Menginjak Benua Australia – Coldplay A Head Full of Dreams Concert

Setelah selesai berbelanja sepuasnya untuk keperluan oleh-oleh di Paddy’s Market, kami pulang ke hostel untuk taruh belanjaan. Jadi ada yang bikin sedih, kemarin malam Keka kasih kabar kalau hari ini akan datang hujan dari jam 20.00 – 24.00. Mayan shock, dan makin shock ketika liat luar jendela saat kami mau berangkat, ternyata memang mendung. Okelah, nasib sih kalo ini.

Akhirnya aku dan Marina berangkat. Wicak dan Keka yang kebetulan juga beda jurusan (mereka beli gold seat sedangkan aku dan Marina beli tiket standing silver) masih mau kulineran dulu, jadi kami berangkat ke Allianz Stadium masing-masing. Aku dan Marina memutuskan untuk jalan kaki dari Kings Cross menuju Allianz Stadium, Google maps sih bilang jaraknya sekitar 2,4 km, ah masa bodo lah karena dolar udah tipis mau naik taksi mahal juga. Eh bener, sepanjang jalan gerimis. Patah hati rasanya, masa hujan sih. Gak sanggup menerima dan menghadapi kenyataan, lari-lari kecil dan sesekali berteduh di store pinggir jalan kami terus berjalan menuju lokasi dan kebingungan sama arah jalan. Sampe akhirnya kami bertemu sama sepasang papah mamah muda yang lagi asik selfie (menurut riset kami, cuma orang Indo yang selalu selfie dimanapun bahkan ketika di trotoar). Akhirnya kami bertegur sapa dan benar sekali mereka dari Indonesia juga. Ngobrol dan akhirnya jalan bareng ke Allianz Stadium.

Okay, kami sampai.
Okay, sebentar lagi.
Okay, excited.
Banget.

Sesampainya disana, euforia sangat terasa mulai dari pedestrian walk menuju Allianz. Gak jauh beda sama hari sebelumnya, store official merchandise dipenuhi para fans Coldplay yang antre. Kami foto foto di depan Allianz Stadium kemudian lari ke gate sesuai tiket standing silver kami. Saat itu sekitar pukul 16.30, antrian belum terlalu panjang. Kami diminta antri dengan tertib dan menunggu sampai gate dibuka pada pukul 17.30.

img_4427
ALLIANZ STADIUM, we’re here!
img_4436
Bersama Mas Rendra dan Mbak Wina yang baik mau tethering wifi 🙂

Oh iya, ada yang menarik disini. Entah kenapa terasa sekali panitia atau promotor dari konser Coldplay ini sangat menghargai kami. Seakan mereka tahu bahwa kami datang dari jauh dan banyak perjuangan yang harus dibayar untuk datang ke konser ini. Terlihat jelas dari bagaimana panitia memberikan treatment dan berbicara dengan sangat sopan dan humble kepada kami. Menawarkan sunscreen, menawarkan minum dan hal-hal simpel lainnya, jadi seakan terasa antre tidak lagi menjadi hal yang membosankan. Menarik.

Menunggu selama kurang lebih 1,5 jam akhirnya gate dibuka. Kami antri dengan tertib dan masuk menggunakan automatic machine sehingga proses masuk tidak memakan waktu terlalu lama. Sampai di dalam gate, panitia memberikan kami wristband yang nantinya akan menyala selama konser berjalan.

Kami lari.

Akhirnya, ada rasa percaya gak percaya juga ketika kami masuk di dalam Allianz Stadium bersama ribuan penonton lainnya. Buatku dan Marina, ini bukan sekedar nonton konser, ada mimpi yang terkabul di balik perjalanan ini. Agak sentimentil sih bagian ini, tapi ya memang itu adanya. Ah rasanya gak sabar.

img_4515
Inside the stadium
img_4481
The magic wristband, i choose the yellow one

Sebelum Coldplay naik panggung, kami dihibur oleh 2 artis pembuka. Jujur lupa namanya karena yang di otak cuma harapan ketemu Mas Chris Martin aja. Eh tiba-tiba di sela penampilan band pembuka, Mas Chris nongol, mengucapkan selamat datang dan memberitahukan bahwa mereka akan “manggung” pukul 21.00, masih dua jam lagi. Sekitar 5 menit, Mas Chris masuk lagi deh. Jadi makin gak sabar saudara-saudara. Selama 2 jam nunggu, hujan belum juga berhenti. Kami setengah basah kuyup dan kelaperan sampe akhirnya Marina nekat buat keluar dari kerumunan beli makan. Sempet deg-degan karena ini bocah sempet susah balik ke lokasi kami, but God is good, ada yang nolongin Marina buat teriak teriak manggil namaku.

