Pukul Sembilan

Jakarta membuatku selalu tidur dan terlelap setiap aku menyentuh sprei bunga klasik tempat tidurku sepulang kerja
Lelahnya membuatku tak lagi berhasrat untuk berkegiatan, hanya sesekali bercengkerama dengan televisi maupun luluh lantahnya kamarku.
Seketika.
Pukul sembilan mengubah semuanya.
Tidak lagi ada kemalasan.
Kantukku juga mampu tersapu oleh khayalan – khayalan beterbangan.
Aku duduk.
Bertemankan earphone dengan lagu lagu penghantar.
Menebak isi dari pikiran dan hati. Bertukar cerita melalui jemari jemari.
Pukul sembilan membuatku tak lagi melupakan malam Jakarta.
Di petak kamar ukuran 3×4 meter aku menerbangkan angan anganku.
Bebas menari diatas langit langit kamar berlampu kuning.

Terimakasih pukul sembilan.
Sudah membuyarkan kerancuan hati yang selama ini tertanam 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s