuju Bronte Beach di sepanjang Coastal Walk. Ahhhh Coastal Walk keren banget sih dan pas banget buat ngitemin badan. Ya, kami gosong mendadak. Tapi terbayar dengan pemandangan di sepanjang Coastal Walk yang luar biasa indah itu. Kemudian sampai di Bronte, laper dan yaudah kami memutuskan untuk meninggalkan kawasan pantai dan kembali ke kota karena rencana selanjutnya adalah cruising di bawah Harbour Bridge.

img_3850
Bondi Beach

dscf1833
Coastal Walk

dscf1838
one spot in Coastal Walk

DCIM100GOPROG0075464.
Everybody’s Happy!
Sampai di city, kami langsung memberli tiket untuk naik ferry dari Circular Quay menuju Darling Harbour untuk menikmati pemandangan Harbour Bridge lebih dekat. Membayar 5$ kami menghabiskan sekitar 10-15 menit di kapal ferry dan mengambil foto sepuas-puasnya, norak? Pastilah! Oh iya niatnya sih pengen nemenin Wicak dan Keka untuk makan steak di daerah Darling Harbour, tapi ternyata sampai disana restonya udah tutup. Poor you guys! Gagal makan mewah deh…

dscf1881
$5 for this amazing view
img_3944

dscf1895
around Darling Harbour
Karena capek banget, akhirnya kami memutuskan pulang ke hostel untuk istirahat, naik taksi. Infonya taksi cukup pricey di Sydney, tapi karena kita horang khaya jadi gak masalah untuk mencoba. Dan ternyataaaaaa, benar! Jarak tempuh sekitar 2-3 km harus dibayar dengan biaya sebesar $24.

Sekitar pukul 20.00 kami bersiap menuju Sydney Eye Tower, salah satu menara tertinggi di Sydney yang biasanya dikunjungi untuk melihat kota Sydney dari ketinggian 309 m. Harga normal untuk naik Sydney Eye Tower adalah sebesar $24, tapi kami beli dengan harga lebih murah melalui jasa hostel sehingga kami hanya perlu membayar sebesar $18. Dari Sydney Tower kami bisa memandang jauh kota Sydney dan terlihat jelas posisi Harbour Bridge dan Syndey Opera House dengan city light-nya, Cantik.

img_4060
Sydney citilight from Sydney Eye Tower *gelep*
Belum kelewat lelah, kami akan makan malam di Cruise Bar untuk melihat Syndey Opera House lebih leluasa di malam hari. Gak bisa berlama-lama, karena tepat saat kami sampai, Cruise Bar telah menuju last order time, jadi yaudah makan seadanya sambil ya apalgi kalau bukan foto-foto. Makannya lumayan dan gak terlalu pricey juga. Sebanding lah dengan pemandangan yang kami dapatkan. Setelah kenyang, kami pulang. Meluruskan kaki. Unfortunately, kakiku bengkak. Besok beli sandal jepit. Harus!

dscf1970
Dinner at Cruise Bar
13 Desember 2016.
Bangun pagi, beranjak dari kasur. Kaki rasanya sakit banget. Paha kenceng, cek iphone ternyata kemarin kami menempuh jalan sepanjang 15 km dengan jalan kaki. Jauh juga ternyata ya! Angkat kaki menjadi pekerjaan paling sulit kala itu, kaki juga semakin bengkak. Cita-cita terdekat adalah beli sandal jepit. Destinasi hari ini adalah menjajaki Pitt Street, one of famous street di Sydney dan Queen Victoria Building untuk beli coat, karena dilangsir tanggal 14 Desember 2016 saat konser Coldplay digelar akan turun hujan. Sedih, tapi kenyataan ini harus dihadapi. Syukurlah, dimana-mana sale and so blessed i found a HnM coat with only $20. Yeay! Setelah itu aku dan Marina memisahkan diri dari Wicak dan Keka, karena kami berdua akan pergi ke QVB sedangkan kakak beradik mau beli iphone 7. Sampai di QVB kesan pertama cantik dan anggun. QVB adalah pusat perbelanjaan yang fancy banget, dekorasi di dalamnya pun sama. Gak belanja, karena isinya brand mahal semua, hehe jadi kami hanya berkeliling sebentar mengingat kami harus bertemu Mbak Viena, tiket Coldplay kami masih di tangannya. Ini penting, Penting!

img_4110
Pitt Street

dscf1983
Queen Victoria Building
Mbak Viena adalah temannya Mbak Nia, Mbak Nia itu teman kantorku. Kebetulan tinggal di Sydney jadi aku minta bantuan untuk dibelikan tiket Coldplay. Janjian ketemu di central station, ketemu dan transaksi terjadi. Tiket Coldplay resmi di tangan! Yeay!

