Belajar dewasa sepanjang 2015

Kayaknya baru kemarin cerita ngalor ngidul tentang tahun 2014 yang membawa banyak kejutan, eh sekarang udah harus menceritakan kembali apa yang terjadi di tahun 2015 dan sangat terlambat memang. Ya, sebaiknya 2016 usahlah datang tapi apa daya aku juga bukan Bruce Almighty yang dikasih kekuasaan oleh Tuhan untuk seenaknya mengatur dunia.

Sebelumnya, kata maaf aku sampaikan untuk diri sendiri karena kali ini konsistensi menulis sebelum akhir tahun gak bisa dipenuhi, alhasil 12 hari setelah kembang api pergantian tahun jari-jari ini baru bisa diajak bersemangat untuk menulis. Here we go, mari putar ulang!

Tahun ini punya tema besar, yaitu belajar dewasa.

Dibalik status “karyawan”

Disini, di tempat kerja yang sekarang aku mulai memahami bahwa bekerja bukanlah tentang siapa yang pintar siapa yang bodoh, tapi tentang siapa yang mau belajar. Belajar bagaimana membedakan emosional dan profesionalisme, belajar menerapkan strategi komunikasi organisasi yang sebenar-benarnya, belajar mengubah keluh menjadi syukur, belajar mengendarai ambisi dengan imbang, belajar inisiatif, belajar mencintai sesuatu dengan sepenuh hati agar nantinya hati tidak dikecewakan ekspektasi, dan yang paling penting belajar bahwa bekerja gak melulu tentang rupiah. Kegalauan akan rupiah yang sepertinya gak kunjung menggunung bukannya gak pernah menjadi momok, tapi ternyata fokus kepada diri sendiri dan konsistensi dalam belajar lebih penting. Fokus dengan presentasi-presentasi direksi yang berulang-ulang minta direvisi, fokus dengan event-event kantor yang gak pernah diduga kapan, fokus dengan mengembangkan diri nekat jadi MC dadakan di beberapa event kantor, fokus dengan kesiapan diri bertemu dengan orang-orang baru di lingkungan kantor, fokus dan fokus. Akan selalu ada hasil dibalik sebuah kebaikan termasuk dibalik status “karyawan”.

c07cd-img_1266
Melaspas General Aviation Terminal di Bali, 10 Februari 2015  

Kehilangan teman,
Bukan makna yang sebenarnya, agak distorsi. Salah satu sahabat baik yang tadinya bekerja di lingkup kantor yang sama mulai menemukan titik terang, dia menemukan pekerjaan yang lama menjadi impiannya. Belum sepenuhnya menjawab cita-citanya, tapi paling gak dia sudah mulai berjalan maju. Jujur perasaan gak enak sempat menyelimuti, gelisah karena punya perasaan “ditinggal”. Tapi balik lagi kepada paham bahwa setiap insan di dunia ini gak satupun yang luput dari cerita yang sudah diciptakan Tuhan, punya jalan masing-masing. Begitu juga dengan aku nantinya. Aamiin.

2 kilometers a week,
Tahun 2015 adalah tahun rajin lari. Paling gak seminggu sekali diusahakan untuk lari sekedar mengejar 2 kilometer. Gak bikin kurus juga, tapi semoga bikin sehat.

Pengalaman (orang lain) adalah guru terbaik, 
Buku tulis Sinar Dunia mengenalkan kita dengan motto “Experience is the best teacher”, eh tapi bener loh. Banyak pengalaman yang aku petik dari peristiwa-peristiwa yang terjadi sepanjang tahun 2015, sedikit pahit banyak manisnya. Pengalaman yang membuatku belajar bahwa menerima itu tidak semudah menghapus air mata, belajar bahwa ekspektasi tinggi benar-benar dapat menjadi racun hati, belajar bahwa akhirnya yang terbaik yang bertahan di sisi. Tuhan sungguh menguji segalanya di tahun ini, kesabaran entah sudah dimana ujungnya dan menangis pun tidak mampu menerjemahkan sakitnya ulu hati.

Bukan cuma pengalaman pribadi, ternyata gak perlu mengalami sebuah peristiwa terlebih dahulu untuk belajar, pengalaman orang lain pun bisa menjadi guru dan bahan pelajaran yang baik. Bertemu kembali dengan beberapa teman di tahun 2015 memaksaku untuk belajar dari cerita pengalaman mereka di berbagai lini kehidupan mulai dari pekerjaan, pernikahan teman, hingga drama romantika percintaan. Aku membiarkan telingaku menjadi pendengar terbaik.Hingga pada akhirnya cerita-cerita mereka dapat kuubah menjadi inspirasi sekaligus pelajaran. Bahkan kisah drama romantika dua sahabat di kantor membuatku membuka mata untuk memperbaiki diri dalam bersikap, dalam memutuskan sesuatu. Terima kasih ya kalian yang sudah mau aku temui dan yang sudah wira wiri sebentar atau lama, semoga kita semua bahagia.

Reka Icha Reka Icha Reka Icha,

Dua nama yang gak pernah luput dari kehidupan sehari-hari, dua nama yang selalu bikin capek hati, dua nama yang sekaligus bikin hari-hari di kantor gak monoton, dua nama yang gak pernah capek dengerin kegalauan dan berlembar-lembar cerita keluh kesah hati, dua nama yang jago banget bikin skenario drama yang lebih dramatis dari kisah drama turki. For what we’ve been through, you guys are my best friends, Jepit Scorpion is one of my history. Selamat berbahagia buat kita semua ya gais!

a35cb-img_1092
Jepit Scorpion…

Akhtar lahir,
Menjadi tante adalah hal yang menyenangkan, ditambah kedatangan makhluk kecil satu lagi dari kakak perempuan kesayangan. Akhtar. Semoga sehat ya, Nak!

Overall,
Banyak hal yang membuatku berkesimpulan bahwa 2015 adalah salah satu tahun yang memaksaku belajar dewasa yang erat hubungannya dengan menerima dan bersyukur. Yakinlah, kebaikan gak pernah kenal ujung pasti akan mengalir seperti yang pasti akan terjadi di tahun 2016. Aamiin!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s