Bergulir pada dua hati.

Minggu pagi yang tidak akan pernah aku lupa. Suara tinggi di seberang telepon yang penuh amarah hingga tak satu kata pun mampu tercurah. Aku hanya bisa menjadi seperti biasa menangis penuh resah.

Kedua mata itu kemudian datang, menatapku lekat bersamaan dengan hangat kedua tangannya yang menggenggam erat seakan berkata tenang semua baik saja. Dia biarkan aku berurai tangis ketika kututup telepon genggamku. Memelukku sampai semuanya mereda.

Dia memberiku ruang. Ruang untuk menjadi diriku yang jauh sempurna.
Dia memberiku waktu. Waktu untuk menapak kembali pada nyata yang harus dihadapi.
Dia memberiku rasa. Rasa untuk percaya bahwa dia akan selalu ada.

Kusudahi sedu sedan itu dengan segera.
Kupeluk dia yang sedari tadi ada di depanku.

Setelah apa yang terjadi, hati ini telah berhenti berlabuh, kepada dia yang memberi yakin bahwa semua akan baik saja selama mata itu, tangan itu, dan hati itu selalu bersama dan tidak saling meninggalkan. Dunia akan selalu bergantian sesuka hati menjadi hitam dan putih, tak perdulilah kita tidak akan tertatih.

Selalu sama, doaku akan selalu sama. Segeralah dunia berporos pada kebaikan yang bergulir pada dua hati, yang tak mungkin kuat bila harus berdiri sendiri.

Advertisements

Tahun 2017 yang sederhana.

Sederhana, buat saya tahun ini adalah sepanjang tahun yang sederhana bahkan terlalu mengalir. Saya pun dipaksa untuk mengalir mengikuti arus kemana tahun ini membawa.

Masih di Angkasa Pura Property.
Saya salah satu yang setia soal kerjaan apalagi kalau lingkungan sosial sudah mendukung, kadang zona nyaman jadi tantangan. Masih disini, tahun ketiga menjadi corporate communication. Awal tahun merencanakan gathering untuk ratusan karyawan, lumayan melelahkan. Kami juga pindah kantor. Ah iya, saya dan Yegar Adishakti menerbitkan APPDATE! Baru dua kali terbit sih, semoga akan selalu konsisten sebelumnya. How my job will be without you Mas Ye! Ada kesedihan juga ketika beberapa temen resign. Selalu begitu ada yang datang dan ada yang pergi bergiliran, Mas Anom, Mas Andi, Indah dan yang akan datang di awal Januari adalah kehilangan si Ompong Osi Febryan. But we deserve happiness. Kita lihat apa saya masih akan menulis judul yang sama di tahun depan?

Angkasa Pura Property Gathering 3 Maret 2017. Exhausted yet fun!
Masih bergumul dengan Exhibition

Satu negara baru lagi.
Semenjak tahun 2016 saya punya mimpi kecil-kecilan yaitu minimal bisa membawa saya diri sendiri ke negara baru di dunia. Akhir tahun lalu saya pergi ke Australia, tahun ini saya menginjakkan kaki di Korea Selatan, Seoul. Terasa sangat mudah karena Mbak Cita kerja disana jadi we just live like local. Mengunjungi dua keponakan saya yang banyak saya lewati pertumbuhannya. Andai-andai untuk sering main dan beli mainan sering tertunda karena jarak. Soal Seoul, saya tidak pernah merencanakan untuk jatuh cinta sama negara ini, namun realitanya saya dibikin cinta. Kali pertama melihat sakura. Indah sekali! Tahun depan, akan ada rencana untuk ke negara lain, bismillah semoga semua dilancarkan.

