Dua orang itu

“Sebutkan berapa orang sahabatmu di dunia ini?”
“hmmm, lima”
“yakin?”
“eh, empat deh”
“bener?”
“bentar, bentar. tiga deh kayaknya”
“iya tiga. Dini, Icha, dan Reka”

Sebuah pertanyaan dari diriku sendiri melayang-layang di atas kepala. Tepat lima menit lalu pukul 21.25 malam di meja kantor sembari menunggu attachments yang belum juga selesai diupload.

Mungkin bisa saja aku salah dan terlalu cepat menyimpulkannya, tapi aku rasa mereka bertigalah yang benar-benar aku sayangi dan beri perhatian. Sebagai perempuan yang tidak suka memiliki banyak teman, aku lebih memilih dekat dengan satu dua dan tiga orang yang mau mengerti dan saling mengenal lebih dalam daripada hanya sekedar bertegur sapa, kumpul, lalu… no moments left behind.

Dini, sudah sangat tidak asing. Entah berapa kali aku menyebutkan namanya di beberapa tulisan. Ya, jelas sekali dia teman terbaik selama ini.

Icha dan Reka.

Mereka berdua adalah teman yang belum lama hadir di hidupku, kalau benar mungkin aku mengenal mereka sekitar enam belas bulan, tapi terasa seperti sudah lama sekali, ya mungkin karena kami sekantor dan bertemu hampir setiap hari melebihi intensitas pertemuan aku dengan orangtua.

Terlebih dari drama romantika yang aku saksikan, rasa sayang ini terlalu besar. Ya, aku memang sangat mudah terlarut emosi.

Menjadi sahabat keduanya (semoga mereka juga menganggap aku sama) adalah hal indah sekaligus memuakkan. Berdiri di tengah dua manusia yang tidak pernah berhenti bertengkar setiap saat, keras kepala dan saling menyalahkan adalah sebagian kecil warna dari rantai pertemanan ini. Selebihnya, aku tidak pernah sekalipun keberatan untuk menjadi penonton setia.

Entah menuju kemana tulisan ini,

Aku hanya ingin mengutarakan perasaaan sayang kepada mereka. Betapa bersyukurnya aku bisa bekerja sekaligus memiliki teman sebaik kedua orang di atas. Yang tidak pernah berhenti mengingatkan ketika kesalahan menjemput dan juga tidak lupa memberi sanjungan ketika badanku mulai terlihat kurus. Meskipun memang gak pernah juga sih.

Akan aku tuliskan beberapa kenangan bodoh bersama dua orang ini yang pasti akan aku rindukan entah kapan.

Kami pernah makan malam bersama di Taman Menteng di hari ulang tahunku. Sangat sederhana. Namun nyamannya berada di antara dua orang yang menghargai keberadaanmu adalah anugerah.

Reka pernah bilang aku gendut. Terus aku berlari menangis ke pantry. Bersumpah tidak mau makan sampai berat badan turun. Icha datang untuk membujuk. Ikutan sebel juga sama dia karena aku melihatnya tertawa saat Reka bilang aku gendut.

Kami beberapa kali menghabiskan waktu olahraga bersama. Jogging, badminton, stretching ala-ala di gym.

Part yang paling aku suka, memergoki kesalahan Icha yang selalu – hampir – sering salah dalam menyebutkan banyak hal. Seperti exhaust – hexos, basarnas – bazarnas, OXL – OLX, Marugame – Magurame, dan sangat banyak lainnya…

Kami sering sekali hampir setiap hari makan siang bertiga. Adung, Aming, Warung Pojok, Bebek Ganio dan hampir seluruh warteg di sekitaran Kemayoran. Oh iya, jangan lupa Ciganea. Yang bikin aku miskin dalam hitungan kurang dari satu jam.

Dua-duanya pernah menangis di depan aku, untuk beberapa drama percintaan yang tidak kunjung berakhir. Gak punya pilihan pura-pura gak denger. Kadang terpaksa…

Mereka berdua suka sekali bersikap manis. Mulai dari nraktir Yakult, beliin makan kalo aku sedang lembur, dibantuin bikin presentasi (ini Reka, Icha megangin proyektor) dan mempersilahkan aku untuk makan makanan mereka. Baik ya.
Terlalu banyak kenangan baik bareng mereka.

Aku cuma takut satu hal.

Aku takut ini semua hanya sementara. Karena rasa sayang ini ingin sekali aku jaga selamanya. Sampai masing-masing dari kami menemukan bahagianya. Semoga Tuhan selalu baik dan tidak kejam untuk memisahkan persahabatan aku dengan mereka.

Attachments sudah rampung.

Mari kita pulang…

 

Advertisements

One thought on “Dua orang itu

  1. Ralat..sampe skrng km masih tak bilang gendut :p
    Peacee
    Tp km benar soal satu hal..saat ini km adalah teman paling baik dan sabar atas smua kesampahan yg tak tumpahkan kepada dirimu
    (bahasa sesopan sopannya cem bloger aseli)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s