Setelah mengambil tiket Coldplay aku dan Marina menuju ke Sydney Opera House untuk bertemu kembali dengan Wicak dan Keka, rencananya sih makan siang di pinggiran Sydney Opera House dan bertemu dengan teman kami dari Jakarta yang tinggal disana, Mbak Naia. Samapi disana bukannya makan, kami Cuma numpang ngobrol dan tentu aja foto-foto dan memilih pindah ke McD, makan dengan harga yang lebih masuk akal, hehe.

img_4283
Numpang foto di pinggiran Sydney Opera House
Sampai di McD, kami duduk dan memelas diri karena rasanya badan ini udah bener-bener out of reach. Capek. Banget. Kami menghabiskan waktu sekitar 1 jam untuk sekedar mengistirahatkan kaki dan ketawa-ketawa gak jelas. Oh iya, hari itu wabah “lalat” sudah mulai hadir di kehidupan kami. Gak tau kenapa, apa karena kami memakai baju berwarna hitam atau karena bau badan, lalat gak pernah bosan mengitari kami. Kzl.

DCIM100GOPROG0095478.
Muka lemes, lepek, dilalerin
Sekitar pukul 16.00, kami akan cek lokasi ke Allianz Stadium yang memang pada hari itu Concert Tour Coldplay hari 1 di Sydney digelar. Ya pengen tau aja sih dan juga pengen beli merchandise-nya dong. Kami naik taksi lagi. Ternyata kami lebih sayang kaki daripada uang. Dan, sampai di Allianz Stadium, kami gak bisa bohong kalo euphoria untuk nonton Coldplay bener-bener berasa banget dan rasanya gak sabar untuk cepet ke hari esok! Antrian store official merchandise Coldplay lumayan panjang, rencana untuk beli kaos Coldplay dalam jumlah banyak harus runtuh ketika melihat harga satu kaosnya, $50!!! Mahal banget! Akhirnya Cuma beli 1 kaos, untuk diri sendiri~

Gak mau terlalu capek. Besok harus pasang tenaga untuk nonton konser, kami pulang kembali ke hostel. Kali ini, naik Uber! Uber is cheaper than taxi, thanks Gusti Allah! Oh iya, dinner kami malam ini istimewa. INDOMIE!

14 Desember 2016
Hari ini jadwal utama kami tentu saja GOES TO THE AMAZING CONCERT COLDPLAY! Tapi berhubung open gate pukul 17.30 jadi aku dan Marina menyempatkan diri untuk beli oleh-oleh ke Paddy’s Market. Kami berangkat sekitar pukul 10.00 pagi by train. Sampai disana kalap deh, kami beli banyak banget dan harganya juga murah-murah. Jangan takut dibohongin, karena banyak banget orang Indonesia yang jual souvenir disana dan biasanya mereka kasih harga pasti tanpa ditawar tapi worth it kok meskipun kasonya juga tetep made in China, hahaha.

Sekitar jam 12.00 kami pulang menuju hostel karena rencananya kami akan mulai antri di gate pukul 16.00 jadi harus sampai di Allianz Stadium sesegera mungkin. Okay, sampai disini dulu deh ceritanya. Butuh chapter tersendiri untuk menceritakan Coldplay Concert, i’ll write it soon!

Don’t You Shiver?

So I look in your direction,
But you pay me no attention, do you?
I know you don’t listen to me.
’cause you say you see straight through me, don’t you?

And on and on from the moment I wake,
To the moment I sleep,
I’ll be there by your side,
Just you try and stop me,
I’ll be waiting in line,
Just to see if you care.

Did you want me to change?
Well I changed for good
And I want you to know.
That you’ll always get your way
I wanted to say,

Don’t you Shiver?
Shiver
Sing it loud and clear

I’ll always be waiting for you,
So you know how much I need you,
But you never even see me, do you?
And is this my final chance of getting you?

And it’s you I see, but you don’t see me.
And it’s you I hear, so loud and so clear
I sing it loud and clear.
And I’ll always be waiting for you.

So I look in your direction,
But you pay me no attention,
And you know how much I need you,
But you never even see me.

(Shiver by Coldplay)

Sampai Jumpa di Seoul!

Mungkin aku adalah salah satu anak yang beruntung, punya kakak yang bisa dijadikan sahabat sekaligus role model. Kakak yang selalu berhasil mencontohkan hal-hal baik dalam berbagai lini termasuk prestasi karirnya. Bekerja di Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, dia sadar betul sedari awal melamar kerja disana maka akan tiba waktunya penugasan untuk ditempatkan di luar negeri. Ya hari itu tiba kemarin, akhirnya setelah sekian lama menunggu pengumuman penempatan kerja, kemarin dia meninggalkan kami bertugas ke Seoul, Korea Selatan selama 3,5 tahun ke depan.

Keputusan Mbak Cita untuk pindah memboyong 2 anaknya yang masih balita dan Mas Dante pun diambil. Ada rasa haru disini, melihat Mbak Cita dan Mas Dante kompak saling support satu sama lain. Tentu saja Mas Dante luar biasa.

