Sampai Jumpa di Seoul!

Mungkin aku adalah salah satu anak yang beruntung, punya kakak yang bisa dijadikan sahabat sekaligus role model. Kakak yang selalu berhasil mencontohkan hal-hal baik dalam berbagai lini termasuk prestasi karirnya. Bekerja di Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, dia sadar betul sedari awal melamar kerja disana maka akan tiba waktunya penugasan untuk ditempatkan di luar negeri. Ya hari itu tiba kemarin, akhirnya setelah sekian lama menunggu pengumuman penempatan kerja, kemarin dia meninggalkan kami bertugas ke Seoul, Korea Selatan selama 3,5 tahun ke depan.

Keputusan Mbak Cita untuk pindah memboyong 2 anaknya yang masih balita dan Mas Dante pun diambil. Ada rasa haru disini, melihat Mbak Cita dan Mas Dante kompak saling support satu sama lain. Tentu saja Mas Dante luar biasa.

Sebagai adik, bahagia sudah pasti. Namun ternyata tidak hanya bahagia, sewajarnya menjadi yang ditinggalkan selalu menyisakan rasa gundah. Selama ini 2 tahun lebih bekerja di Jakarta, Mbak Cita selalu menjadi alasan kemana weekend-ku berakhir. Tidak jarang aku datang ke rumahnya hanya untuk numpang tidur setelah pergi semalaman dengan teman-teman, minta makan, minjem baju, make – up, sampe minjem duit, belum lagi kebiasaan meninggalkan cucian untuk menghemat anggaran laundry setiap bulan.

Apalagi? Banyak sekali.

Sering rasanya datang ke rumahnya untuk menangis sejadi-jadinya. Menceritakan naik turunnya kisah percintaan sejujur-jujurnya tanpa pernah mendapat judgement, mengeluh tentang karir, diskusi dan bertanya tentang agama, ataupun sekedar melihat kegiatannya di rumah kecapekan mengurus 2 anak laki-lakinya yang sangat aku sayangi. Tidak hanya dengan Mbak Cita, hubunganku dengan Alfath dan Akhtar juga menjadi hal yang selalu aku rindukan. Meskipun belum menjadi Tante yang bisa “ngemong” tapi melihat kebawelan dan kelincahan mereka menjadi energi sendiri sebelum menghadapi hari Senin. Belum lagi diskusi-diskusi kecil bareng Mas Dante tentang banyak hal, belakangan kami nyambung diskusi soal agama. Sejarah nabi dan hal lainnya yang mungkin selama ini belum banyak aku pahami. Sampai akhirnya rajin ikut Kajian Rabbanians juga karena saran dari Mas Dante.

I’m gonna miss them.

Pada akhirnya doa menjadi jurus terakhir untuk menghadapi rasanya ditinggal sementara dalam waktu lama. Semoga kalian baik-baik saja, semoga tidak ada halangan berarti di negara seberang, dibukakan jalan rezeki yang lebih baik dan barokah. Kangen sudah pasti. Sampai saat menulis sekarangpun masih gak percaya harus kemana ngehabisin weekend 3,5 tahun ke depan, kemana mau cerita dan minta pertimbangan tentang “woman things”, kemana kalo kangen sama 2 bedul yang mulai pinter. Hhh…

Yasudah. Semoga cepet menyusul, biasanya pergerakan bagus Mbak Cita membuka jalan juga buat menstimulus pergerakan di hidup aku secara personal. Aamiin. Sampai jumpa di Seoul, Mbak!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s