Workshop Gratis.
Malas adalah nama tengah saya. Seringkali cuma punya asa tanpa usaha. Jadilah saya cari cari kegiatan yang paling tidak bisa terkesan akademik di feed instagram saya. Ada dua seminar berkesan yang saya ikuti di tahun ini yaitu Creativepreuner dan CIFP 2017 (Conference on Indonesian Foreign Policy). Kalau ikut acara seminar seperti itu seringkali saya merasa kosong dan belum menghasilkan apa-apa. Itulah gunanya, untuk memotivasi, menjadikan hebat pada jalannya masing-masing tentu saja. Kalau kata Soekarno “Jangan tanyakan apa yang negara berikan padamu, tapi apa yang sudah kamu berikan untuk Negara?” Cukup bergelorakah? 😅

Creativepreuneur -lupa kapan-

Ngeduren dan Tantikashop.
Gak bisa dibohongi kalau saya suka sekali berniaga. Mulai bosan dengan kerja di kantor, saya mencoba kembali untuk berjualan Ngeduren dan membuka lini baru yaitu Tantikashop. Semuanya menyenangkan. Semoga bisa terus membuat saya hidup di tengah kehidupan ini ya.

Muhammad Kemal Pasha.
Yang terdekat belakangan. Semoga kebiasaan ngumpat kita berkurang di tahun depan ya, cause we deserve a happy life!

New Year Eve 2018

Personal Life.
Masih disuruh belajar. Ada yang datang kemudian pergi. Belajar memahami, meluaskan sabar, melebarkan ikhlas dan tulus, mendengar lebih banyak. Everythings depends on yourself. Semuanya bisa menjadi guru sekaligus murid. Fokus sama diri sendiri bukan juga egois, karena betul sekali tidak ada yang akan memikirkan kita kecuali kita sendiri.

Selamat tinggal 2017. 2018 should be better and happiness project will going through the year, i promise.

PS : ditulis saat menunggu sushi mentai di Bar Sushi Tei Lotte Kuningan. Considering about talk with stranger, right beside me 😂

Pulang kampung.

Bertahun yang lalu kamu pernah bilang, pulang kampung saatnya menabung silahturahim. Mengumpulkan pundi pundi restu dari mereka yang jauh setiap harinya. Menyambangi satu persatu teman, saudara dan memberikan waktu yang cukup untuk bertukar cerita dengan mereka, orangtua terutama.

Awalnya aku merasa terlalu berlebih. Bukankah pulang kampung menjadi saat yang tepat untuk kita berleha-leha. Istirahat dari hiruk pikuk sibuknya pekerjaan yang kita emban setiap hari, di Jakarta lagi. Pulang kampung artinya kita yang minta pelayanan dari orangtua, kapan lagi dimanja? 

Setelah bertahun yang lewat, mungkin aku baru menyadarinya sekarang. Ketika aku melihat betapa pentingnya waktu bersama mereka. Teman, saudara dan orangtua yang kutinggalkan saat merantau. Mereka yang membentuk masa laluku sedemikian indah dan sedikit banyak menyelipkan doa agar kepergianku merantau baik baik saja. Apalah salahnya mengorbankan waktu tidur, waktu bersantai untuk menyambangi mereka, bersenda gurau, bertukar cerita dan saling mendoakan. Tidak ada alasan malas menghabiskan waktu pulang kampung untuk itu semua.

Akhirnya, tiga hari yang ada kubagi rata untuk mereka. Mendatangi satu persatu, mendoakan mereka yang pernah satu-satunya ada pada masanya. Masa sulit yang perlahan telah berubah, termasuk mereka yang juga berubah, menjadi lebih baik tentu saja. Ya siapatau, doa dari orang orang baik akan menjadikanku sama baiknya. 

Terbiasa

Kebiasaan, ya namanya juga kebiasaan pasti janggal kalau kemudian tidak dilakukan. Seperti ketika bangun tidur ada orang yang harus menegak air mineral atau mungkin ada yang “ngulet” dulu sebelum berangkat ke kamar mandi dan melanjutkan ritual paginya. Sehingga apabila ada satu kegiatan yang tidak dilakukan wajar jika dirasa kurang.

