Satu yang tak bisa lepas…

Dua puluh Desember.
Mungkin ini adalah salah satu hari berharga sekaligus hari pilu. Setelah empat tahun aku merakit kisah di tanah rantau, Jogja.

Diantara sekian banyak kesedihan yang tinggalkan. Kisah kamilah yang paling sulit kutelan dengan ikhlas. Cerita tentang kami dan isinya yang terlalu berbunga bunga untuk sebuah cinta. Bukan buta atau mabuk kepayang.
Namun sebuah ketulusan yang masih kupelajari hingga saat ini. Senyuman yang disusul oleh tangis haru bahagia.

Mungkinkah kami bertemu lagi di dimensi lain? Apa iya khayalanku mampu terjaga hingga aku bisa gila seperti biasanya. Memutuskan urat malu hingga tawa menjadi jawaban.


Bahagiaku terasa nyata diatas kata sama. Kami berdua sama. Kesamaan yang membuat kita menari bebas, hingga senyum menjasi jawaban atas ketidakjelasan sikap kami yang sulit dimaklumi orang lain.

Lalu.
Haruskah aku melepaskan itu karena sebuah kata beda?
Rasanya tidak bijaksana. Bahkan aku duduk bersujud hingga menguraikan air mata diatas sajak sajak Tuhan. Bertanya dan tidak berhenti bertanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s