berjalan dan bahkan berlari terus tanpa henti.

kumenatap awan, memberanikan diri bertanya.
apakah kau pernah memperhatikanku? apakah kau pernah merasakan apa yang aku rasakan?
ketika kau menyelimutiku dengan panasmu. ketika kau meneduhkanku dibawah mendungmu.
terkadang awanpun malu.
ia bersembunyi dibalik hujan lalu meneteskan bulir-bulir ketentraman dalam nama hujan.

kembali aku menatap awan, kali ini aku menantangnya.
aku memperhatikanmu! aku sering mengeluh denganmu! aku sering marah bahkan murka karenamu!
pergilah awan, aku inginkan hujan!
aku memaki cahaya yang tak berhenti kau sibakkan. aku benci!
sembunyikan putihmu dibalik hitammu! aku inginkan hujan yang membuatku tentram meskipun membasahiku hingga tak lagi kutemukan kekeringan bahkan setitik.

aku melihat telapak tanganku.
menengadahkan tangan memujaMu.
menitipkan barisan barisan kalimat yang kusebut doa, lalu kulayangkan dengan mata terpejam. hanya untuk merasakan sesuatu yang kuyakini ada.
aku ingin awan menghantarkan segala asaku ini.
dalam hujannya, panasnya.

berikanlah barisan barisan kalimat ini.
dengan utuh.
karena akupun begitu, mengucapkannya tanpa terkecuali.
hujan. bawalah doa ini bersama luapanmu dan kembalikan layaknya hujan yang turun karenamu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s