Secara psikologis dibutuhkan 21 hari untuk membentuk kebiasaan baru. Berarti sebaliknya juga, dibutuhan waktu yang sama untuk mengubah suatu kebiasaan. Dan menurut saya, lebih sulit mengubah daripada membentuk meskipun keduanya berujung pada suatu kebiasaan baru. Ya simpelnya, tidak ada orang yang bisa begitu saja legowo dengan yang namanya kehilangan.

Tulisan ini bukan tentang kehilangan, hanya saja kebiasaan lama terbesit dirindukan. Ada kalanya saya rindu dengan kebiasaan dua tahun lalu ketika setiap hari saya harus bangun pagi untuk mengejar kereta. Jalan kaki di sepanjang rel kereta, menikmati suara langkah kaki para pencari nafkah. Atau tiga tahun lalu ketika setiap hari harus terlebih dulu jalan kaki untuk naik angkot ke kantor. Kebiasaan itu lambat laun berubah.

Seperti tulisan saya yang sebelumnya, perubahan adalah satu hal yang tidak bisa dielakkan. Semua telah berubah tentu saja kebiasaan lama harus ditinggalkan agar segalanya menjadi lebih baik. Bahkan 21 hari pun hilang begitu saja terhapus waktu dan mulai membiasa.

Saya ingin memeluk waktu, mendendangkannya dengan nada-nada sumbang, pergi dan kemudian pulang lagi ke pelukannya. Memutar waktu sesuka hati sampai akhirnya lupa bahwa saya sudah ada di masa depan.

Terbesit, hanya sesekali saja. Sepatutnya tidak ada kebiasaan yang terus mengakar, hanya saja saya manusia yang masih terlalu takut untuk tegap melangkah maju. Mungkin karena belum terbiasa.

You can’t stop me

You can’t stop me writing about you.
Every little things about you.

About how you talk.
About how you explain the world.
About how you breath.

About how you laugh.
About how you always make me staring at you.
About how you always make me kiss your arm.

About the fear.
About the change.
About the limit.

About the dream.
About the hope.
About the failure.

You can’t stop me writing about you.
Cause you’re the only reason why i still put my fingers on this paper.

Gombal Sinestesia

Hujan rintik membasahi aspal. Mereka akan melewati Jalan Surabaya di bilangan Menteng ketika lagu Efek Rumah Kaca memecah hening.

“Kamu tau gak apa arti Sinestesia?” Sheila memandang Raga sungguh-sungguh.

“Katanya sih album terakhirnya Efek Rumah Kaca.” ujar Raga tanpa ekspresi.

“Bukan itu konteksnya, Ga.”

“Terus, apa dong?”

“Ya apa dong?”

“Merah, Biru, Jingga, Hijau, Putih, Kuning?”

“Ah, kamu.”

“Kamu itu memenuhi semua kebutuhan panca inderaku. Itu Sinestesia versiku.”

Jalan Surabaya tiba tiba dipenuhi dengan daun gugur yang berjatuhan dari pohon jati pinggir jalan.

Menginjak Benua Australia – Coldplay A Head Full of Dreams Concert

Setelah selesai berbelanja sepuasnya untuk keperluan oleh-oleh di Paddy’s Market, kami pulang ke hostel untuk taruh belanjaan. Jadi ada yang bikin sedih, kemarin malam Keka kasih kabar kalau hari ini akan datang hujan dari jam 20.00 – 24.00. Mayan shock, dan makin shock ketika liat luar jendela saat kami mau berangkat, ternyata memang mendung. Okelah, nasib sih kalo ini.

