Tahan Tertahan.

Susah ya jadi orang yang fakir diskusi. Segalanya terasa penting untuk dibicarakan, untuk didiskusikan, untuk menilik segalanya dari beragam perspektif. Akhirnya salah salah dianggap berlebihan dan dianggap kurang kerjaan ketika berbagai pertanyaan terlontar dari mulut saya untuk minta direspon atau tanggapan. Susah memang, diam jadi senjata terakhir menyiasati rasa ini.

Bukan salah siapa, memang saya saja yang ribet. Gimana enggak, rasanya pertanyaan -kenapa merah artinya berhenti, kuning artinya berhati-hati dan hijau artinya jalan- pun ingin saya tanyakan. Seringkali bukan mencari pembenaran, hanya saja diskusi itu asyik karena ternyata apa yang dipirkan orang itu sangat beragam, itu saja yang saya sukai.

Saya pun tidak bisa menebak atau mengerti apa mau saya sendiri ketika lawan bicara saya tidak merespon rasa penasaran saya terhadap sesuatu, ada rasa tidak terima. Tapi ini benar-benar bukan salah dia dan mereka. Kembali pada statement awal saya bahwa respon atau pemikiran setiap orang kan berbeda, termasuk yang menganggap rasa penasran saya itu adalah bodoh, tidak penting dan mungkin hanya menghabiskan waktu saja.

Bukan sekali, saya memilih bertanya dan berbicara pada diri sendiri dalam perjalanan. Menerawang ke lalu lalang jalan raya ketimbang mengutarakan isi hati saya. Gemas rasanya. Tidak berlebihan, saya hanya takut rasa ini terbunuh karena perasaan ini adalah yang saya miliki dan resapi sedari dulu hidup dan menyenangkan sejadi-jadinya. Tapi sepertinya memang saya harus mengerti bahwa saya tidak bisa memaksa kesukaan orang lain akan apa yang terjadi pada diri saya. Ini masalah saya dengan diri sendiri, dia dan mereka tidak sepatutnya ikut andil.

Banyak sekali cerita yang tertahan. Banyak sekali hasrat yang belum teralirkan. Ribuan kata yang terhenti di kerongkongan. Mungkin semua itu kalah dengan notifikasi whatsapp, feed instagram, berita online di detik.com, dan kesibukan maya lainnya. Ya mungkin memang cerita, pertanyaan ataupun rasa penasaran saya tidak semenarik itu untuk dia dan mereka. Bukan tema yang penting untuk dibicarakan dan dijadikan bahan lawakan maupun keintiman antar insan.

Boleh kan berandai-andai kalau saja tahan tertahan saya ini dapat dialirkan bersamaan saat tangan ini tergenggam, saat mata ini bersinar saling tatap, kepala ini bersandar di pundak, berjalan dalam gelak tawa saat menyusuri jalan, duduk berhadapan menyeruput dua cangkir kopi. Tanpa telepon genggam hanya tatap itu, senyum itu, rasa sayang itu. Agar saya bisa merasa bahwa cinta tidak melulu harus buta namun akan tumbuh seiring cerita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s