Yang pertama kali

Beberapa hari lalu seorang teman mengupload foto dengan caption yang menarik sekali.

“Kapan terakhir kali kamu melakukan hal yang pertama kali?”

Sangat menggelisahkan, otak ini kemudian dipaksa untuk memikirkan jawaban dari pertanyaan tersebut. Susah sekali untuk dijawab. Gila, se-statis itu kah hidup belakangan ini?

Bangun, berangkat kerja, bertemu dengan teman-teman kantor, sesekali dipuji dan dimarahi bos, makan siang, kembali kerja, lembur, pulang, tidur dan begitu seterusnya. How come my life become so that boring?

Ini bukan berarti tidak bersyukur, cuma sepertinya sudah lama sekali badan ini tidak diajak berpetualang atau menikmati hal-hal yang belum pernah dilakukan sebelumnya, keluar dari zona itu-itu saja. Rasanya rindu sekali dengan masa pertukaran pelajar ketika petualangan tersebut menjadi serba pertama kali. Pertama kali aboard sendirian, pertama kali menginjak Eropa, pertama kali tersesat di Budapest, pertama kali datang dan amaze sama Auschwitz Birkenau, pertama kali perform tari Bali di depan puluhan pelajar asing dan pertama pertama kali yang lainnya. Sampe rasanya minder kalau harus menilik kembali foto-foto lama saat itu, entah kalau diulang apa iya masih berani.

Atau pengalaman pertama kali satu ruangan dengan banyak menteri di Indonesia, menjadi yang tampil untuk memberikan kenang-kenangan kepada Bapak Hatta Rajasa di depan media, keliling provinsi untuk meliput kegiatan menteri. Lumayan seru juga ternyata masa kerja di instansi pemerintahan.

Sampai lebih dari semester I tahun ini belum banyak pengalaman yang bisa dibanggakan atau menjadi point of the year. Banyak wishlist yang belum terwujud juga karena terlalu banyak pertimbangan yang akhirnya membuat banyak keinginan tertunda. Pengen skydive, bungee jumping, jalan ke Bromo, ke Malang dan tempat-tempat kece lainnya.

Tidak ada masalah sebenernya, tulisan ini hanya sebuah renungan yang datang dari kegelisahan. Harapannya sih bisa bikin jengah otak, hati dan pikiran untuk berpikir apalagi yang harus dilakukan agar bisa mencari pertama pertama yang lain. Jadi hidup tidak begitu-begitu saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s