Tulisan yang terlambat untuk usia Dua Puluh Empat.

Lagi. Ulang tahun lagi.
Kali ini yang ke dua puluh empat tahun.
Selalu ada cerita di balik pergantian usia, kali ini masih sama indahnya dengan usia-usia sebelumnya dimana keluarga, teman, sahabat dan orang orang terkasih terus memberikan doa-doa manis yang bertaburan.

Cerita dikit ah…

Ternyata semakin bertambahnya usia, ekspektasi akan adanya berbagai surprise sudah mulai berkurang. Jadi gak ada lagi tuh yang namanya berharap bakal ada yang dateng tengah malem bawain kue atau kejadian – kejadian ekstrem lainnya kayak kuliah dulu. Well then…

Tepat di tanggal 7 April pukul 00.00 ada tiga manusia gak diundang dateng ke kosan sambil membawa bunga dan chocolate cake. Ketawa-ketawa sambil sibuk ngidupin lilin yang belum sempet disulut api. Mereka adalah Made Bhela Sanji Buana, Dini Arista Mardiani dan Mbak Icha Meiliza. Kehadiran ketiganya menjadi awal sempurna dari usia baruku. Ya, mereka yang berusaha mengarungi macet dan hiruk pikuk ibukota dari tiga tempat berbeda. Made Bhela yang rela macet-macetan jalan dari Jakarta Selatan, Dini yang juga ikutan sibuk menempuh jalan dari Gatot Subroto dan si rempong Mbak Icha yang gesit melejit dari Bandara Soekarno Hatta harus rela makin capek buat nyiapin surprise sederhana ini. 


—- ada doa dari sudut hati untuk mereka yang lebih dari baik selama ini —-


Bunga, Chocolate Cake dan satu kotak hadiah. Semuanya disusun rapi oleh mereka, terspesial yang di inisiasi oleh Made Bhela. Aku gak pernah menyangka kalau akhirnya impian untuk dikasih surprise kecil kayak gini masih akan terjadi di usia dewasa ini. Terima kasih ya, kamu! Terima kasih dan hanya doa yang bisa layangkan untuk ketulusanmu…

Di kantor,
Ucapan datang bertubi-tubi dari teman-teman yang harus terpaksa ingat dengan ulang tahunku, semoga doanya juga bukan paksaan hehehe. Oh iya, siapa sangka Direktur Utama yang baik hati Pak Mangku kasih rejeki uang Rp 500.000,- yang akhirnya berubah jadi empat loyang pizza untuk dimakan bareng temen-temen kantor. Alhamdulillah!

Ah, ada yang lucu dan juga gak terduga.
Salah satu senior di kantor Pak Helmy yang biasa kami panggil ustad karena wibawa dan aksen arabnya itu tiba-tiba mengeluarkan kertas berisikan doa untuk ulang tahunku.

Inshallah doanya bisa saya wujudkan ya, Pak!


To be truth, ulang tahun selalu identik sekali dengan pergantian usia yang kemudian dikorelasikan dengan kedewasaan. Sejujurnya tidak juga bisa kuelakkan, akupun berdoa dan meminta juga berharap pada diriku sendiri semoga di usia yang semakin matang ini aku bisa selalu berguna bagi mereka yang selalu baik. 

Doa lain yang juga ingin sekali aku wujudkan di balik usia dua puluh empat ini. Cinta dan cita yang ingin sekali aku gapai. Doa ini selalu bertebaran di beberapa usia usiaku sebelumnya, namun kali ini aku ingin meraih keduanya. Cinta yang aku harap selalu memercikan keindahannya dan cita yang semakin terang di depan nanti.

Terima kasih, Tuhan untuk usia baru ini 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s