Foto diantara kaki kaki bule dan hujan yang berjatuhan
Foto diantara kaki kaki bule dan hujan yang berjatuhan

Dua jam kemudian.

Tiba-tiba Allianz Stadium gelap gulita. Bener-bener gelap sampai akhirnya ada narasi pembuka yang dibarengi oleh wristband kami yang merah menyala. Semua penonton berteriak, sama sepertiku yang gak sabar menunggu performance Coldplay, band yang membuatku menginjak benua Australia.

Ya, akhirnya Coldplay muncul dengan membawakan lagu A Head Full of Dreams berbarengan dengan nyala terang kembang api sesuai dengan irama lagunya. Ah gila sih ini out of expected, ini konser terbaik. Setiap lagu selalu punya konsep dan warna yang berbeda, terlihat jelas dari wristband yang kami pakai. I uploaded one video, sorry for bad quality, but who cares?

Di konser ini mereka membawakan beberapa lagu antara lain Charlie Brown, Yellow, Fix You, The Scientist, In My Place, Viva La Vida, Every Teardrops is Waterfall, Hymn for The Weekend, Magic, Paradise, Sky Full of Stars, Birds, Clocks, Up and Up dan beberapa lagu lainnya lagi.

Semuanya sempurna. Lighting, sound, euforianya, performance dan konsepnya. Ah ada yang terlintas, ada satu orang yang harusnya bisa berbahagia juga bersamaku disini, pasti akan terlewat sempurna sih jadinya… Aduh, selebihnya bener-bener gak bisa lagi gambarin gimana perasaan dan kerennya konser yang aku liat di depan mata ini. Ini konser gila. Niat. Total. Terbayar sudah semua. Terbayar lunas. Disamping kegelisahan memiliki badan yang gempal dan tenggelam di antara ribuan penonton bule berbadan bongsor lainnya, ini tetap konser terbaik.

Coldplay sing Magic.
Coldplay sing Magic.
img_4649
He’s so~
img_4608
in the middle of sky full of stars

Mungkin ini adalah dua jam tercepat dalam hidupku, ah lebay sedikit boleh ya. Lagi-lagi ini bukan sekedar konser Coldplay, lebih dari itu tidak mudah untukku bisa sampai travelling ke Australia untuk nonton konser ini. Banyak orang bilang hedon dan berlebihan, tidak sama sekali. Banyak perjuangan dan pengorbanan untuk mimpi yang terwujud ini. Bahagia banget sih.

img_4556

Up&up menjadi penutup dari konser spektakuler ini, sekan digantungkan oleh Mas Chris Martin setelah statement terakhirnya, stadium pun kembali terang. Ribuan penonton memanggil agar Coldplay melanjutkan performance-nya pun terasa percuma. Ya, konsernya sudah selesai, sudah rampung. Aku pulang dengan perasaan puas. Aku dan Marina bertemu dengan Wicak dan Keka di luar stadium, kami berpelukan. Lebay lagi ya, tapi seneng banget. Bener-bener seneng. Ya kami berempat bisa bertemu, jalan-jalan, ketawa bareng, sakit kaki bareng, kehilangan duit bayar taksi yang mahal bareng, semuanya karena disatukan niat nonton Coldplay ini.

img_4694
WE MADE IT, MARINA!

Kami kembali ke hostel dengan bahagia, jalan kaki tentu saja. Masih dengan euforia serba Coldplay, pasti. Pamer di sosial media, yaiyalah. Kenorakan kami harus dibagikan soalnya, kayak Wicak yang intagram storiesnya full of konser Coldplay live. Akhirnya dia nyesel karena terlalu banyak recording, haha.

Processed with VSCO with a6 preset
I LOVE YOU, GENGS!

Okay, akhirnya kami harus berpisah karena sesampainya di hostel sekitar pukul 00.00, aku dan Marina bersiap ke bandara untuk melanjutkan trip kami ke Melbourne and catch the flight jam 6.30, daripada ketiduran akhirnya kami pilih langsung berangkat ke bandara. In this post, personally terima kasih ya Mar, Cak, Keka, you guys are the best. Thanks for made this trip as one of my history, you guys more than so loveable!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s