Cukup singkat.

Andara melepas jaket dan meletakkannya di pangkuan sambil mengemas barang-barang yang dibawanya. Tidak lama Bima muncul di hadapannya, duduk tetap mengenakan jaketnya.

“Nda, mau cari makan dulu nggak? Delay nih” Bima bertanya dengan wajah bersungut-sungut.
“Yah sesuai dugaan seperti biasa. Hhh…” Andara menegaskan kekesalan Bima.
“Kalau kamu nggak mau, aku cari makan dulu. Aku tinggal ya?”
“Hmmm…”
“Gimana?”
“Hmmmmmmmm…”
“Aku cari makan dulu deh ya, kamu tunggu sini.”

Bima kemudian meninggalkan Andara yang masih belum selesai memberikan jawaban. Andara berniat kesal dengan keputusan Bima meninggalkan dirinya sendirian di tengah puluhan penumpang yang berwajah lelah menunggu keberangkatan pesawat yang terlambat. Andara menghela nafas sambil meraih telepon genggamnya, menekan sepuluh deret angka yang ia hafal diluar kepala.

“Halo?” Suara yang selalu dirindukan Andara di seberang sana.
“Kamu udah denger lagu barunya Payung Teduh yang judulnya Akad belum?” Andara berbinar
“Udah dong”
“Aku lagi ketagihan, tiap hari ulang-ulang lagunya terus nih”
“Iya”
“Delay. Satu jam kayaknya”
“Masih kere, dinikmati aja kalau udah kaya naik Garuda terus ya”
“Aamiin..”
“Kali ini kenapa, Nda?”
“Nggak ada apa-apa. Cuma pengen didengerin aja.”
“Gitu ya?”
“Dam, udah ya. Take care”
“Iya, Nda. Kamu juga.”

Andara menutup pembicaraannya sambil melempar pandangan ke jendela kaca dan menyaksikan pesawat yang silih berganti berharap dapat menukar rasa kesalnya . Tidak lama Bima datang lagi ke hadapannya. Andara meluruhkan kesalnya mengganti dengan senyuman. Berpindah ke sebelah Bima, Andara meraih tangan Bima, namun bagi Bima telepon genggam lebih menarik dari tangan Andara.

Advertisements

Mungkin salah mungkin gagal.

Lentera menunda pekerjaan yang harusnya diselesaikan minggu lalu. Sengaja, Lentera tau malam ini akan menjadi malam yang menyulitkannya tidur, malam yang melarikan pikirannya ke dua hari yang lalu, malam yang mengajak hatinya memutar kalimat-kalimat ketidakpastian, malam yang memaksanya kembali pada percakapan di perjalanan pulang setelah menegak 1 grande cappucino. Sehingga daripada gila, ia sibukkan malam ini dengan menghabiskan tuntas tumpukan proposal dan rangkaian business plan yang ia benci.

Seperti biasa, Lentera ditemani Mas Adi yang juga sibuk menyusun RAB residensial yang akan running dalam waktu dekat, jenis pekerjaan yang akan sangat dijauhi Lentera karena bermusuhan dengan angka adalah komitmennya. Mereka berdua memacari laptopnya masing-masing ditemani playlist merana sepanjang malam. Ditengah itu, Lentera melempar sebuah pertanyaan.

“Aku harus berhenti atau tetap jalan dengan kesalahan?”
“Hmmm, kesalahan? Salah atau gagal maksudmu?”
“Mungkin salah mungkin juga gagal.”
“Kalau itu sebuah kesalahan kamu harus berhenti, apalagi kalau kesalahan itu udah terjadi lebih dari 2 kali. Tapi kalau kamu tau itu benar meskipun punya kemungkinan gagal kamu harus terus coba.”
“Gitu ya?”

Berselang sepuluh detik, Lentera kembali menyelami laptopnya. Entah kenapa, Lentera selalu bisa fokus saat dikejar deadline, pekerjaan yang ditundanya berminggu-minggu lalu sudah hampir selesai, begitu cepat.

