Teman kencan panggung musik

Shei, bisa denger suaranya?”

“Bentar bentar…”

“Coba deh kamu perhatiin seksama, bass itu suaranya lembut banget tapi sebenernya dia itu yang jadi jantung dari sebuah musik”

“Iya, udah seribu juta kali kamu bilang itu ke aku dan seribu juta kali juga aku gak bisa ngenalin suara bass, bodoh ya aku, Dam!”

Kemudian dia meraih tanganku. Mengajak tanganku berdendang seiring dengan dentum bass yang berkumandang di selingan musik yang kami dengarkan. Aku memejamkan mata, mencoba merasakan dentumnya yang sengaja kubuat seirama dengan detak jantungku mungkin detak jantungnya juga.

Dia mengintip ke arahku, memahami aku yang sedang berusaha mempelajari dan merasakan dentuman itu. Sambil tersenyum. Mungkin dalam hatinya bicara, buat apa dia mencintai aku yang bahkan tidak bisa mengenali bunyi dan suara dalam lantunan musik.

Aku menyerah.

“Gak tau ah gak ngerti, susah deh, pelan banget suaranya ya. Ngapain coba mas-mas bassnya mainnya pelan. Mbok kaya Bari Likumahuwa gitu, solo bassnya kan kedengeran jelas”

“Bodo banget kamu”

Kemudian dia merangkulku. Sesekali mengusap kepalaku. Berkali-kali melempar senyum. Terus begitu dan tidak pernah berubah. Menikmati suara cemprengku yang mengikuti si penguasa lagu. Ya, dia akan melakukan hal yang sama di setiap panggung musik megah yang kami datangi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s