story about love…

ini hanya ungkapan rasa, yang mungkin akan terwujud.


aku berdiri. sedikit tercengang seakan tak pernah percaya jika hari ini terselip di antara ratusan bahkan ribuan hari-hari yang aku lewati. jika akhirnya waktu yang aku damba dan aku impikan ini datang menyambutku.
subuh itu, matanya, cara dia berjalan ke hadapanku, ke depan mataku, sampai akhirnya aku bisa katakan selamat datang…


sebuah percakapan yang diawali dengan basa basi antara dua manusia. namun jelas terlihat pandangan yang haus akan waktu. lapar akan sebuah pertemuan.
dia memandangku, menatapku dan memberiku senyuman yang lama sekali kurindukan. lalu sesekali aku tantang senyuman itu dengan lawakan hingga kubawa senyumannya menjadi tawa.


waktu terasa cepat, aku berada disampingnya. aroma rokok sangat lekat ditubuhnya. namun baru kali ini kunikmati dalam-dalam, kurasakan benar aroma tubuhnya. aku hanya memperhatikannya yang konsentrasi bekerja di depan laptop, sesekali aku menggodanya dan memaksanya memperhatikan aku yang sedari tadi tak dihiraukannya. kumainkan laptopnya untuk mencuri perhatiannya namun tidak juga bisa berhasil membuatnya berhenti memencet tombol-tombol huruf di laptopnya. sampai akhirnya senjata terakhirku. ngambek.
ya aku ngambek, dan berjanji tidak akan menemaninya. lalu kurasakan hangat tangannya memelukku dari belakang. hembusan nafasnya di leherku, membisikkan sebuah kalimat. bukan, bukan kalimat tapi hembusan nafas yang tebal…


dia tertawa, dia tersenyum.


detik itu, aku merasa sebagai wanita paling sempurna di dunia ini. seakan miliknya, dijadikan ratu, putri paling cantik dan paling bahagia yang pernah ada di dunia. tak juga dia lepaskan pelukan itu. dengan halus dia mengusap punggung tanganku. sentuhan itu penuh arti.


kami bercerita, seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru. penuh semangat. menyambar seperti petir yang tak mampu dihalangi oleh apapun. bercerita tentang apa saja yang bisa kami bagi dan kami jadikan alasan untuk tetap terjaga dan menguasai waktu. tertawa, bercanda…


aku terhanyut didalamnya tanpa bisa mengukur waktu. hingga aku ingin sekali menghadang waktu untuk tidak berjalan.


We’d spend the whole weekend lying in our own dirt
I was just so happy in your boxers and your t-shirt

-lily allen | littlest things-



ketika waktu mendaki, dan terus berjalan. aku tersadar.
dia masih berada disebelahku. namun kali ini aku mencium aroma lain yang sangat menusuk. ya, alkohol.
raut wajahnya berubah, sulit kutemukan guratan senyum di bibirnya. aku hanya melihat mata yang kemerahan, dan nafas berat yang menyelimuti udara di ruangan itu tidak bisa membohongi sebuah perasaan marah, kecewa dan emosi yang menguasai dirinya.


kutatap dalam matanya, menebak isi hatinya. ya, seperti yang kuduga. emosi.
kupeluk, kumenangis di bahunya.
hanya maaf yang bisa kututurkan, hanya sebuah perasaan bersalah yang bisa kuungkapkan.
bahkan aku tak mampu menjelaskan apapun, karena aku tau itu hanya membuatnya semakin sakit, terluka.
aku tak ingin menawarkan sebuah janji yang tidak sesuak ekspektasinya. aku tidak ingin membuatnya kecewa dan terluka untuk yang kesekian kalinya.


lalu dia meraih tanganku, mengusap airmataku, melihatku dalam, tersenyum…
semuanya membuatku semakin tersudutkan dalam sebuah perasaan bersalah yang akut.
aku hanya bisa menenggelamkan wajahku ke bahunya.
memeluknya erat tanpa ingin siapapun bahkan waktu merenggutnya dariku, meskipun akhirnya aku yang membuat waktu semakin cepat beralalu, aku yang menghapus waktu yang seharusnya bisa lebih lama kami nikmati.


waktu kami tinggal sejengkal.
aku hanya ingin membuatnya sempurna.
aku memintanya untuk memelukku, dia mengabulkannya. kali ini terasa kehangatan yang menjalar hingga ulu hatiku, hingga aku tak mampu menahan tangisku. tangis bahagiaku yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. aku ambil tangannya hingga kugenggam erat.

Wake you up in the middle of the night to say
I will never walk away again
I’m never gonna leave this bed

– maroon5 | never gonna leave this bed –

sampai akhirnya…
kumelihatnya…
entah kapan lagi aku bisa menikmati wajah itu…
wajah yang pernah kubenci sekaligus kucintai…
pribadi yang optimis…
punggung itu kemudian meninggalkanku di sudut suasana…


kalimat terakhir, aku hanya bisa menawarkan maaf…


aku hanya bisa menunggu ketika waktu dan suasana itu datang…
menagih sebuah pertanyaan dan jawaban yang belum bisa aku terjemahkan…


are you happy?

Advertisements

One thought on “story about love…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s