“Mas, bersaing sama masa lalu itu kan susah banget ya?”
“Tapi almost is never enough, kan?”
“Haha, Ariana Grande banget referensimu?”
“Biar kamu ketawa aja, terus?”
“Iya, jadi aku harus nunggu sampe clean and clear atau?”
“Hormati keputusannya, gak perlu mundur ataupun memaksa maju”
“Aku capek, Mas”
“Yowes pulang sana kalo capek, jangan nangis lho aku lagi males denger kamu nangis.”

Tetap saja Lentera menangis. Tidak ada yang bisa melarang racauan tangisnya meledak dari dalam dadanya, sejadi-jadinya. Sambil mengambil kopi di atas meja, Lentera pamit pulang.

“Nduk, udah malem. Jangan nyetir kalau air matamu masih ngambang”

Lentera beranjak dari kursinya, menempelkan ibu jarinya di mesin fingerprint, mesin absen yang menentukan ada tidaknya tambahan uang snack di akhir bulan. Sebelum benar-benar meninggalkan ruangan kantor, Lentera pulang mengintip jam tangannya.

“Ah! Masih jam 11”

Dijeda usia

Sementara Rendra duduk di seberang meja aku mengamatinya di sela suapan bubur Kwangtung malam itu. Sesekali dia membuka percakapan yang dijedakan usia. 

Tidak ada yang spesial dan juga tidak pernah membosankan. Topik pembicaraan selalu seputar dunia kerja, kegiatan sepanjang minggu yang dirangkum menjadi satu prosa pendek kemudian dibacakan oleh masing-masing dari kami.

Buburnya masih banyak, topik apa lagi yang bisa dijadikan teman makan bubur? 

Aneh, pertemuan ini terjadi berulang kali. Aku bersedia bercerita panjang lebar, Rendra pun sama. 

Jeda usia menjadi menarik. Aku sadar Rendra telah mengalami apa yang sedang aku jalankan saat ini, sekitar 7 tahun yang lalu. Paling tidak dia pernah merasakan menjadi remaja tua usia 25 tahun yang hidupnya didominasi oleh semangat bara yang naik turun tanpa tujuan. Sedangkan aku tidak tahu dan tidak bisa membayangkan apa yang sedang Rendra alami saat ini. Pola pikirnya, kehidupan sosialnya, pekerjaannya, rencana hidupnya dan bahkan arti dari raut mukanya. Alhasil aku tidak menebak apapun, toh pertemanan tidak mengenal usia. 

Bubur kwangtung telah habis. Mataku juga sudah layu sehingga pulang menjadi pilihan terjitu. 

Hmm. Terima kasih.

Ojo Momong Roso

Masih di meja kerja sekitar pukul delapan malam, Lentera diam di depan laptopnya seperti membaca, entah apa yang dia baca. Terlihat genangan air di matanya, tinggal tunggu jatuh namun sekuat tenaga ditahan olehnya.

“Kenapa nduk? Kamu nangis? Inget lho gara-gara nangis terus udah habis berapa juta buat konsultasi mata yang belum sembuh sampe sekarang itu” tegur Mas Adi, teman kerja Lentera yang memang gemar pulang larut malam.

“Engga mas, gak kenapa-kenapa”

“Sedikit-sedikit nangis kamu”

“Hhhhhhh, apa yang salah dari seseorang yang sentimentil, yang punya rasa lebih terhadap tempat bahkan benda sekalipun?”

“Gak ada yang salah nduk, cuma memang menyiksa”

“Iya menyiksa banget”

“Gini nduk, dadi wong iku ojo momong roso.”

“Hah?”

“Iya gitu, ojo momong roso. Hidup memang seperti itu. Tentang pertemuan dan perpisahan yang selalu berulang. Kamu boleh nangis, tapi kesedihanmu jangan dipelihara dan dikembangbiakkan apalagi ditunjukkan ke depan publik. Jangan pernah perlihatkan kelemahanmu. Loro nduk, tapi adakah pilihan lain selain menerima Qada dan QadarNya?”

