Ojo Momong Roso

Masih di meja kerja sekitar pukul delapan malam, Lentera diam di depan laptopnya seperti membaca, entah apa yang dia baca. Terlihat genangan air di matanya, tinggal tunggu jatuh namun sekuat tenaga ditahan olehnya.

“Kenapa nduk? Kamu nangis? Inget lho gara-gara nangis terus udah habis berapa juta buat konsultasi mata yang belum sembuh sampe sekarang itu” tegur Mas Adi, teman kerja Lentera yang memang gemar pulang larut malam.

“Engga mas, gak kenapa-kenapa”

“Sedikit-sedikit nangis kamu”

“Hhhhhhh, apa yang salah dari seseorang yang sentimentil, yang punya rasa lebih terhadap tempat bahkan benda sekalipun?”

“Gak ada yang salah nduk, cuma memang menyiksa”

“Iya menyiksa banget”

“Gini nduk, dadi wong iku ojo momong roso.”

“Hah?”

“Iya gitu, ojo momong roso. Hidup memang seperti itu. Tentang pertemuan dan perpisahan yang selalu berulang. Kamu boleh nangis, tapi kesedihanmu jangan dipelihara dan dikembangbiakkan apalagi ditunjukkan ke depan publik. Jangan pernah perlihatkan kelemahanmu. Loro nduk, tapi adakah pilihan lain selain menerima Qada dan QadarNya?”

“…”

“Gak usah nangis terus menerus, lemah banget kamu nduk. Padahal kamu engga. Hadapi aja.”

“…”

“Jangan bilang aku ngomong gini malah bikin kamu tambah nangis ya?”

Lentera tak kuasa menahan genangan air matanya, jatuh luruh ke kemeja linen putihnya.

“Halaaaahhh kamu ini, udah sana pulang aja kamu. Ojo momong roso, inget!” Mas Adi kembali serius ke laptopnya dan meninggalkan wajah Lentera yang masih kaku.

Lentera hanya diam.
Lentera tidak membuat sanggahan.
Lentera merasa dirinya terlalu dalam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s