Mau yang romantis

Ritual awal bulan, makan malam di restoran seafood favorit kami yang murah, enak dan banyak. Kami selalu memesan satu ekor kepiting saus padang, udang goreng tepung atau biasanya diganti ikan gurame bakar dan sayur tauge cah ikan asin. Nikmat.

“Dam, gak bisa apa sekali-sekali aku di treat kayak pasangan depan kita itu?”

“Gimana emangnya?”

“Ya gitu, yang cowok ngambilin nasi ke ceweknya, lauk-lauknya juga diambilin, sekali-sekali gitu kan romantis.”

“Denger ya, sekarang dan sampai kapanpun aku gak akan mau romantis kayak gitu”

“Ih aneh!”

“Sebenernya gampang banget, Shei. Tapi pilih mana, mending sekarang aku romantis tapi nanti habis ijab kabul aku berubah atau dari sekarang aku udah nunjukin kalau aku memang kayagini, gak bisa romantis?”

“…”

“Itu namanya konsisten. Ya sama aja, aku juga gak akan pernah untuk gak khawatir tiap kamu nangis, meskipun cuma karena kamu pengen banget makan tapi takut gendut akhirnya gak jadi makan tapi ngeluh laper. Gak akan ada yang berubah dari aku.”

“Serius amat sih”

Seketika pesanan kami datang dan seperti biasa dia langsung mengambil nasi dan lauk lainnya, tentu saja untuk dirinya sendiri bukan untukku. Dia tidak pernah berubah dari tiga tahun lalu, selalu sama.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s