Dijeda usia

Sementara Rendra duduk di seberang meja aku mengamatinya di sela suapan bubur Kwangtung malam itu. Sesekali dia membuka percakapan yang dijedakan usia. 

Tidak ada yang spesial dan juga tidak pernah membosankan. Topik pembicaraan selalu seputar dunia kerja, kegiatan sepanjang minggu yang dirangkum menjadi satu prosa pendek kemudian dibacakan oleh masing-masing dari kami.

Buburnya masih banyak, topik apa lagi yang bisa dijadikan teman makan bubur? 

Aneh, pertemuan ini terjadi berulang kali. Aku bersedia bercerita panjang lebar, Rendra pun sama. 

Jeda usia menjadi menarik. Aku sadar Rendra telah mengalami apa yang sedang aku jalankan saat ini, sekitar 7 tahun yang lalu. Paling tidak dia pernah merasakan menjadi remaja tua usia 25 tahun yang hidupnya didominasi oleh semangat bara yang naik turun tanpa tujuan. Sedangkan aku tidak tahu dan tidak bisa membayangkan apa yang sedang Rendra alami saat ini. Pola pikirnya, kehidupan sosialnya, pekerjaannya, rencana hidupnya dan bahkan arti dari raut mukanya. Alhasil aku tidak menebak apapun, toh pertemanan tidak mengenal usia. 

Bubur kwangtung telah habis. Mataku juga sudah layu sehingga pulang menjadi pilihan terjitu. 

Hmm. Terima kasih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s