Lembar lembur.

Gila. Satu kata yang bisa jadi wakil dari padatnya kerjaan di minggu ini. Rasanya jadi tangan kanan Manajer yang harus bisa apapun, bahkan mempelajari (menguasai) keuangan proyek proyek miliaran kantor. Bisa gila.
Hujatan. Cacian. Hingga berubah menjadi tangisan. Tumpah ruahlah sudah di meja kerjaku yang berhamburan berkas dan surat-surat birokrasi yang semakin menumpuk hari demi hari. Pertanyaannya, apa dengan umpatan pekerjaan ini bisa sekejap selesai?
Jawabannya engga. Sama sekali gak bisa merubah hasil kerja, malah jadi makin berantakan. Meskipun lama sampe bisa nerima kenyataan kalau harus legowo, tapi ya terima sajalah.
Partnerku yang nun jauh di Bali juga mungkin merasakan hal yang sama ketika pekerjaannya sama sekali bukan minatnya. Lebih gila rasanya, aku paham benar. Tapi kok sekarang dia bisa lebih santai dari aku? Ternyata ya kuncinya legowo.
Sementara ini aku dan dia, sebut saja kami, harus sepakat dengan kenyataan bahwa apa yang di depan kita adalah hal yang sepatutnya dijalani tanpa ditempeli keluhan-keluhan yang pasti tidak ada habisnya.
Hadapi saja. Pelajari saja lika likunya. Nikmati saja titik koma dan kesalahan yang selalu bisa menjadi pelajaran. Karena di dalam kebencian pun kita belajar.

Yah. Dibalik lembar lembur selalu ada rizki yang harus disyukuri. Selamat bekerja!

Advertisements

One thought on “Lembar lembur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s