“…”

“Gak usah nangis terus menerus, lemah banget kamu nduk. Padahal kamu engga. Hadapi aja.”

“…”

“Jangan bilang aku ngomong gini malah bikin kamu tambah nangis ya?”

Lentera tak kuasa menahan genangan air matanya, jatuh luruh ke kemeja linen putihnya.

“Halaaaahhh kamu ini, udah sana pulang aja kamu. Ojo momong roso, inget!” Mas Adi kembali serius ke laptopnya dan meninggalkan wajah Lentera yang masih kaku.

Lentera hanya diam.
Lentera tidak membuat sanggahan.
Lentera merasa dirinya terlalu dalam.

Mau yang romantis

Ritual awal bulan, makan malam di restoran seafood favorit kami yang murah, enak dan banyak. Kami selalu memesan satu ekor kepiting saus padang, udang goreng tepung atau biasanya diganti ikan gurame bakar dan sayur tauge cah ikan asin. Nikmat.

“Dam, gak bisa apa sekali-sekali aku di treat kayak pasangan depan kita itu?”

“Gimana emangnya?”

“Ya gitu, yang cowok ngambilin nasi ke ceweknya, lauk-lauknya juga diambilin, sekali-sekali gitu kan romantis.”

“Denger ya, sekarang dan sampai kapanpun aku gak akan mau romantis kayak gitu”

“Ih aneh!”

“Sebenernya gampang banget, Shei. Tapi pilih mana, mending sekarang aku romantis tapi nanti habis ijab kabul aku berubah atau dari sekarang aku udah nunjukin kalau aku memang kayagini, gak bisa romantis?”

“…”

“Itu namanya konsisten. Ya sama aja, aku juga gak akan pernah untuk gak khawatir tiap kamu nangis, meskipun cuma karena kamu pengen banget makan tapi takut gendut akhirnya gak jadi makan tapi ngeluh laper. Gak akan ada yang berubah dari aku.”

“Serius amat sih”

Seketika pesanan kami datang dan seperti biasa dia langsung mengambil nasi dan lauk lainnya, tentu saja untuk dirinya sendiri bukan untukku. Dia tidak pernah berubah dari tiga tahun lalu, selalu sama.

 

Teman kencan panggung musik

Shei, bisa denger suaranya?”

“Bentar bentar…”

“Coba deh kamu perhatiin seksama, bass itu suaranya lembut banget tapi sebenernya dia itu yang jadi jantung dari sebuah musik”

“Iya, udah seribu juta kali kamu bilang itu ke aku dan seribu juta kali juga aku gak bisa ngenalin suara bass, bodoh ya aku, Dam!”

Kemudian dia meraih tanganku. Mengajak tanganku berdendang seiring dengan dentum bass yang berkumandang di selingan musik yang kami dengarkan. Aku memejamkan mata, mencoba merasakan dentumnya yang sengaja kubuat seirama dengan detak jantungku mungkin detak jantungnya juga.

Dia mengintip ke arahku, memahami aku yang sedang berusaha mempelajari dan merasakan dentuman itu. Sambil tersenyum. Mungkin dalam hatinya bicara, buat apa dia mencintai aku yang bahkan tidak bisa mengenali bunyi dan suara dalam lantunan musik.

Aku menyerah.

“Gak tau ah gak ngerti, susah deh, pelan banget suaranya ya. Ngapain coba mas-mas bassnya mainnya pelan. Mbok kaya Bari Likumahuwa gitu, solo bassnya kan kedengeran jelas”

“Bodo banget kamu”

Kemudian dia merangkulku. Sesekali mengusap kepalaku. Berkali-kali melempar senyum. Terus begitu dan tidak pernah berubah. Menikmati suara cemprengku yang mengikuti si penguasa lagu. Ya, dia akan melakukan hal yang sama di setiap panggung musik megah yang kami datangi.