Mungkin salah mungkin gagal.

Lentera menunda pekerjaan yang harusnya diselesaikan minggu lalu. Sengaja, Lentera tau malam ini akan menjadi malam yang menyulitkannya tidur, malam yang melarikan pikirannya ke dua hari yang lalu, malam yang mengajak hatinya memutar kalimat-kalimat ketidakpastian, malam yang memaksanya kembali pada percakapan di perjalanan pulang setelah menegak 1 grande cappucino. Sehingga daripada gila, ia sibukkan malam ini dengan menghabiskan tuntas tumpukan proposal dan rangkaian business plan yang ia benci.

Seperti biasa, Lentera ditemani Mas Adi yang juga sibuk menyusun RAB residensial yang akan running dalam waktu dekat, jenis pekerjaan yang akan sangat dijauhi Lentera karena bermusuhan dengan angka adalah komitmennya. Mereka berdua memacari laptopnya masing-masing ditemani playlist merana sepanjang malam. Ditengah itu, Lentera melempar sebuah pertanyaan.

“Aku harus berhenti atau tetap jalan dengan kesalahan?”
“Hmmm, kesalahan? Salah atau gagal maksudmu?”
“Mungkin salah mungkin juga gagal.”
“Kalau itu sebuah kesalahan kamu harus berhenti, apalagi kalau kesalahan itu udah terjadi lebih dari 2 kali. Tapi kalau kamu tau itu benar meskipun punya kemungkinan gagal kamu harus terus coba.”
“Gitu ya?”

Berselang sepuluh detik, Lentera kembali menyelami laptopnya. Entah kenapa, Lentera selalu bisa fokus saat dikejar deadline, pekerjaan yang ditundanya berminggu-minggu lalu sudah hampir selesai, begitu cepat.

“Mas, bersaing sama masa lalu itu kan susah banget ya?”
“Tapi almost is never enough, kan?”
“Haha, Ariana Grande banget referensimu?”
“Biar kamu ketawa aja, terus?”
“Iya, jadi aku harus nunggu sampe clean and clear atau?”
“Hormati keputusannya, gak perlu mundur ataupun memaksa maju”
“Aku capek, Mas”
“Yowes pulang sana kalo capek, jangan nangis lho aku lagi males denger kamu nangis.”

Tetap saja Lentera menangis. Tidak ada yang bisa melarang racauan tangisnya meledak dari dalam dadanya, sejadi-jadinya. Sambil mengambil kopi di atas meja, Lentera pamit pulang.

“Nduk, udah malem. Jangan nyetir kalau air matamu masih ngambang”

Lentera beranjak dari kursinya, menempelkan ibu jarinya di mesin fingerprint, mesin absen yang menentukan ada tidaknya tambahan uang snack di akhir bulan. Sebelum benar-benar meninggalkan ruangan kantor, Lentera pulang mengintip jam tangannya.

“Ah! Masih jam 11”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s