Selamat jalan, Ibu Siti :")

Aku masih ingat, awal tahun 2010 aku datang ke rumahnya. Membungkus hati, karena aku tau aku akan bertemu mereka yang istimewa.

Aku mencium tangannya, memperkenalkan diri sebagai teman dari putranya. Beliau tidak banyak bicara seperi ibu-ibu lain yang biasa aku kenal. Hanya ikut tersenyum dan sesekali melengkapi pertanyaan suaminya yang dilemparkan padaku. Beliau pergi ke dapur, mempersiapkan minum untukku dan menyuruh anaknya untuk membelikanku satai sebagai makan malam kami.
Itulah kali pertama aku mengenalnya.

Perlahan, aku semakin mengenalnya dan otomatis menyayanginya.
Lagi-lagi aku berkata, jika beliau tidak banyak bicara., tidak banyak bertanya dan tidak pernah menuntut atau bahkan mengomentari sesuatu. Jelas, aku merasa sangat segan dengan beliau.
Beliau menyayangiku bukan dengan mengirimiku sms, menelepon atau bermanja denganku. Bahkan pernah dan sering sekali aku mengirimkan sms berisi ucapan ulangtahun, hari raya, hari ibu dan hari-hari istimewa lainnya ke beliau. Beliau hanya membalasnya dengan

 “Ok, sama-sama. Terimakasih”
 :”)))

Itu semua bukan karena beliau tidak menyukaiku. Itu karena beliau memang seperti itu adanya.
Beliau menunjukan kasih sayang dengan perbuatan sederhana. Sangat sederhana.

Waktu membuat kami semakin dekat. 
Setiap kali aku bertandang, seringkali beliau membuatkan jus jambu yang penuh dalam sebuah tupperware merah kemudian menyediakan sebuah gelas bening. Bahkan tidak jarang beliau membawakanku sebotol juice jambu untuk diminum di rumah.
Beliau juga sosok yang taat, tidak pernah lupa untuk menawarkanku sholat di kamarnya, dan menyiapkan mukenah yang sangat wangi.


Aku juga ingat, di bulan Ramadhan saat itu.
Aku memutuskan untuk sholat tarawih bersamanya. Kami berjalan kaki ke sebuah mesjid yang tidak jauh dari rumahnya. Aku duduk di sebelahnya. Lagi-lagi beliau tidak juga banyak bicara. Hanya sesekali menjawab pertanyaanku yang pada saat itu masih mencari celah untuk menyamankan diri.

Di lain waktu, aku pernah menjemputnya di Prambanan. Tempat kerjanya.
Iya, beliau adalah seorang pegawai negeri yang telah mengabdi dan bekerja di candi Prambanan selama puluhan tahun. Tentu saja jarak dari Jogjakarta ke Candi Prambanan bukan jarak yang dekat. Beliau melakukannya setiap hari. Aku pernah mendengar dari cerita-cerita sebelumnya, jika beliau tidak pernah mengeluh soal jarak tersebut. Bahkan beliau sering sekali mengendarai motor pulang pergi setiap hari, dikala suaminya sakit.
dan pada saat itu, aku menjemputnya untuk duduk di sebelahku. di sebelah kemudiku.
Aku merasakannya seperti aku menjemput ibuku sendiri. Melihatnya lelah namun tersenyum sederhana. Biasanya sambil bertanya… 

“darimana Mbak Tika?”

Perlu kuulangi jika beliau sosok pekerja keras. 
Aku juga ingat beliau sering sekali membuat tas untuk pengajian, tas sederhana, hasil dari jahitan tangannya sendiri. 
Orderannya lumayan. ketika itu aku juga baru bisa menjahit. Kemudian aku menawarkan diri untuk membantunya. Meskipun hanya dua tas, tapi kali itu aku melihat beliau semangat untuk menjelaskan langkah langkah yang harus aku lakukan ketika menjahit tas.


Apalagi?
The most delicious salad on earth is made by her. Aku suka sekali, Sangat suka.
Aku menyesal, aku belum sempat belajar dengan beliau. Kali terakhir aku melahap salad buatanya di bulan Januari 2013 lalu. Aku masih bertemu dan melihatnya berpeluh menyiapkan salad pesanan keluargaku.
Tante, Tika kangen salad tante 😦

Ulangtahunnya?
Aku memang suka sekali memberikan surprise ke orang-orang yang aku sayang, termasuk beliau.
Sekitar tiga kali aku merayakan ulangtahun beliau. Yang paling aku ingat ketika kami tiba- tiba membawakan kue ulangtahun, beliau sangat terkejut. Tersirat kebahagiaan di wajahnya. Aku memberikannya dua buah bross untuk jilbabnya, yang kemudian pernah beliau pakai disuatu acara :”)

Aku juga masih ingat cara makannya seperti aku ingat cara makan ibuku sendiri. Aku ingat bagaimana beliau selalu membersihkan piring, garpu dan sendok untuk kami sebelum makan. Kemudian beliau juga sering memberikanku oleh-oleh, saat itu beliau pulang dari Bali. Gelang, sandal dan pernak pernik perempuan. Saat itu juga sewaktu aku akan pergi exchange, beliau membawakanku dompet dan tas-tas wadah peralatan perempuan.
Aku masih menyimpannya.