Akhirnya aku dan Marina berangkat. Wicak dan Keka yang kebetulan juga beda jurusan (mereka beli gold seat sedangkan aku dan Marina beli tiket standing silver) masih mau kulineran dulu, jadi kami berangkat ke Allianz Stadium masing-masing. Aku dan Marina memutuskan untuk jalan kaki dari Kings Cross menuju Allianz Stadium, Google maps sih bilang jaraknya sekitar 2,4 km, ah masa bodo lah karena dolar udah tipis mau naik taksi mahal juga. Eh bener, sepanjang jalan gerimis. Patah hati rasanya, masa hujan sih. Gak sanggup menerima dan menghadapi kenyataan, lari-lari kecil dan sesekali berteduh di store pinggir jalan kami terus berjalan menuju lokasi dan kebingungan sama arah jalan. Sampe akhirnya kami bertemu sama sepasang papah mamah muda yang lagi asik selfie (menurut riset kami, cuma orang Indo yang selalu selfie dimanapun bahkan ketika di trotoar). Akhirnya kami bertegur sapa dan benar sekali mereka dari Indonesia juga. Ngobrol dan akhirnya jalan bareng ke Allianz Stadium.

Okay, kami sampai.
Okay, sebentar lagi.
Okay, excited.
Banget.

Sesampainya disana, euforia sangat terasa mulai dari pedestrian walk menuju Allianz. Gak jauh beda sama hari sebelumnya, store official merchandise dipenuhi para fans Coldplay yang antre. Kami foto foto di depan Allianz Stadium kemudian lari ke gate sesuai tiket standing silver kami. Saat itu sekitar pukul 16.30, antrian belum terlalu panjang. Kami diminta antri dengan tertib dan menunggu sampai gate dibuka pada pukul 17.30.

img_4427
ALLIANZ STADIUM, we’re here!
img_4436
Bersama Mas Rendra dan Mbak Wina yang baik mau tethering wifi 🙂

Oh iya, ada yang menarik disini. Entah kenapa terasa sekali panitia atau promotor dari konser Coldplay ini sangat menghargai kami. Seakan mereka tahu bahwa kami datang dari jauh dan banyak perjuangan yang harus dibayar untuk datang ke konser ini. Terlihat jelas dari bagaimana panitia memberikan treatment dan berbicara dengan sangat sopan dan humble kepada kami. Menawarkan sunscreen, menawarkan minum dan hal-hal simpel lainnya, jadi seakan terasa antre tidak lagi menjadi hal yang membosankan. Menarik.

Menunggu selama kurang lebih 1,5 jam akhirnya gate dibuka. Kami antri dengan tertib dan masuk menggunakan automatic machine sehingga proses masuk tidak memakan waktu terlalu lama. Sampai di dalam gate, panitia memberikan kami wristband yang nantinya akan menyala selama konser berjalan.

Kami lari.

Akhirnya, ada rasa percaya gak percaya juga ketika kami masuk di dalam Allianz Stadium bersama ribuan penonton lainnya. Buatku dan Marina, ini bukan sekedar nonton konser, ada mimpi yang terkabul di balik perjalanan ini. Agak sentimentil sih bagian ini, tapi ya memang itu adanya. Ah rasanya gak sabar.

img_4515
Inside the stadium
img_4481
The magic wristband, i choose the yellow one

Sebelum Coldplay naik panggung, kami dihibur oleh 2 artis pembuka. Jujur lupa namanya karena yang di otak cuma harapan ketemu Mas Chris Martin aja. Eh tiba-tiba di sela penampilan band pembuka, Mas Chris nongol, mengucapkan selamat datang dan memberitahukan bahwa mereka akan “manggung” pukul 21.00, masih dua jam lagi. Sekitar 5 menit, Mas Chris masuk lagi deh. Jadi makin gak sabar saudara-saudara. Selama 2 jam nunggu, hujan belum juga berhenti. Kami setengah basah kuyup dan kelaperan sampe akhirnya Marina nekat buat keluar dari kerumunan beli makan. Sempet deg-degan karena ini bocah sempet susah balik ke lokasi kami, but God is good, ada yang nolongin Marina buat teriak teriak manggil namaku.

Foto diantara kaki kaki bule dan hujan yang berjatuhan
Foto diantara kaki kaki bule dan hujan yang berjatuhan

Dua jam kemudian.

