Visiting Auschwitz – Birkenau

kali ini mau share pengalaman deh.

itung-itung nambah pengetahuan dan khasanah travelling, dan siapatau bisa buat resep buat temen-temen yang pengen menjelajahi Historical Place di tanah Eropa 🙂

Hmmm. Kesempatan exchanged ke Eropa Februari 2012 lalu tentunya gak begitu aja gue sia-siain dong ya. karena gue berpikir kapan lagi gue bisa ke Eropa(mungkin suatu saat nanti lagi, aamiin) jadi gimana caranya i have to use my times to discover some part of Europe. dan salah satu destinasi yang jadi tujuan adalah Auschwitz – Birkenau yang ada di Polandia.

Well, ga semua orang kali ya yang tau sebenernya apa sih Auschwitz – Birkenau ini (baca : auswich – berkenau) agak ribet emang nulisnya.
Ya, Auschwitz adalah sebuah kamp konsentrasi besar Jerman. Singkatnya, karena jujur gue juga ga begitu paham sama nazi-nazi kayagini. Jadi Auschwitz ini sering disebut sebagai The Holocaust, ya masih inget kan sama film ‘The Boy in the Striped Pyjamas’ ya kurang lebih apa yang diceritakan itulah faktanya. Masa-masa perang dunia ketika Hitler berkuasa dan kemudian beliau membantai kaum Yahudi dengan cara ‘digosong-in’ atau ‘dibakar’ dengan bahan kimia secara massal. Lebih dari satu juta jiwa tewas pada dalam pembantaian biadab ini. 

Jadi cerita simpelnya, Hitler ingin menguasai dunia dengan membunuh seluruh umat manusia yang bukan dari kaum dan jenisnya. Ya tentu saja target utama kaum Yahudi. Dan ternyata hasrat untuk membantai umat manusia tidak terpuaskan jika hanya kum Yahudi yang ia bantai, kaum homoseksual, gipsi juga jadi sasaran. Bahkan ia juga membantai kaum yang tidak memiliki warna bola mata seperti Hitler. Betapa egoisme merasuki jiwanya!

Auschwitz terletak di Polandia dan pada saat itu gue menyinggahi Krakov, salah satu kota besar di Polandia, yang kebetulan ternyata hanya berjarak 60km dari kamp atau sekitar 2jam perjalanan ke Auschwitz by minibus.
Gue berangkat ke Polandia saat itu cuma berduaan aja sama sahabat gue si Canadian Lysan Sequiera. Actually sama sekali gue gatau menau soal kamp ini sebelumnya, karena gue ga banyak ngerti sejarah Nazi, but everythings seems so interested since i arrived.

Okay, dengan 50euro (sekitar Rp 500.000) gue dan Lysan sepakat untuk mengikuti tour travel ke Auschwitz – Birkenau. Paket travel udah termasuk ke makan siang dan satu destinasi lainnya lagi, yang mungkin akan gue ceritain di lain page kali ya…
Dijemput sama tim travel di hotel, dan sepanjang dua jam perjalanan kami disuguhkan oleh tayangan di layar televisi minibus tentang sedikit banyak sejarah tentang Auschwitz dan Nazi Jerman pada masa Hitler. Well, karena  filmnya pake bahasa inggris dan bahasanya berat banget, jadi gue memilih untuk tidur 😀

Tiba – tiba mobil udah sampe di tempat tujuan. GILA! satu kata yang gue ucapin saat itu BLOODY HELL! Keren banget! Vintage, nazi, serem. Sempet tertegun sih ngeliat lokasi yang luaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaas banget! 


Begitu sampai di kamp, aura-nya jelas terasa sangat berbeda. okay, gue akan pake bahasa formal disini, karena memang Auschwitz bukan tempat sembarang, dan kita sebagai pengunjung wajib menghormati walau hanya dengan kata-kata 🙂
Kami tiba di kamp konsentrasi Auschwitz lalu menuju ruang tunggu, kemudian gue dan Lysan dan anggota rombongan diberikan headset sebagai media tutor dari guide tour. Kemudian kami berkumpul menunggu giliran. Setelah sekitar 30 menit menunggu, kami langsung diperbolehkan untuk memulai tour.


