Secarik kertas coklat.

Aku terduduk di tengah mendung yang tidak berkesudahan. 

Aku termangu. 
Terhenti untuk sejenak menulis.

Pena itu membentuk sebuah tulisan. Asa yang biasa kulayangkan dalam sebuah doa.
Getir dan pahitnya melukai hati ini, yang terkadang hanya perih yang terasa terulang.
Tetes air mata membentuk bulatan abstrak diatasnya.

Istighfar.

Hati ini tidak bertuan. Tidak tahu kemana ia kemudian menjatuhkan inginnya.
Bahkan asing pun disambanginya.
Biar Tuhan saja yang berbicara. Waktu yang menerka takdir.
Toh hati ini milik-Nya.

Pena di jemariku akhirnya berhenti di sebuah titik.
Titik di atas secarik kertas coklat.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s