Tiba-tiba Allianz Stadium gelap gulita. Bener-bener gelap sampai akhirnya ada narasi pembuka yang dibarengi oleh wristband kami yang merah menyala. Semua penonton berteriak, sama sepertiku yang gak sabar menunggu performance Coldplay, band yang membuatku menginjak benua Australia.

Ya, akhirnya Coldplay muncul dengan membawakan lagu A Head Full of Dreams berbarengan dengan nyala terang kembang api sesuai dengan irama lagunya. Ah gila sih ini out of expected, ini konser terbaik. Setiap lagu selalu punya konsep dan warna yang berbeda, terlihat jelas dari wristband yang kami pakai. I uploaded one video, sorry for bad quality, but who cares?

Di konser ini mereka membawakan beberapa lagu antara lain Charlie Brown, Yellow, Fix You, The Scientist, In My Place, Viva La Vida, Every Teardrops is Waterfall, Hymn for The Weekend, Magic, Paradise, Sky Full of Stars, Birds, Clocks, Up and Up dan beberapa lagu lainnya lagi.

Semuanya sempurna. Lighting, sound, euforianya, performance dan konsepnya. Ah ada yang terlintas, ada satu orang yang harusnya bisa berbahagia juga bersamaku disini, pasti akan terlewat sempurna sih jadinya… Aduh, selebihnya bener-bener gak bisa lagi gambarin gimana perasaan dan kerennya konser yang aku liat di depan mata ini. Ini konser gila. Niat. Total. Terbayar sudah semua. Terbayar lunas. Disamping kegelisahan memiliki badan yang gempal dan tenggelam di antara ribuan penonton bule berbadan bongsor lainnya, ini tetap konser terbaik.

Coldplay sing Magic.
Coldplay sing Magic.
img_4649
He’s so~
img_4608
in the middle of sky full of stars

Mungkin ini adalah dua jam tercepat dalam hidupku, ah lebay sedikit boleh ya. Lagi-lagi ini bukan sekedar konser Coldplay, lebih dari itu tidak mudah untukku bisa sampai travelling ke Australia untuk nonton konser ini. Banyak orang bilang hedon dan berlebihan, tidak sama sekali. Banyak perjuangan dan pengorbanan untuk mimpi yang terwujud ini. Bahagia banget sih.

img_4556

Up&up menjadi penutup dari konser spektakuler ini, sekan digantungkan oleh Mas Chris Martin setelah statement terakhirnya, stadium pun kembali terang. Ribuan penonton memanggil agar Coldplay melanjutkan performance-nya pun terasa percuma. Ya, konsernya sudah selesai, sudah rampung. Aku pulang dengan perasaan puas. Aku dan Marina bertemu dengan Wicak dan Keka di luar stadium, kami berpelukan. Lebay lagi ya, tapi seneng banget. Bener-bener seneng. Ya kami berempat bisa bertemu, jalan-jalan, ketawa bareng, sakit kaki bareng, kehilangan duit bayar taksi yang mahal bareng, semuanya karena disatukan niat nonton Coldplay ini.

img_4694
WE MADE IT, MARINA!

Kami kembali ke hostel dengan bahagia, jalan kaki tentu saja. Masih dengan euforia serba Coldplay, pasti. Pamer di sosial media, yaiyalah. Kenorakan kami harus dibagikan soalnya, kayak Wicak yang intagram storiesnya full of konser Coldplay live. Akhirnya dia nyesel karena terlalu banyak recording, haha.

Processed with VSCO with a6 preset
I LOVE YOU, GENGS!

Okay, akhirnya kami harus berpisah karena sesampainya di hostel sekitar pukul 00.00, aku dan Marina bersiap ke bandara untuk melanjutkan trip kami ke Melbourne and catch the flight jam 6.30, daripada ketiduran akhirnya kami pilih langsung berangkat ke bandara. In this post, personally terima kasih ya Mar, Cak, Keka, you guys are the best. Thanks for made this trip as one of my history, you guys more than so loveable!