Dihantam batu

Batu itu terasa menyakiti pundakku karena hantamannya yang keras.
Sekali.

Batu itu terasa menyakiti pundakku karena hantamannya yang lebih keras
Kedua kali.

Batu itu terasa menyakiti pundakku karena hantamannya yang sangat keras
Ketiga kali.

Kemudian berulang kali hingga aku tak mampu menahan kelunya.
Aku ingin berbalik menghampiri pelakunya lalu memukulinya hingga babak belur.
Namun ada yang menahan tanganku keras hingga membuatku kaku tak mampu berjalan.

Kecilku dilempar batu.
Dewasaku pun masih dilempari batu. Lebih besar tentu saja.

Terlalu kosongkah hidupmu hingga terus kau lempari aku, dia, kami ? Terus menerus?
Mungkin hatimu sudah dirayapi kebodohan hingga mematikan perasaan.

Tebak apa?
Aku lari. Lari mendatangi Tuhan.
Anehnya, aku bahkan tidak tahu meminta apa.
Kamu terlalu naif untuk kulayangkan doa-doa baik.

Sumpah serapah?

Dunia ini terlalu gila.
Kamu bagian terbesar dari kegilaan itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s