Differences.

Beda.

Satu kata yang sukses nempel di enam bulan kehidupanku sejak Agustus 2012 lalu. Sepertinya kata itu naksir dan akhirnya berhasil jadi sahabatku. 
Beda.
Apa kemudian esensi beda di kehidupan saya yang lambat laun mulai meracuni dan merusak sel-sel di tiap jaringan organ tubuh gempal ini?

Berangkat dari sebuah pertemuan antara dua insan manusia yang sama-sama diciptakan oleh pemilik semesta.
Tanpa rencana, tanpa ekspektasi. Kami dijebak dalam sebuah kenyamanan. Tak ada sama sekali intervensi atau paksaan dari manapun, karena kami hanya dua manusia yang terlalu banyak berpikir dan banyak menghabiskan waktu untuk sekedar memuaskan ego dengan bercerita. Bercerita tentang penghargaan, kehidupan, keikhlasan dan ketulusan. 

Cerita yang kami lontarkan selalu menjadi sinergis untuk dua manusia jelata ini. Entah apapun itu. Khayalan, ternyata kami berdua adalah titisan dewa dewi khayalan, pemuja segala nikmat hidup. 
Dia selalu mendoktrinku dengan sebuah pesan, yang dia bilang kalimat ini pernah dituturkan dari seorang berpengaruh di dunia, tapi aku lupa siapa 😀

” hiduplah seperti sepeda, kayuh saja terus meskipun banyak rintangan di depan, tak apa sepedamu goyah tapi masih berdiri, tidak berhenti, diam dan kemudian jatuh”

Entah kenapa, aku terjebak dalam kalimat itu. Ya, life is never easy as it seems. Kalo hidup itu mudah, maka Tuhan tidak akan menciptakan kita. Jika hidup itu kayak aspal sirkuit Serpong ya tentu saja semua orang bisa jalan mulus, itupun masih bisa dibalap oleh yang lain. Jadi ya begitulah hidup, kita ada untuk menaklukan cobaan. Dan kami berada pada fase yang tidak mudah, sepertinya.

Pernah ga sih kamu dipertemukan sama seseorang yang ternyata bisa baca pikiranmu tanpa harus panjang lebar kamu bercerita kamu mau apa? atau mengucapkan satu kalimat secara bersamaan saat melihat suatu objek berulang kali tanpa disengaja?
Kami mirip. Perspektif kami dalam memahami sesuatu, dalam membaca situasi dan menjaga perasaan seseorang. Apa yang aku pikirkan, itulah yang dia cemaskan. Begitu juga sebaliknya.

Hhh…
Dia bukan seorang yang acuh terhadap apapun yang dia miliki. Dia adalah pemikir. Tapi untuk urusan ini, entah kenapa dia tidak membara seperti saat dia menceritakan kampung halamannya, kegiatan kampusnya, atau musik favoritnya. Seperti ada bendera putih berkibar di atas kepalanya. Kepala kami tepatnya.

Susah memang.
Kami sama-sama berada di kereta. Tapi sayang, tujuan kami berbeda. Padahal kami suka naik kereta daripada naik pesawat. Entahlah apa itu ada korelasinya atau tidak. 

Semester tujuh, kehidupanku disabotase olehnya. Sibuk untuk mencari jati diri. Haus untuk belajar dan bercerita. mempelajari apa sih art keluarga, persahabatan, dan cinta.

Tapi ya apa daya. Kami berbeda.
Sebuah keyakinan yang telah menjadi jeruji bagi kami belum bisa mempertemukan kami di sebuah kebebasan abadi. Ini hanya semu, mungkin.

Sakit sih.
Pedih pasti.

Tetiba aku lemas. jemariku bergetar.
Untuk yang satu ini, aku tidak bisa secerewet biasanya memang.
:’)


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s