Kembali Mencoba.

Banyak yang ditinggalkan, bukan karena lupa tapi semata karena perubahan adalah hal yang pasti dan tidak dapat dielakkan. Seperti halnya menulis. Mustahil rasanya kalau saya bosan berimajinasi dan menerjemahkannya dalam jahitan kalimat tapi itu nyata sekarang. Bingung mau menulis apa, berimajinasi apa, mengumpat apa. Apa iya memang saya yang sudah berubah?

Seperti yang saya bilang tadi, perubahan adalah hal yang pasti dan tidak dapat dielakkan. Dulu saya pernah bilang, saya benci sekali perubahan. Bahkan untuk hanya sekedar percaya bahwa teman di cubicle sebelah saya harus pindah tempat (bukan pindah kantor lho!) saja rasanya engga terima. Lebih parah lagi, memutuskan untuk merubah posisi bantex yang biasa saya letakkan di pojok meja sebelah kanan ke pojok sebelah kiri saja butuh waktu yang lama. Ya, sebesar itu rasa benci saya dengan perubahan. Padahal mantan dirut saya yang dulu pernah bilang, hanya perubahan yang abadi.

Kontemplasi.
Banyak hal baru yang coba saya selami saat ini, salah satunya sebuah hubungan. Menyadari bahwa Hirarki Maslow akan kebutuhan cinta saja tidak cukup, lebih kompleks lagi aktualisasi diri akan sebuah penerimaan adalah hal yang lebih dibutuhkan oleh manusia, juga saya. Ya, perlu perubahan yang besar untuk menerima bahwa drama sudah harus ditinggalkan, saatnya menapak bumi.

Setahun yang lalu dan sekarang adalah waktu yang singkat, namun 365 hari yang kita jalani setiap hari terus mendorong kita ke sebuah perubahan, semoga perubahan yang baik. Mungkin ada yang tahun lalu bermimpi untuk melanjutkan S2 terwujud tahun ini atau juga ada yang tahun lalu masih berstatus sebagai staf sudah sudah bisa jadi manajer. Ada yang akhirnya berani memutuskan diri pindah kantor setelah bergumul melawan comfort zone-nya bertahun-tahun. Saya? Mungkin masih belum nyata, tapi paling engga tahun ini menangis bukan jadi pilihan utama untuk melarikan diri. Overthinking perlahan pudar, tidak baik terlalu mengikuti rasa. Yang paling mengejutkan, tes 6 sifat dasar manusia menunjukkan bahwa sekarang saya berubah dari pribadi yang awalnya mengedepankan feeling menjadi seorang yang mulai berpikir logis. Kok bisa ya?

Semuanya bergerak, tidak boleh diam. Kalau mau berhenti, ya jalan di tempat saja lah. Semua harus dicoba, mau dan kembali mencoba.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s