Sebagai adik, bahagia sudah pasti. Namun ternyata tidak hanya bahagia, sewajarnya menjadi yang ditinggalkan selalu menyisakan rasa gundah. Selama ini 2 tahun lebih bekerja di Jakarta, Mbak Cita selalu menjadi alasan kemana weekend-ku berakhir. Tidak jarang aku datang ke rumahnya hanya untuk numpang tidur setelah pergi semalaman dengan teman-teman, minta makan, minjem baju, make – up, sampe minjem duit, belum lagi kebiasaan meninggalkan cucian untuk menghemat anggaran laundry setiap bulan.

Apalagi? Banyak sekali.

Sering rasanya datang ke rumahnya untuk menangis sejadi-jadinya. Menceritakan naik turunnya kisah percintaan sejujur-jujurnya tanpa pernah mendapat judgement, mengeluh tentang karir, diskusi dan bertanya tentang agama, ataupun sekedar melihat kegiatannya di rumah kecapekan mengurus 2 anak laki-lakinya yang sangat aku sayangi. Tidak hanya dengan Mbak Cita, hubunganku dengan Alfath dan Akhtar juga menjadi hal yang selalu aku rindukan. Meskipun belum menjadi Tante yang bisa “ngemong” tapi melihat kebawelan dan kelincahan mereka menjadi energi sendiri sebelum menghadapi hari Senin. Belum lagi diskusi-diskusi kecil bareng Mas Dante tentang banyak hal, belakangan kami nyambung diskusi soal agama. Sejarah nabi dan hal lainnya yang mungkin selama ini belum banyak aku pahami. Sampai akhirnya rajin ikut Kajian Rabbanians juga karena saran dari Mas Dante.

I’m gonna miss them.

Pada akhirnya doa menjadi jurus terakhir untuk menghadapi rasanya ditinggal sementara dalam waktu lama. Semoga kalian baik-baik saja, semoga tidak ada halangan berarti di negara seberang, dibukakan jalan rezeki yang lebih baik dan barokah. Kangen sudah pasti. Sampai saat menulis sekarangpun masih gak percaya harus kemana ngehabisin weekend 3,5 tahun ke depan, kemana mau cerita dan minta pertimbangan tentang “woman things”, kemana kalo kangen sama 2 bedul yang mulai pinter. Hhh…

Yasudah. Semoga cepet menyusul, biasanya pergerakan bagus Mbak Cita membuka jalan juga buat menstimulus pergerakan di hidup aku secara personal. Aamiin. Sampai jumpa di Seoul, Mbak!

Yang pertama kali

Beberapa hari lalu seorang teman mengupload foto dengan caption yang menarik sekali.

“Kapan terakhir kali kamu melakukan hal yang pertama kali?”

Sangat menggelisahkan, otak ini kemudian dipaksa untuk memikirkan jawaban dari pertanyaan tersebut. Susah sekali untuk dijawab. Gila, se-statis itu kah hidup belakangan ini?

Bangun, berangkat kerja, bertemu dengan teman-teman kantor, sesekali dipuji dan dimarahi bos, makan siang, kembali kerja, lembur, pulang, tidur dan begitu seterusnya. How come my life become so that boring?

Ini bukan berarti tidak bersyukur, cuma sepertinya sudah lama sekali badan ini tidak diajak berpetualang atau menikmati hal-hal yang belum pernah dilakukan sebelumnya, keluar dari zona itu-itu saja. Rasanya rindu sekali dengan masa pertukaran pelajar ketika petualangan tersebut menjadi serba pertama kali. Pertama kali aboard sendirian, pertama kali menginjak Eropa, pertama kali tersesat di Budapest, pertama kali datang dan amaze sama Auschwitz Birkenau, pertama kali perform tari Bali di depan puluhan pelajar asing dan pertama pertama kali yang lainnya. Sampe rasanya minder kalau harus menilik kembali foto-foto lama saat itu, entah kalau diulang apa iya masih berani.

Atau pengalaman pertama kali satu ruangan dengan banyak menteri di Indonesia, menjadi yang tampil untuk memberikan kenang-kenangan kepada Bapak Hatta Rajasa di depan media, keliling provinsi untuk meliput kegiatan menteri. Lumayan seru juga ternyata masa kerja di instansi pemerintahan.

Sampai lebih dari semester I tahun ini belum banyak pengalaman yang bisa dibanggakan atau menjadi point of the year. Banyak wishlist yang belum terwujud juga karena terlalu banyak pertimbangan yang akhirnya membuat banyak keinginan tertunda. Pengen skydive, bungee jumping, jalan ke Bromo, ke Malang dan tempat-tempat kece lainnya.

Tidak ada masalah sebenernya, tulisan ini hanya sebuah renungan yang datang dari kegelisahan. Harapannya sih bisa bikin jengah otak, hati dan pikiran untuk berpikir apalagi yang harus dilakukan agar bisa mencari pertama pertama yang lain. Jadi hidup tidak begitu-begitu saja.