Here We Go!
Feel so speechless melihat apa yang ada di depan mata. Kawasan Auschwitz luas banget. Dan jauh terlihat banyak sekali bangunan-bangunan tua yang terbuat dari bata merah. Lalu kami sampai di depan gerbang kawasan Auschwitz. Terpampang di sana sebuah tulisan sebagai slogan dari kamp ini, yaitu :

 ( Kerja (akan) membuat (anda) bebas” (atau “kerja membebaskan”)


Selama perjalanan yang kurang lebih berjalan selama 90menit, kami ditunjukkan dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi di kawasan ini. Kami benar-benar diajak untuk merasakan betapa kejamnya Hitler pada masa itu. Semua orang tidak memiliki hak untuk hidup. Dari cerita yang sedikit banyak saya simak selama tour berlangsung, seluruh kaum yang menjadi target Hitler diajak untuk ke Auschwitz untuk dijadikan buruh dan bekerja agar mendapat kemakmuran, tapi nyatanya mereka semua hanya dibohongi. Karena faktanya, mereka hanya dijadikan buruh yang kemudian dibunuh.



Kami melihat jelas foto-foto korban pembantaian, sangat jelas sekali. Betapa menderitanya mereka pada zaman itu. Tidak pandang umur dan jenis kelamin. pria wanita, tua muda, dan dari berbagai profesi disatukan untuk dimusnahkan. Sebelum dimusnahkan, mereka dipekerjakan secara tidak manusiawi. 



Lalu mengapa piyama?

Ya, selama masa hidup para korban di kamp, mereka hanya diberikan piyama. satu piyama untuk satu orang selama mereka hidup. Jadi tidak usah mimpi bisa ganti baju, mandi saja mereka tidak pernah. bayangkan saja! jadi tidak heran mereka hanya bisa hidup kurang
dari tiga bulan, karena tidak pernah ada yang bisa hidup lebih dari jangka waktu tersebut. 
Makan?
Anjing punya makanan yang jauh lebih enak daripada mereka. 

Di kawasan ini, gue melihat dokumentasi korban secara nyata. Karena peninggalan para korban berupa piyama, sepatu, bahkan rambut (:para korban digunduli karena rambut dijadikan sebagai bahan insutri sapu, karpet dan sikat) pun masih terarsip rapih. betapa haru dan rasa belasungkawa merasuki diri gue. 

Bangunan terakhir yang kami kunjungi adalah bangunan dimana para korban dilenyapkan, yaitu The Holocaust Room. Bangunan ini berbeda dengan bangunan lainnya, karena terdapat cerobong di atasnya, Ya tempat dimana mereka dibantai hidup-hidup. 
Kejam.

Setelah perjalanan di kawasan Auschwitz selesai, perjalanan dilanjutkan ke kawasan kedua yaitu Birkenau.
Letaknya tidak saling berjauhan, namun memang kamp konsentrasi ini dibagi dua, mengingat banyaknya jumlah tawanan.
Rasa kaget gue melebihi ketika gue mengunjungi kawasan pertama Auschwitz, karena di kawasan Birkenau tanahnya lebih luas. Dan dengan cuaca yang kurang bersahabat pada saat itu sekitar 5 Celcius membuat gue sedikit tersiksa, lalu kembali merefleksikan diri ke masa pembantaian dimana korban hanya memiliki piyama untuk hidup no matter what the weather is…


 



Birkenau jauh lebih luas, dan hanya terdiri dari barak-barak berisi kamar-kamar korban. Tidak ada kata yang mampu gue ungkapkan, karena keadaan jauh dari kata manusiawi.
Mereka hanya tidur di dipan kayu tiga tingkat. Tanpa alas, tanpa apapun. Tidak perduli apapun cuacanya. Satu dipan ditiduri oleh lebih dari belasan orang, Bayangkan, sekejam itu Hitler menyiksa mereka.
Kamar mandi?
Yang pasti mereka yang membersihkan sendiri kotoran mereka, dengan tangan. Tangan kosong.