Suatu saat.
Sosok yang sederhana itu pernah duduk disampingku, sesuatu yang jarang terjadi.
Beliau duduk disebelahku ketika aku berkunjung ke rumahnya, dan baru kali itu aku merasakan beliau pernah mengelus tanganku.
Sekali. Aku merasakan itu. Sampai kali terakhir beliau mengelus punggung tanganku saat beliau tergeletak lemas di rumah sakit.

Sebelumnya, entah apa yang membayangi. Aku merasa rindu dengan beliau. Kemudian aku mendengar jika beliau sakit. Aku mengiriminya sebuah sms, yang beliau jawab dengan 

“Tante gak apa-apa, baik-baik saja”

Kemudian rasa penasaran membawaku bertanya serius tentang kondisinya, yang akhirnya aku tahu bahwa beliau sedang mengalami sakit yang serius.
Aku lemas.

Aku berangkat ke Semarang, menjenguknya.
Dan betapa terkejutnya, sosok yang kukenali dan kusayangi berubah drastis. Aku hampir tidak mengenalnya. 
Kakiku lemas, aku setengah berlari dan mencium lama punggung tangaannya. Tidak bisa kubendung air mataku. Aku setengah terisak, dan berusaha mati-matian menahan tangisku. Beliau terkejut melihatku sambil bertanya seakan tidak ada apa-apa yang terjadi 

” Mbak tika kesini sama siapa?”

Aku tidak tahan, aku berlari keluar dari kamar Amarylis 920, Rumah Sakit Telogorejo, Semarang.
Menangis sepuasku. 

Berusaha tegar aku kenbali datang ke kamarnya, berdiri disampingnya.
Memperhatikan sekujur tubuhnya yang habis dimakan penyakitnya.
Menyuapinya dengan beberapa sendok bubur, sayur brokli dan semur daging. 
Beliau tersenyum. Akupun melemparkan guyonan-guyonan sederhana, agar beliau sedikit terhibur. Meskipun aku tahu rasa sakitnya tidak bisa dikalahkan oleh apapun.
Aku membantunya mengenakan mukenah ketika beliau menunaikan sholat.
Membantu mengikat rambutnya. 
Tubuhnya begitu lemah.
Namun tak sedikitpun aku mendengar keluh keluar dari mulutnya. Tidak sedikit pun.


Sampai akhirnya, aku harus berpamitan pulang.
Aku mendekatinya.
Aku raih lembut tangannya.
Berpamitan. Berat sekali hati dan langkah ini, Tuhan.
Kembali aku dihujani air mata ketika aku berjanji untuk kembali tujuh hari lagi. Kembali menyuapinya. Kembali bercanda gurau dengannya.
Jujur aku ingin sekali meminta maaf, tapi aku masih yakin aku akan bertemu dengannya lagi.
Aku mencium kedua pipinya yang terasa dingin di pipiku.
Sekali lagi aku memberanikan mencium keningnya. Entah mungkin air mataku melekat di dahinya.
Kalimat terakhir.

” Hati-hati ya Mbak, Salam buat Mamah, Papah. Tante Astiti dan siapa tante timoho juga semuanya”

Saat itu juga aku membalikkan badanku menangis sambil memeluk suaminya
Dan sekarang kami dipisahkan oleh alam yang berbeda. 

Pada akhirnya semua makhluk di muka bumi akan kembali pada-Nya. 
Meninggalkan keluarga, kerabat, dan semua orang yang mencintai dan dicintainya. Air mata menjadi saksi dari betapa perpisahan bukanlah hal yang mudah untuk dilewati. Terlebih perpisahan dengan seorang Ibu. Ibu yang selama ini menjadi pencair suasana. Jembatan antara ayah dan anak-anaknya. Wanita paling cantik di mata anak dan suami. 
Sungguh perpisahanku dengannya membuatku tercenung, dan akhirnya berpasrah. 

Sebagai orang yang pernah dekat dan bahkan sangat dekat denganmu, 
Tika minta maaf ya Tante. Maafin Tika kalau selama ini berbuat salah. 
Kalau ternyata Tika mengecewakan. 
Maafin Tika ya Tante. Maaf Tika belum sempet minta maaf langsung ke Tante. 
Tapi tante pasti denger kan ya Tante?

Tenanglah disana, Ibu…
Percayalah, suami dan anak-anakmu kuat dalam mengikhlaskanmu.
Mereka pria-pria yang kuat dan hebat.
Suatu saat, kedua putramu akan membuatmu bangga.
Membuat Ibu menangis bahagia di alam sana. 

Selamat jalan, Ibu Siti Nurofiah.
Kenangan baikmu akan selalu terukir di setiap hati kami…
Advertisements

One thought on “Selamat jalan, Ibu Siti :")

  1. Kita bisa membuat rencana yg Indah, namun Allah SWT telah menetapkan yang terindah untk Almarhumah.
    Semoga Almarhumah khusnul khotimah dan keluarga yg tinggalkan senatiasa diberi ketabahan dan kesabaran. Aamiin. (PWG)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s