Amati.

Setujukah jika kesempatan kita untuk bisa mengamati sesuatu itu merupakan salah satu kenikmatan?
Meski hanya dari kejauhan. 
Sekilas membosankan, coba selami.
Selami hingga kamu tak mampu menemukan oksigen di sela nafasmu.
Seketika paru-paru terenggut oleh sesak karena pusat perhatianmu telah merampasnya.

Amati saja..
Menurutku lebih dari sekedar kehadiran.
Maksudku, kita bisa mengamati sesuatu tanpa harus menjejali mata kita dengan fisiknya.
Bayangkan saja. 
Bebaskan imajinasimu, hingga kamu tak mampu berkata ketika kehadirannya tepat ada di balik punggungmu.

Aku merasa jika tak perlu ada perkenalan formal, tak perlu ada pendekatan nyata atau bahkan perbincangan basa-basi terhadapnya.
Ketika kamu mampu menarik kesimpulan atau pesan dari yang kamu amati, nikmat itu akan kamu rasakan.
Tidak untuk dijelaskan, tapi hanya untuk dirasakan.
Rasakan saja hingga gila, lalu kamu akan terbelalak ketika nyata menjadi bonus dari perasaanmu.
Hingga keringat bersuhu dingin membasahi keningmu.

Amati hingga jauh terasa dekat.
Dan dekat takut untuk dijauhi.

Sampai akhirnya kamu sadar jika hanya dengan mengamati, semua terasa lebih baik.
Bahkan lebih baik dari sebuah pertemuan.


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s