Dia akhir tour, kami kemudian diajak untuk melihat ke kawasan lain dimana banyak bangunan-bangun hancur. Kawasan tersebut adalah simboil ketika akhirnya Auschwitz – Birkenau dihancurkan dan kemudian kawasan ini ditutup. Di wilayah tersbut juga banyak nisan sebagai tempat untuk ikut berbela sungkawa terhadap para korban.

Setelah kurang lebih 90menit juga dihabiskan untuk menelusuri kawasan Birkenau, maka tour pun dinyatakan selesai.

Well.
Yang saya bawa kemudian adalah sebuah pelajaran.
Pelajaran menghargai masa lalu. Yahudi tidak melulu jahat, karena ternyata yang bukan Yahudi yang berperilaku kejam.
Bayangkan, kamu hidup untuk mati di masa itu.

Yah perjalanan Auschwitz-Birkenau merupakan perjalanan berharga buat gue, karena Eropa ga melulu tentang hura-hura, ada banyak sejarah di balik eksotisme Eropa yang merupakan sebuah peradaban.
Menarik untuk mengunjungi tempat seperti ini. Sehingga menjadi media refleksi bagi kita untuk menghargai hidup.

so…i recommend you to come here, someday!!!!
Advertisements

4 thoughts on “Visiting Auschwitz – Birkenau

  1. Semangat & Tekadmu mampu melintas benua dan samudra nan luas.
    Semangat & Tekadmu tanpa disadari mampu mengharumkan Bangsa dan Negrimu.
    Semangat & Tekadmu megharukan bagiku.
    Semangat & Tekadmu membanggakanku.
    Semangat & Tekadmu meluluh lantakkan hatiku.

    Betapa Tidak…..!
    Modal bahasamu pas2 an namun smangatmu mampu memfasihkan komunikasimu.
    Dana terbatas namun smangatmu sanggup membiayaimu.
    Perlengkapan seadanya namun tekadmu sanggup melengkapinya.
    Menaripun pas2an namun semangatmu mampu mengajarkannya.

    Dukungan Orang tua, saudara2, teman2mu menggelorakan Tekad & smangatmu yg smakin membara.

    Semangat & Tekadmu yg kuat
    mampu membuktikan yg sulit menjadi BISA, Yg Imposiible menjadi Posible.

    Itulah kamu. “Putri Tika Pratiwi“

    Subhanaallah…… !
    Allah bukan hanya MENCUKUPI apa yg engkau perlukan, tapi Ia memberi dng BERKELIMPAHAN.

    Ya Allah…Terimakasih.
    Sayangi, kasihi, cintai dan lindungilah selalu anak2 kami.
    Aamiin YRA.

  2. Luar biasa. Bapak Putra pasti bangga punya anak seperti kamu, Tika.

    Aku juga bangga jadi sahabat kamu~

    Teruslah menulis. Taklukkan dunia ya!
    Kelak engkau akan menjadi wanita sempurna (kata mama niken kan)

    Sukses deh! :')

  3. Papa : Alhamdulillah, ini semua karena orangtua yang percaya sama Tika, yang memberi kebebasan sama anak perempuan yang satu ini untuk berkreasi 🙂

    Madebhela : me either, made 🙂
    semoga suatu saat blog-mu juga bisa dibaca orangtua kamu ya. Orangtuamu pasti lebih bangga sama kamu dan tulisan tulisan kamu yang lebih informatif.
    Kita terlahir untuk menaklukan dunia 😀

  4. Cerita yang informatif sekali… 🙂

    namun ada baiknya foto-foto dokumentasi jangan berupa foto narsis begitu, akan lebih baik jika foto hanya berupa objek yang dibahas. mengingat wisata ini adalah tempat wisata sejarah, yang tentunya, kelam.

    just in my opinion sih… 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s